Melukis Senyum

Senyum itu simpel, semua orang bisa melakukannya. Tapi penerapannya memang butuh sebuah latihan. Untuk menjadi orang supel saja amat sulit jika tidak berada dalam lungkungannya, bisa dibilang “bawaan lahir”!?


Bisa saja membangun karakter yang tidak kita miliki. Toh, apa salahnya kita menjadi “bukan diri kita yang sebenarnya”, jikalau memang itu dibutuhkan. Semua orang tentu memiliki keluhan sikap pasif terhadap orang lain. Merasa salalu salah, canggung, kurang PD, merasa diawasi, berlebihan dalam berpenampilan agar tidak dibilang “culun”?


“Merasa”, itulah diri kita. Kekuatan pe-rasa-an memang begitu kuat, karena dari itulah karakter seseorang akan muncul. Orang yang merasa selalu salah akan selalu mencari “selalu benar” dalam kehidupan mereka. Orang yang takut dicela akan berusaha melakukan hal sebaliknya. Tentu akan menjadi masalah tersendiri bagi mereka yang selalu merasa “terkucilkan” dari yang lainnya, sebab sikap pasif dalam diri mereka. Mereka menjadi sering salah tingkah, tidak punya prinsip, dan selalu berubah haluan dalam panutan. Dan ini memang karakter.

Orang yang supel cenderung selalu mencari teman dalam kesehariannya. Ketika naik bis, jika ada seseorang yang walau pun tidak mereka kenal duduk disamping mereka, pasti mereka akan mengajak bicara atau paling tidak bertukar sapa dan melempar senyuman. Berbeda dengan mereka yang cenderung kurang bisa bergaul, mereka akan acuh, cuek, dan memilih diam.

Kita berpenampilan baik agar dinilai baik orang lain, bersikap baik agar mendapat balasan baik orang lain, mencintai agar dicintai, tersenyum untuk mendapat senyuman, menyapa untuk mendapat sapa. Hanya saja terkadang kita malu dan menunggu orang lain memulainya, padahal orang lain itu sedang menunggu kita untuk memulai. Lalu kenapa tidak kita yang memulai?! mengapa kita terlalu gengsi?! mengapa kita menganggap diri kiti seolah-olah adalah segalanya?!

Senyum adalah anugrah, darinya ada nilai sedekah, mengapa berat?. Ya, mungkin itu karena ego kita, atau paling tidak sifat pasif yang kita pelihara dengan baik hingga mengakar menjadi congkak? Hem…… mungkin.

Penulis adalah alumnus Pondok al-Maliki

Komentar