Dulu, ketika
masih sekolah SD saya selalu diajarkan untuk menjadi orang yang bersikap “Yang tua
menyayangi yang muda dan yang muda menyayangi yang muda”. (Sebenarnya agak
terbalik). Kalimat ini terus terdoktrin dihati saya sejak kecil. Entah itu
sudah menjadi etika atau hanya sekedar budaya.
Dulu lagi, waktu masih duduk dibangku MI tradisi ini begitu kentara dihati saya. Ya, saya begitu menghormati yang tua (nggak sombong lho…), sampai-sampai nggak guru pun saya berhenti, berdiri dengan tujuan menghormati. Walau pada akhirnya harus kecele pada waktu itu. Dan asal tahu saja (bukan bangga) saya kayaknya (agak lupa sih) “juga disayangi”. (jangan ngiri lho….. dulu saya juga unyu-nyu).
MtsF. Sikap ini
semakin kental hingga menjadi sebuah dedikasi yang dijunjung tinggi. Bukan itu
saja, santri dituntut untuk cinta. Dlohir dan bathin.
Di priode
selanjutnya, entahlah. Semua seperti terbalik 120 derajat. Gengsi terlalu
membuncah untuk sekedar hormat, ambisi begitu besar untuk sekedar khidmat. Di
priode ini seperti sebuah tuntutan besar untuk menjunjung tinggi harga diri.
Dibalik itu semua, rasa sopan seolah terdegradasi rasa congkak. Lalu benarkah
ini tujuan pada tingkat yang lebih tinggi?.
Dewasa, alasan
utama sebuah tuntutan. Yang tua jadi malas pada yang muda meski untuk sekedar
sapa. Yang muda jadi malu dan sungkan pada yang muda meski sekedar
melirik mata. Kamu adalah kamu, kelompokku ya kelompokku. Semua jadi
merrepotkan. Andai bisa jadi kecil lagi, tentu tidak serumit dan sesulit ini,
bukan?.
Semoga,
mendekati liburan ini jiwa kita bisa tergugah untuk berubah, hingga bisa
menggai khusnul khotimah dalam bersikap shalihah. Hingga sikap
kita tidak terbawa sampai rumah hingga membuat
gerah orang tua yang mendambakan pada kita berbagai ilmu yang membuncah.
Juga bisa merubah lebih baik sopan santun dan kasih sayang kita yang terlalu
mahal untuk sekedar melongok dalam dunia nyata bukan hanya angan-angan belaka.
oleh Mass Kalampayan

Komentar
Posting Komentar