Dawoh Romo Yai Abdullah Faqih Sebelum Liburan Part 2

Walaupun kamu pulang dengan niat kembali, dan secara dlohir kamu juga kembali karena orang tuamu juga tidak menyuruhmu dirumah, tapi seseorang itu tidak mengerti, terkadang ada udzur, seperti ternyata kamu dirumah ada halangan yang mengharuskan kamu tidak kembali kepondok sehingga kamu mempunyai tanggungan. Apalagi (maaf dan semoga ini tidak terjadi) ketika kamu pulang dirumah kamudian jalan-jalan bersama teman-temanmu naik sepeda motor kemudian kecelakaan dan mati. Dalam hal ini tanggunganmu semakin berat. Jika kamu mati dan mempunyai hutang, walaupun kamu orang yang baik dan sholeh, kita akan dipenjara malaikat sebagaimana orang hidup yang dipenjara polisi. Kamu tidak akan ditempatkan ditempat yang bagus.


Nabi pernah diaturi nyalatno wong mati seng anduweni utang, beliaupun bertanya:
 “ nduwe utang opo ora iki?”.
Dijawab “ nggadah kanjeng nabi “.
“ yo wes kono shalatono, aku ora melok nyolati”. Jawab beliau. Lho sampek kanjeng nabi gak kerso nyolati.
Akhirnya ada shohabat yang mengajukan  diri “ kulo kanjeng nabi seng nanggung utange”.
“ yo, kowe seng nanggung utange”. Setelah itu kanjeng nabi baru kerso.
Hal ini karena sangat pentingnya membayar hutang hingga seseorang jangan sampai mati meninggalkan hutang.
 Dan maka dari itu orang yang mempunyai hutang, hartanya tidak boleh diwaris dan melaksanakan wasiat dulu sebelum membayar hutang-hutangnya . wes faham iki?
          “Nggeh…”.
          Makanya jika kamu mempunyai hutang jangan diam-diam tapi bayarlah, dan jika kamu tidak punya uang (pas-pasan). Katakan yang sesungguhnya tentang keadaanmu. Belajarlah jadi orang yang amanah, belajar menjadi orang yang transparan, terang-terangan, dan tidak usah ditutup-tutupi.
          Yang Kedua.
          Kalau sudah pulang dirumah jangan seperti orang yang lepas dari penjara. Tidur tidak boleh seenaknya, kalau sedang tidur dan waktunya sudah jama’ah kalau di gugah ya harus bangun. Atau karena tidak ada yang mengawasi, sehingga kalian seenaknya saja tidak perduli dengan masalah ibadah, jangan begitu. Ayo, opo seng wes mok pelajari nok pondok iki terosno nok omah, ojo kok teros rumongso ucol teko kombong (kandang.) koyo pitek ucol teko kombongan teros buyar rono-rene, ono seng nggodak wadonan, ono seng mlangkring nok nduwor klurok-klurok, ono seng nggodaki kancane rono-rene, oyok-oyo’an panganan. Pitek teko kombongan lak biasane ngono lek isuk dicolno, yo to….
          “nggeh….”.
          Jangan sampai kamu semua tidak seperti santri sehingga “wah… prei,”. Semalaman melihat tivi, senang-senang, jangan sampai begitu. Dadi kudu ono perubahan, bedane teko pondok karo ora iku kudu bedo. Asalnya kamu dipondok giat jama’ah, kalau bisa ya diteruskan. Jama’ah di langgar, mesjid utowo mushola seng parek karo kowe, sak ora-orane ojo sampek tinggal salat. Waktunya sholat ashar, tidak ikut jama’ah terus tidak sholat, apalagi sholat shubuh, tidur terus, terkadang tidak ikut jama’ah terus bablas gak salat. Terus diqodlo’.
          Jika kamu ingat dalam artian tidak lupa ataupun tidak tertidur, teros sampek kepotan wektu iku doso gede, ora kok mek doso cilek. Kecuali kalau memang kamu lupa dalam artian tidak disengaja (njarak). Jika lupamu itu karena nonton karnaval hingga kamu lupa,bermain skak ataupun caramboll hingga lupa shalat Dzuhur ya tidak bisa dikatakan udzur. Yang dimaksud lupa adalah lupa yang benar-benar lupa, bukannya karena bermain ataupun senang-senang.
        
