Meretas Asa, Merubah Dunia, Meraih Surga… Mau?

Bayangan kita sekarang merupakan wujud dari impian masa depan. Setinggi cita-cita itulah kita meraih sebuah anugrah kehidupan. Semakin tinggi cita-citanya akan semakin tinggi jenjang keilmuannya, bukan lamunannya.

            Pernah penulis bertanya pada beberapa orang tentang langkah hidup yang akan diambil setelah menyelesaikan studinya, dan jawabannya memang berfariasi. Untuk sekolah umum, memang rata-rata memilih
menjadi PNS, melamar perusahaan sana dan sini, atau lainnya karena memang rata-rata tujuannya hanyalah sebatas pencarian materi. Tapi yang sangat disayangkan adalah ketika seorang yang notabenenya “santri”, jika ditanya tentang tujuan hidupnya, ia tidak mempunyai langkah ataupun plening kedepan dalam hidupnya. Bahkan ada yang bilang cuma buat “kerja”!? Ya Robb…. aina aja ente khy!

            Hidup berawal dari mimpi, ilmuan adalah orang dengan imajinasi super tinggi. Sebelum telefon tercipta, komunikasi tanpa mengenal jarak sudah dikhayalkan oleh orang-orang sebelumnya. Lalu khayalan itu diracik dengan bumbu pengetahuan oleh penemunya, dan terus dikembangkan sampai sekarang seperti yang kita kenal. Begitupula pesawat terbang, alat cetak, televisi, semuanya adalah sebatas khayalan yang dulunya mustahil terwujud, bukan?

            Saatnya Merubah Dunia
Nggak ada salahnya ingin menjadi Thomas Alfa Edison kedua, nggak ada salahnya ingin menjadi penerang dunia selanjutnya. Genius adalah 99% usaha keras. Seberapa tinggi cita-cita dan usaha keras untuk menggapainya, adalah kadar cerahnya kita untuk menerangi dunia.  Thomas Alfa Edison dengan 1.093 penemuannya hanya tidur 4 jam sehari, dan menghabiskan seluruh hidupnya di laboratorium. Bagaimana dengan kita yang dengan cita-cita luhur menegakkan panji-panji Islam?


Meresapi Waktu
Orang yang bekerja, berkata “waktu adalah uang”, pelajar akan berkata “waktu adalah imu pengetahuan”, dan orang islam akan berkata “waktu adalah manifestasi untuk mendapat kan ridlo Allah SWT”. Memang benar, dalam kehidupan setiap orang butuh “waktu santai” agar tidak monoton hingga bosan. Tapi tidak semua santai harus bersifat “membuang waktu”. Ada saja sebuah alasan “santai” bisa menjadikan sebuah manfaat tersendiri.
Kita meniti waktu bukan untuk dibuang dengan percuma. Kita meniti waktu agar ada suatu menfaat dan atsar/bekas pada keesokan harinya. Dimana bekas tersebut bisa kita miliki dan kita manfaatkan baik ntuk diri kita sendiri atau pun orang lain. Waktu adalah pedang, dengannya “pahlawan” tercipta. Membuang waktu yang tidak meninggalkan bekas merupakan sebuah kekosongan, yang terbentuk dalam jiwa atau pun alam nyata.

Meniti Kehidupan
            Wamaa kholaqtu al-jinna wa al-insa illa liya’budun. Kita memang hidup di dunia, tentu juga butuh dunia, asal tidak membuat kita lalai apalagi alpa. Bagaimana kita meniti kehidupan ini selalu dalam ridlo-Nya. Bagaimana kita di ridloi, dikenal, dicinta, hingga wushul pada-Nya. Semua adalah proses perjalanan panjang kehidupan di bawah naungan Qadla’ dan Qadar Sang Kuasa. Tidak terkecuali guru-guru kita, bagai mana kita diridloi, dikenal, dicinta, dan apakah kita selalu membaca fatihah demi menyambung tali jiwa spiritual yang terpaut dengan mereka?

Jangan Jadi Arsip
            Terserah ingin jadi siapa, Imam al-Ghozali ataukah Leonardo De Vinci. Atau nama-nama ilmuan lain yang menerangi dunia ini dengan penemuan dan karya mereka. Asal jangan sampai kita tidak jadi siapa-siapa hingga ketika ajal menjemput, berakhirlah semua kehidupan. Tidak ada yang mengingat, tidak ada yang bisa mengambil manfaat, hanya tinggal seonggok tanah berlapis batu nisan yang kering kerontang, bahkan anak-anak kita pun tidak ingat!


            Tentu saja ini relative, Imam al-Ghozali tentu beda kasta dalam agama dengan Leonardo De Vinci walau pun sama-sama ilmuannya. Toh, banyak juga para waliyullah yang menginginkan diri mereka mastur agar tidak diketahui banyak orang. Yang penting, jangan jadikan jiwa dalam diri kita gersang, hingga bagaikan mayat yang hidup dipermukaan tanah! [Mass Kalampayan]

Komentar