Pimpinan dan Burung Pipit

Simpel saja, kita tidak akan membahas tentang “bagaimanakah pemimpin?”, “caranya?” atau lain sebagainya. Kita juga tidak akan membuang waktu untuk mengkaji “siapakah pemimpin?” ataupun “yang dimaksud dengan pemimpin?” dengan makna yang tertera dalam KBBI atau pendapat para insinyur ataupun para dokter, ilmuan dan penyair bahasa. Kita hanya akan mengambarkan ke-eksistensi-an pemimpin dengan menyamakannya dengan burung pipit. Kok bisa?!.
Pemimpin adalah sebuah acuan. Dengannya segala program akan terlaksana, begitupula motto, visi dan misi akan bisa terealisasi dengan baik jika dipegang oleh pemimpin yang baik. Singkatnya, sebuah organisasi tanpa pemimpin adalah bagaikan burung tanpa kepala!.



Kita tidak akan memperpanjang pembahasan. Sekali lagi, simpel saja. Kita akan mengatakan pemimpin sebagai kepala burung pipit dengan kedua sayapnya yang selalu menyertainya. Sayap itulah yang selalu menyertai pemimpin untuk selalu menyokong program kerja agar terlaksana dengan baik. Atau bisa kita katakan, kata “program kerja” dalam bahasa burung sebagai “terbang”.
Bisa dibilang mereka adalah para penggede (pelindung, pembina, dll) organisasi. Organisasi tidak akan berjalan tanpa mereka --walau kadang bisa, tapi terkesan lamban--, sebagaimana burung pipit yang walaupun bisa berjalan, tapi tetap saja tidak akan bisa terbang.
Anggota akan selalu dibutuhkan untuk berjalannya sistem kerja dalam tubuh organisasi. Tanpanya, organisasi akan terkesan kosong, sebagaimana burung pipit tanpa badan. Memang bisa dibayangkan?.

Semua komponen ini (kepala, sayap, dan tubuh) wajib ada. Karena jika salah satunya tidak ada tentu akan berat sebelah. Dan tentunya semua rencana yang telah dibangun akan terhambat bahkan mengalami kegagalan.
Semua komponen ini harus selalu eksis dalam menjalankan organisasi. Karena jika salah satu dari mereka terkena penyakit (malas, putusasa, pasrah, tidak peduli, dll.) tentu akan menular pada anggota yang lain, sebagaimana sakit mata yang semua tubuh pun akan merasakan sakit pula.
Atau kita contohkan dari sebagian kecil anggota tubuh, jantungan misalnya, maka ini adalah titik vital yang akan memberlambat atau bahkan menghentikan kinerja organisasi yang telah terancang dengan matang. Hal ini sebagaimana burung pipit yang terkena penyakit jantung misalnya, tentu akan sulit untuk berjalan, apalagi terbang.
Kepala sebagai acuan utama bukanlah main-main. Dia adalah input dari segala gerak. Tanpanya sayap tak akan mengepak, apalagi badan. Maka dari itu, seorang pemimpin haruslah benar-benar bisa mengatur segala gerak anggotanya secara teratur dan sesuai dengan visi dan misi. Jika tidak, maka sama saja dengan burung pipit linglung yang kebingungan menggerakkan tubuhnya, maka bagaimana mungkin semua rancangan akan bisa berjalan dengan baik?.
Kuasai Tubuh
Sebelum terbang burung pipit haruslah bisa mengatur segala gerak tubuhnya. Hingga ia bisa menguasai angin yang bergerak dan membuatnya terbang. Begitu juga pemimpin, ia harus bisa mengatur segala gerak visi dan misi dari para anggotanya sebelum mengaplikasikannya pada rakyat. Bagaimana mungkin bisa mengatur rakyat sedangkan mengatur sistem yang ada dalam organisasi saja tidak bisa. Sebagaimana burung pipit yang bermimpi untuk terbang dan menguasai angin, tapi dirinya sendiri cacat tak bisa bergerak. Mustahil, bukan?.
Tenangkan Angin Ribut
Burung pipit yang menginginkan terbang, tetapi dihadang oleh angin ribut yang membuatnya mustahil untuk melayang pun tidak bisa disalahkan. Solusinya, ia harus diam sebentar, menunggu angin itu tenang hingga waktu yang memungkinkan untuk terbang. Begitu juga pemimpin, rakyat yang memberontak, tidak tenang atau bahkan tidak mau menurut, pemimpin haruslah bersifat luwes, tenang sebentar, memikirkan bagaimana cara meredam mereka. Baru setelah tenang dan keadaan sudah memungkinkan, pemimpin bisa bergerak sebagaimana burung pipit yang terbang setelah redanya anging ribut.
Pemimpin Yang Baik
Pemimpin bukanlah pasti harus cerdas atau pun mempunyai bakat tertentu. Tapi bagaimana dia bisa menerapkan segala kemampuannya, pengorbanannya, instingnya, dedikasinya, dan lain sebagainya untuk organisasi tersebut. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa merangkul anggotanya agar bisa bersama-sama berjalan menuju yang diharapkan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik. Mereka adalah pemimpin yang tidak memikirkan kepentingan perseorangan dan selalu bersikap jujur serta terbuka terhadap anggotanya.
Contoh Saja
Bukan apa-apa. Ini hanyalah sekedar contoh saja, karena segala hal adalah pelajaran. Allah Swt. pun tidak menciptakan sesuatu kecuali sesuatu tersebut bernilai hikmah. Tinggal kita, bisa mengambilnya atau tidak? Bisa menerimanya atau tidak? Peka atau tidak?. Mari belajar menjadi pemimpin dari burung pipit. Dan ingat, jangan sampai ketika kita menjadi rakyat tapi malah menjadi angin ribut yang merongrong dari belakang!. Taatilah para pemimpinmu --selagi dalam jalur yang benar-- sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah Swt.
Ayo Jangan Sampai Salah Pilih

Setelah membaca dan memahami dialektika diatas, maka kita pasti sudah punya gambaran tentang siapakah mereka para pemimpin yang kita pilih ataupun yang sudah benar-benar terpilih menjadi pe

mimpin. Lalu, masalahnya sekarang apakah mereka seperti burung pipit yang bisa terbang dengan lihainya, dimana mereka bisa mengatur geraknya dengan leluasa dan penuh perhitungan yang matang?. WalLlaahu a’lam.

Komentar