Sudah
hampir dua tahun jasad mulia Romo Yai telah meninggalkan kita, tapi kenangan
yang kita lalui begitu indah dan membekas hingga tak secuilpun yang akan rela
hilang begitu saja. Pada edisi kali ini kami akan mengangkat rubrik tausyiah
yang bertujuan untuk mengingatkan kita kembali dawoh-dawoh beliau sebelum
liburan, dua tahun yang lalu.
Di sini adalah dawoh beliau ketika para santri sudah menanti saat yang telah ditunggu sekian lama. Tepatnya sehari sebelum liburan, tepatnya lagi tanggal 12-juli-2011 M. Disini penulis mencoba menghadirkan kembali kenangan yang telah lama terkikis masa. Disini juga dilengkapi dengan bahasa jawa yang akan membuat kita bisa lebih merasakan akan kehadiran beliau pada waktu itu. Dan bagi teman-teman yang tidak bisa bahasa jawa mungkin bisa bertanya kepada yang bisa.
Di sini adalah dawoh beliau ketika para santri sudah menanti saat yang telah ditunggu sekian lama. Tepatnya sehari sebelum liburan, tepatnya lagi tanggal 12-juli-2011 M. Disini penulis mencoba menghadirkan kembali kenangan yang telah lama terkikis masa. Disini juga dilengkapi dengan bahasa jawa yang akan membuat kita bisa lebih merasakan akan kehadiran beliau pada waktu itu. Dan bagi teman-teman yang tidak bisa bahasa jawa mungkin bisa bertanya kepada yang bisa.
dan
mungkin bisa dipraktekkan.
1.
Jangan melihat siapa yang menulis, lihatlah
pada isi yang didalamnya merupakan kalimat kasih sayang dari Romo Yai.
2.
Anda harus membaca dengan sepenuh hati, pelan-pelan dan cermati, karena
setiap kata beliau adalah mutiara yang sangat rugi jika tidak diperhatikan. Dan
karena “ sesuatu yang keluar dari hati, akan diterima oleh hati”, Syaikhina
telah dawoh dengan sepenuh hati beliau, jadi jika anda membacanya dengan
hati pula maka akan semakin pekalah dawoh beliau di hati kita.
3.
Anda harus tetap mengingat dawoh beliau, walaupun sudah bertolak
dari sini. hal ini karena kalau dilihat sering sekali orang yang mendengarkan
tausyiah, ketika mendengarkan memang hadir, tapi ketika sudah bertolak dari
majlis, ia akan lupa.
4.
Anda harus bisa merasakan kalau syaikhina benar-benar dawoh didepan
anda. ( kalau dulu mungkin di mushola depan).
5.
Jangan menganggap ini Cuma biasa.
6.
Anda haruh benar-benar dalam keadaan konsentrasi .
Semoga secuil cuplikan ini bisa bermanfaat dan berkenan.
Langsung saja...................
Saat pagi masih menguning,
dan matahari baru mengintip. Hari itu adalah hari dimana kami akan menjalani
liburan akhir semester, entah mengapa semua begitu gembira. Setelah jama’ah
shubuh, tepatnya setelah membaca wirid, sosok berbaju putih itu menyuruh
seseorang untuk mengambilkan kursi yang berada disamping tempat pengimaman. Dan
setelah semua persiapan selesai sosok tersebut duduk dengan penuh kharisma.
Beliau adalah syaikhina yang dengan kelembutannya akan memberi wajangan kepada
santri-santrinya.
Assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh.
Bismillahirrohmaanirrohim, alhamdu lillaahir
rohmaanir rohiim, wassholaatu wassalaamu alaa asyrofil mursaliin, wa ‘ala alihi
washohbihi ajma’iin. Amma ba’du.
Porosantriku
kabeh, Alhamdulillah wa syukurillah, hingga hari ini kata masih diberi sehat wal ‘afiat dan semoga bisa
melakukan ‘ibadah, dibulan puasa dengan sempurna.
“amiin...”.
Kowe kabeh ape
prei, moleh, maka dari itu aku perlu memberikan tausyiah
kepada kalian semua, agar kalian tetap dalam istiqomah nglakoni ‘ibbadah sebagaimana dipondok, maka dari itu akan saya
berikan bekal, pandangan-pandangan atau pesan-pesan agar apa yang aku sampaikan
benar-benar di perhatikan, ngono yo…
“nggeh…..”.
Bocah-bocah
seng ape moleh supoyo :
Yang pertama
Jika ada yang punya tanggungan ( hutang ) kepada warung, toko,
teman, pondok dan lain sebagainya, supaya dibayar sebelum pulang. Jika ada uang
yang lebih untuk pergi pulang maka cepatlah untuk menyaurnya. Atau jika
kamu menjadi pengurus pondok, ketua kelas atau sebuah kumpulan, kemudian kamu
mamakai uang yang dipasrahkan kepadamu, jika ada uang, ya harus
dikembalikan dan jika tidak ada maka kamu harus transparan (terbuka /terang-terangan), bilang kepada teman sesama pengurusmu
bahwa kamu masih membawa uang “uang ini masih aku bawa segini”.
Mengapa harus seperti ini ?.
Oleh: Mass Kalampayan
Baca Lanjutannya di sini

Komentar
Posting Komentar