Dihadapan para santrinya, Habib Hasan bin Ahmad
Baharun bagaikan sosok ayah. Bahkan lebih dari itu. Beliau selalu memberi
spirit dan motivasi dengan memberi hadiah pada murid yang rangking, sering
membagi buah-buahan dan makan bersama santri, waktu di wetan alun bahkan beliau
ikut antri untuk mengambil nasi saat akan makan bersama santri. Setelah selesai
beliau mencuci pirinya sendiri, tidak mau jika santrinyalah yang mencucikan.
![]() |
| Penulis Bersama Ust. Isma'il |
Sekitar jam sepuluh siang, dengan diantar oleh
salah seorang teman dari pasuruan, Tim reportase Majalah Langitan akhirnya bisa
bertemu dengan salah satu orang terdekat atau lebih tepanya tangan kanan Habib
Hasan Baharun, Ust. Isma’il. Beliau banyak menceritakan kisah tentang kehidupan
Al-Habib yang patut untuk dijadikan tauladan. Berikut penuturan beliau.
Bagaimanakah Sosok Habib Baharun?
Habib Hasan sangatlah sayang terhadap santri.
Waktu malam, dengan membawa rotan sendiri, beliau pasti membangunkan para
santri untuk bangun shalat tahajud. Kalau ada yang tidur lagi, beliau kembali
lagi sampai semuanya bangun.
Ust. Hasan selalu mempunyai metode-metode baru
untuk santri-santri yang kurang mampu dalam pelajaran, jadi semuanya menjadi
seolah mudah untuk dipelajari. Beliau seperti orang yang tidak pernah
istirahat. Sampai-sampai kita bingung “kapan beliau istirahat...”. Waktu
anak-anak kumpul di Masjid, beliau bilang “kalau kamu butuh apa-apa, ada yang
tidak dapat nasi, bilang. Kamu gedor rumah ustadz, walau malam”.
Dulu, pernah beliau membawa madu. Para santri
antri untuk mendapatkan madu dari beliau, dan
beliau sendiri juga yang menyuapi mereka.
![]() |
| Ust. Isma'il sedang bercerita tentang sosok Gurunya |
Bagaimanakah beliau dalam mendidik para
santri?
Ust. Baharun selalu menanamkan pada para santrinya untuk berlaku ikhlas “maa
kaana lillah, yamurru wa yastamir” sesuatu yang dibina, dibangun, dan
dimulai semata-mata karena Allah, nanti hal itu akan tumbuh dan berkembang.
Termasuk dalam hal membangun pondok, beliau senantiasa menjadikan keikhlasan
sebagai pondasi dari setiap amaliah yang beliau lakukan.
Dalam merekrut/seleksi guru pun, pertama kali
hal yang beliau perhatikan adalah keikhlasannya. Para guru yang baru mau
mengajar di pondok, diuji tingkat keikhlasannya, bahkan beliau tidak
memperhatikannya selama satu tahun. Beliau berpendapat bahwa “apabila gurunya
tidak ikhlas, maka akan menularkan ilmu yang tidak ikhlas”.
Pernah dulu saya dipanggil oleh beliau,
“Isma’il, ini kok banyak anak yang melanggar...”. Mendengar kalimat itu hati
saya seolah terpukul. Akhirnya saya sedikit tidur dan banyak bangun untuk
kontrol. Berselang satu bulan saya langsung kurus. Ust. Hasan akhirnya bilang
“Isma’il, semua pelanggaran yang anak-anak lakukan taruhlah dihati, habis tubuh
kamu nanti. Kalau kamu kontrol, ya kontrol. Tapi lewatkan dihati, nanti Allah
yang akan melihat dan memberi taufiq”.
Mungkin Ust. Isma’il bisa menceritakan
sifat beliau lainya?
Ust. Hasan itu orangnya cerdas dan halus kalau
menyindir. Pernah ada Majlis Taklim Alim Ulama’ Indonesia di Jawa Timur dan
oleh Bupati ditempatkan disini. Ust. Hasan akhirnya ceramah dengan manggunakan
bahasa Arab. Selang beberapa menit, meliahat banyak yang tolah-toleh, beliau
berkata “Bagaimana, saya teruskan pakai bahasa Arab atau bahasa Indonesia?”.
“Bahasa Indonesia bib”sahut seseorang. Akhirnya beliau berkata “Tadi sebenarnya
saya sudah lihat banyak yang tolah-toleh, tapi tetap saya upayakan pakai bahasa
Arab. Bahkan andai kamu semua tidak bisa bahasa Arab pun saya akan tetap dengan
bahasa Arab.
Karena saya malu terhadap murid-murid saya.
Mereka melihat tulisan yang saya gantung 3 hari yang lalu “Selamat Datang
Majlis Ulama’ Indonesia di Jawa Timur”, mereka pasti mengira bahwa yang namanya
ulama’ pasti berbahasa Arab. Wong murid saya yang bukan ulama’ saja
pakai bahasa Arab, apalagi yang ulama’?”. Pucatlah semua yang hadir disitu,
tapi tertawa. Setelah itu beliau tetap melanjutkan dengan berbahasa Arab.
Beliau sangat eman terhadap santri.
Dulu, pernah juga ada salah satu wali santri yang ingin mengambil anaknya,
walau belum pada waktunya. Ia mencoba memberi pengertian pada saya dan saya
jawab seperti yang telah diajarkan Habib Hasan. Hingga ia sedikit marah dan
berkata “pak ustadz, ini kan anak saya, kenapa kok repot saya mengambilnya”.
Saya berguman “benar juga..., anaknya orang kok kita putar-putar”. Akhirnya
saya bawa ke Habib Hasan, dan dijawab oleh beliau,
Begini bu, kenapa kok saya ikut marah, dulu kan
saya tidak kenal ibu, apalagi anaknya. Dulu ibu yang datang kesini, lalu ibu
bilang pada saya untuk menitipkan anak ibu sampai berhasil. Saya menerima itu
tidak hanya sekedar mengajar, tapi saya buat antara saya dan ibu seperti
parohan ladang. Ibu membawa benihnya kesini, titip ke saya. Saya yang punya
sawah, dan ini petani-petaninya (sambil menunjuk saya) yang kerja tiap hari.
Bibit itu sudah saya semaikan, saya tanam, kalau kering saya beri air, saya
buang rumputnya, saya beri pupuk dan obat tiap hari. Ibu tenang-tenang saja
dirumah. Sekarang buah padi sudah keluar, tapi belum ada isinya. Nggak taunya
ibu mau ngambil, ya pasti marah petaninya.
Seharusnya tanya dulu, “pak petani, bagaimana
sudah siap panen belum?”.“Oh, tunggu sebentar bu, belum matang”. Kan yang dapat
ibu, saya hanya dapat sebagian dari buah itu dan itu saya tunggu. Begini saja,
musyawarah dulu butuhnya apa, kalau memang benar-benar perlu bisa izin”.
Akhirnya ibu itu hanya meminta izin untuk anaknya.
[Muhammad
Ichsan]


Komentar
Posting Komentar