Pulang, mau apa ya…?

Hallo remaja, apa kabar nih?. Baik kan?. Gimana rasanya mau pulang ke rumah?. Em…, pasti ada yang sedih, susah, senang dan lain-lain. Tapi aku yakin mayoritas pasti senang. Eh, ngomng-ngomong apa saja sih yang kamu lakukan dirumah?.
     
       Em……… mbantu mama?
            Em…….. cuman tidur?
            Em……… ngapali pelajaran?
            Em………… apa lagi ya?
 A….  pasti banyak banget yang remaja lakukan dirumah. Tapi, baik nggak sih? Positif, atau malah negative?



Ayo berjuang
Ayo, jangan hanya tidur dan ngelantur. Jangan hanya nonton tivi ataupun main-main. Tapi buktikan kalau kamu telah berubah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Lalu, dengan apa sih, itu semua?.
Yaitu dengan melakukan segala sesuatu yang udah kamu lakukan dan biasakan di pesantren. Nggak usah muluk-muluk mau ceramah ataupun berdakwah, soalnya itu malah akan sangat membingungkan di masyarakat.
Gimana sih, niatku kan da’wah. Masak nggak boleh?.
Aduh remaja, sadar kita itu masih kecil, belum tahu medan. Kalian harus tahu kalau masyarakat itu akan menganggap kita sebagai panutan. Lihat saja, ketika kita bergerak ataupun berucap, meskipun tanpa dasar, itu akan menjadi sebuah hujjah. Toh bagaimana jadinya jika masyarakat melihat kita masih amburadul, eh kita malah sok menuntun kejalan kebaikan. Kan nggak lucu.
Janganlah kita menjadi lilin. Menerangi tapi malah terbakar. Seolah berada dalam cahaya, eh nggak tahunya berada dalam kegelapan.
Banyak sekali contoh yang sudah terjadi, ketika seorang santri yang tidak tahu akan medan da’wahnya dan langsung terjun dengan metode yang walaupun diterapkan dipesantren, mereka malah dibenci masyarakat dan tidak dianggap. Dan karena masyarakat itu menilai bukan hanya dari ucapan. Tapi yang penting adalah dari perilaku. Masak ketika seseorang telah memerintah shodaqoh, eh dianya malah pelit. Ketika memerintah menutup aurat, eh malah buka-bukaan. Ataupun ketika memerintah ro’an, eh dianya malah santai tak peduli. Maka masyarakatpun akan melihat sinis.
Beda dengan orang yang memang sudah mempunyai pengkat ataupun pengaruh ( gus /kiai ) atau seseorang yang berada dalam medan da’wah yang sudah faham, maka boleh saja ia berkata walau belum berbuat. Tapi tetap harus dengan niat ingin mengamalkan apa yang ia ucapkan.

Berawal dari intropeksi
Sebelum menasehati orang lain, ada baiknya kalau kita menasehati diri kita dahulu, sudah baikkah kita?, atau masih buruk?. Misalnya ketika kita memerintah untuk shodaqoh, eh kita ternyata terkenal dengan seorang yang pelit. Apakah orang lain akan percaya?, bukankah itu akan hanya menjadi omong kosong?. Beda kalau kita memang sering shodaqoh, ketika kita berbicara pada orang lain untuk melakukan shodaqoh pasti orang lain akan percaya.

Harus mempunyai qolbun saalim
Faktor lain adalah kita harus mempunyai qolbun saalim (hati yang selamat dari penyakit) sehingga tidak akan terjadi permusuhan. Karena memang sudah banyak seseorang yang berjuang namun tidak mempunyai hal ini, yang terjadi hanyalah pemusuhan dan pertentangan.

Harus ikhlas
Sebenarnya hal ini sangatlah rumit. Dan ikhlas merupakan hal yang menjadi diterimanya perkataan seseorang.
Kesimpulanya, ketika pulang kita harus selalu berfikir sebelum bertindak ataupun berbuat. Walaupun pantas dipesantren, tapi di masyarakat tidak pantas, usahakan untuk menjauhi. Ataupun sebaliknya, pantas dimasyarakat tapi tidak pantas dipesantren ataupun sampai melanggar batas syara’, maka harus melalui pendekatan lemah-lembut dan sifat sakho’ sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Kesimpulan utama adalah kita harus berda’wah dengan ilmul haal (sebagaimana dawoh Romo Yai), walau kemungkinan mengharuskan dengan lisan. Gimana remaja, siap?.

Oleh: Mass Kalampayan (Muhammad Ichsan)

Komentar