Bayangan kita sekarang merupakan wujud dari impian masa
depan. Setinggi cita-cita itulah kita meraih sebuah anugrah kehidupan. Semakin
tinggi cita-citanya akan semakin tinggi jenjang keilmuannya, bukan lamunannya.
Pernah penulis bertanya pada beberapa orang tentang langkah hidup yang akan diambil setelah menyelesaikan studinya, dan jawabannya memang berfariasi. Untuk sekolah umum, memang rata-rata memilih
Hidup
berawal dari mimpi, ilmuan adalah orang dengan imajinasi super tinggi. Sebelum
telefon tercipta, komunikasi tanpa mengenal jarak sudah dikhayalkan oleh
orang-orang sebelumnya. Lalu khayalan itu diracik dengan bumbu pengetahuan oleh
penemunya, dan terus dikembangkan sampai sekarang seperti yang kita kenal.
Begitupula pesawat terbang, alat cetak, televisi, semuanya adalah sebatas
khayalan yang dulunya mustahil terwujud, bukan?
Saatnya
Merubah Dunia
Nggak ada salahnya ingin
menjadi Thomas Alfa Edison kedua, nggak ada salahnya ingin menjadi penerang
dunia selanjutnya. Genius adalah 99% usaha keras. Seberapa tinggi cita-cita dan
usaha keras untuk menggapainya, adalah kadar cerahnya kita untuk menerangi
dunia. Thomas Alfa Edison dengan 1.093
penemuannya hanya tidur 4 jam sehari, dan menghabiskan seluruh hidupnya di
laboratorium. Bagaimana dengan kita yang dengan cita-cita luhur menegakkan
panji-panji Islam?
Meresapi Waktu
Orang yang bekerja, berkata
“waktu adalah uang”, pelajar akan berkata “waktu adalah imu pengetahuan”, dan
orang islam akan berkata “waktu adalah manifestasi untuk mendapat kan ridlo Allah
SWT”. Memang benar, dalam kehidupan setiap orang butuh “waktu santai” agar
tidak monoton hingga bosan. Tapi tidak semua santai harus bersifat “membuang
waktu”. Ada saja sebuah alasan “santai” bisa menjadikan sebuah manfaat
tersendiri.
Kita meniti waktu bukan untuk
dibuang dengan percuma. Kita meniti waktu agar ada suatu menfaat dan atsar/bekas
pada keesokan harinya. Dimana bekas tersebut bisa kita miliki dan kita
manfaatkan baik ntuk diri kita sendiri atau pun orang lain. Waktu adalah pedang,
dengannya “pahlawan” tercipta. Membuang waktu yang tidak meninggalkan bekas
merupakan sebuah kekosongan, yang terbentuk dalam jiwa atau pun alam nyata.
Meniti Kehidupan
Wamaa
kholaqtu al-jinna wa al-insa illa liya’budun. Kita memang hidup di dunia,
tentu juga butuh dunia, asal tidak membuat kita lalai apalagi alpa. Bagaimana
kita meniti kehidupan ini selalu dalam ridlo-Nya. Bagaimana kita di ridloi,
dikenal, dicinta, hingga wushul pada-Nya. Semua adalah proses perjalanan
panjang kehidupan di bawah naungan Qadla’ dan Qadar Sang Kuasa.
Tidak terkecuali guru-guru kita, bagai mana kita diridloi, dikenal, dicinta,
dan apakah kita selalu membaca fatihah demi menyambung tali jiwa spiritual yang
terpaut dengan mereka?
Jangan Jadi Arsip
Terserah
ingin jadi siapa, Imam al-Ghozali ataukah Leonardo De Vinci. Atau nama-nama
ilmuan lain yang menerangi dunia ini dengan penemuan dan karya mereka. Asal
jangan sampai kita tidak jadi siapa-siapa hingga ketika ajal menjemput,
berakhirlah semua kehidupan. Tidak ada yang mengingat, tidak ada yang bisa
mengambil manfaat, hanya tinggal seonggok tanah berlapis batu nisan yang kering
kerontang, bahkan anak-anak kita pun tidak ingat!
Tentu saja
ini relative, Imam al-Ghozali tentu beda kasta dalam agama dengan Leonardo De
Vinci walau pun sama-sama ilmuannya. Toh, banyak juga para waliyullah
yang menginginkan diri mereka mastur agar tidak diketahui banyak orang.
Yang penting, jangan jadikan jiwa dalam diri kita gersang, hingga bagaikan
mayat yang hidup dipermukaan tanah! [Mass Kalampayan]

Komentar
Posting Komentar