Banyak sekali
cara seorang yang menuju jalan Allah (saalik) untuk mendekatkan dirinya pada
yang ia cintai (Allah Swt). Dan sabar adalah salah satunya. Sabar merupakan salah
satu dari maqamah as-salikin (tingkatan orang yang menapaki jalan makrifat)
yang diibaratkan sebagai dua hal yang saling berlawanan. Yaitu, ba’itsu ad-diin
(pendorong agama –positive-) dan ba’itsu al-hawa (pendorong hawanafsu –negative-).
Setiap yang berlawanan pasti ada yang menang dan kalah. Ketika ba’itsu ad-diin
mengalahkan ba’itsu al-hawa, maka akan terwujudlah sebuah keadaan
yang disebut dengan “sabar”.
Hanya Manusia
Sabar merupakan
sifat khusus yang hanya dimiliki manusia, karena hanya merekalah yang
diciptakan dengan dibekali akal dan nafsu yang saling berlawanan. Sebab perlawanan
itulah sifat sabar akan terwujud. Hewan hanya dibekali nafsu, seluruh gerakannya
dikendalikan oleh nafsu dan syahwat. Ia tidak memiliki kekuatan untuk mengelak dan
melawan keinginan nafsunya, hingga dengan kekuatan tersebut ia bisa melawan dan
memunculkan sifat “sabar”.
Begitu
pula para malaikat, seluruh gerak dan waktunya hanya digunakan untuk mengabdi kepada
Allah Swt. tanpa harus melawan nafsu.
Mendorong Sabar
Telah dijelaskan
bahwa sabar adalah suatu keadaan di mana ba’itsu ad-diin mengalahkan ba’itsu
al-hawa. Seorang saalik yang ingin mencapai tingkatan sabar haruslah
mengalahkan nafsunya, dan menguatkan ba’itsu ad-diin yang ada di dalam dirinya.
Ia harus melakukan suatu langkah untuk melemahkan hawa nafsu (tadh’ifuba’itsi
al-hawa), dan menguatkan pendorong agama (taqwiyatu ba’itsi ad-diin).
Untuk itu
ia harus melakukan taktik khusus agar bisa melemahkan hawa nafsu. Ada tiga cara
bagi saalik yang ingin melemahkan nafsunya.
Pertama;
dengan memutus sumber kekuatan nafsu atau
syahwat, yaitu makanan dan minuman. Cara seperti ini adakalanya dengan memutus dari
segi kandungannya (seperti daging, telur, atau kacang-kacangan), atau pun dari segi
banyaknya (seperti dengan melakukan puasa, berbuka secukupnya, atau mengurangi porsi
makanan).
Kedua; menghindari pandangan (hati dan mata) dari
hal-hal yang bisa menggerakkan nafsu seperti memandang wanita, atau pun melihat
gambar-gambar yang memancing nafsu. Juga, dengan menghindari harta yang
melimpah atau pun jabatan yang tinggi sehingga nafsunya tergerak untuk memilikinya.
Cara kedua seperti ini bisa dilakukan dengan ber-uzlah (mengasingkan diri)
dari tempat yang memungkinkan nafsunya bergerak.
Berhati-hatilah
dengan pandangan, karena pandangan merupakan anak panah iblis yang beracun. Ia bisa
menggerakkan hati, dan hati akan menggerakkan nafsu.
Ketiga; menghibur nafsu dengan memenuhi keinginannya
selama itu di perbolehkan dalam syariat, seperti menikah atau pun lainnya. Karena
segala hal yang diinginkan nafsu secara manusiawi (thab’i), pasti masih dalam
cakupan mubahat (dipebolehkan).
Meningkatkan ba’itsu ad-diin
Setelah melemahkan
hawa nafsu (tadh’ifu ba’itsi al-hawa), seorang saalik yang ingin mencapai
tingkatan sabar juga harus menguatkan ba’itsu ad-diin. Ada dua cara agar
ba’itsu ad-diin bisa semakin kuat yaitu,
Pertama;
mengingatkan pada diri sendiri akan faidah
mujahadah (memerangi hawa nafsu) dengan mengingat dan bertafakur tentang ayat
al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan fadilah sabar. Allah Swt berfirman: “Bersabarlah
kalian semua, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (QS.
al-Anfal: 46).
Di dalam
hadis Nabi Saw bersabda: “Kalau saja sabar adalah seorang laki-laki, tentu ia
akan mulia. Dan Allah cinta terhadap orang yang sabar.”(HR. Thabrani)
Kedua; membiasakan diri untuk melawan hawa nafsu,
sedikit demi sedikit. Hingga ia bisa merasakan lezatnya mengalahkan hawa nafsu.
Para atlet angkat besi saja mampu mengangkat beban begitu berat. Berlatih mengangkat
mulai dari satuan kilo, puluhan kilo, hingga ratusan kilo. Melawan nafsu juga perlu
latihan, hingga saalik terbiasa untuk meninggalkannya dan nafsu tidak lagi
merongrong ba’itsu ad-diin yang ada dalam dirinya.
[Muhammad
Ichsan&SamihMamduh; disarikan dari pengajian Kitab Ihya Ulumuddin
yang
diasuh oleh KH. Abdullah Habib Faqih]

Komentar
Posting Komentar