  Dosa besar meninggalkan sholat dengan disengaja. Contoh, mengikuti carnaval Agustus-an, sakdurunge manjeng ashar wes siap, engko sampek buyare, magrib wes ilang wektune.  Itu dosa besar. Atau santri-santri yang sekolah SMP ataupun SMA, belum sampai sholat ashar di musholah sekolahnya terus pulang, hingga lewat waktunya ashar, itu juga termasuk dosa besar. Dan itu jika di teruskan hingga menjadi biasa, itu juga dosa besar secara terus-menerus. Masalah salat ojo sampek semberono nggeh.....
          “nggeh…..”.
          Ayo dipondok dibiasakan jama’ah. di jaga dan diistiqomahkan, setidak-tidaknya jangan sampai kehabisan waktu. Jika memang sangat ngantuk, ya langsung shalat sendiri terus tidur, jangan sampai nggak sholat.
          Jangan sampai ketika dirumah terus kamu ikut-ikutan teman-temanmu. Temanmu merokok, kamu ikut merokok, jangan sampai. Kamu dipondok dididik untuk tidak merokok, terus kamu pulang ikut dengan teman-temanmu, kemudian merokok, akhirnya kamu dipondok ketagihan, hingga di res (cukur) terus disuruh berdiri, jangan sampai.
          jika ada anak yang dicukur karena merokok itu saya minta jangan sampai ada. Dadi lek ono bocah melanggar di res kerono roko’an iku sak temene atiku nelongso, tapi yo pie maneh wong pancene iki wes aturane pondok, melanggar yo dikon ngadek. Dan jangan sampai ada kejadian ketika liburan ada anak yang senang-senang, jalan-jalan kesana kemari, bersepedah bersama teman-temannya, hingga terjadilah kecelakaan seperti yang sudah-sudah, jangan sampai. Ojo sampek ono kejadian ngono yo…, mugo-mugo diparingi selamet kabeh…….
          “amiin….”.
          Pesanku jika kamu diajak teman-temanmu dirumah, terus kamu diajak jalan-jalan kesana-kemari bersama mereka yang tidak pernah mondok, atau pengalaman dipondok, atau tidak mempunyai budipekertinya santri yang berada dipondok, kamu jangan sampai ikut. Nanti malah akhlaqmu yang telah kau bina telah di pelajari selama dipondok menjadi rusak. Makanya kenapa tidak boleh libur lama-lama dirumah itu karena kuatir jika kamu dirumah, kemudian tingkah laku dan budipekertimu berubah.
          Bulan puasa diwajibkan harus kembali. Senajan riwa-riwi tapi ora tahu sue nok omah. preine kapan, kemis to?.
“Nggeeh….”.
“koe muleh kemis?”.
“nggeeh….”.
          Kurang satu hari harus sudah berada dipondok. Jangan sampai besok puasa tapi sekarang baru datang. Sukur kalau kurang dua hari sudah datang. Jangan sampai berlama-lama dirumah hingga puasa tidak kembali, sampai syawal baru datang (sampai 2 bulan). Hal ini kadang kadang yang menjadikan terpengaruh terhadap lingkungan atau teman-teman yang dulu sebelum mondok akhirnya berat untuk kembali kepondok atau pekerti yang telah dipelajari dipondok seterusnya akan rusak. Jadi ketika bulan puasa tetap diwajibkan untuk kembali, walaupun dipertengahan puasa akan pulang lagi, jadi separoh dipondok, separoh dirumah. Atau syukur jika bisa dipondok sampai akhir, kemudian syawal kembali kerumah.
          Yang Ketiga   (jangan merokok dan ikut teman-teman berakhlaq buruk).

          Di zaman sekarang banyak sekali bocah-bocah SMP pamit belajat tapi malah minum-minuman keras, ono seng sampek nggunakno piel, pel koplo…, opo pel koplo iku?.......

Komentar