Nabi Muhammad SAW. adalah orang yang memiliki
selera tinggi dan berperasaan halus. Semenjak memasuki ramaja, beliau SAW.
sudah mulai mencari rezeki dengan mengembalakan kambing milik kaumnya. Beliau
pernah bersabda “Aku dulu mengembalakan kambing penduduk Makah dengan upah
beberapa qirath” (HR. Bukhori).
Saat
itu beliau masih berusia dua belas tahun, saat dimana paman beliau, Abu Thalib,
mengajaknya pergi ke Syam bersama rombongan kafilah dagang. Saat melewati
Bashra,
mereka bertemu dengan seorang pendeta yang banyak mengetahui kitab
Injil dan berbagai masalah ke-nasrani-an. Namanya Bahira, ia melihat Nabi SAW.,
mengamatinya dan mengajak bicara. Ia pun bertanya pada Abu Thalib,”Apa status
anak ini di sisimu”. Abu Thalib menjawab “Dia anakku”. “Dia bukan
anakmu. Tidak sepatutnya ayah anak ini masih hidup” sanggah Bahira.
“Dia anak saudaraku” kata Abu Thalib. Sang pendeta bertanya lagi “Apa
yang telah dilakukan ayahnya?”. “Ia telah meninggal sewaktu ibu anak ini
mengandung” jawab Abu Thalib. “Anda benar, bawalah anak ini pulang
kenegerinya dan jagalah dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya disini,
pasti akan dijahatinya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan menanggung perkara
yang besar” nasihat sang Pendeta. Abu Thalib pun akhirnya cepat-cepat
membawa Nabi kembali ke Makah.
Hikmah
Dan Pelajaran
Ada
beberapa hal yang bisa dijadikan ‘ibrah tentang tujuan beliau mencari
rezeki dengan mengembalakan kambing. Ada tiga hal yang bisa dibuat sebagai
pelajaran penting.
Pertama,
Allah
SWT. memperindah kepribadian beliau dengan sifat berperasaan halus dan
berselera tinggi. Sejak kecil beliau diasuh oleh sang paman dengan penuh kasih
sayang layaknya seorang bapak. Tapi hal itu tidaklah membuatnya manja. Begitu
merasakan kemapuan untuk bekerja, beliau langsung melakukannya dan berusaha
untuk meringankan beban sang paman. Meskipun hasilnya tidak seberapa bagi sang
paman, tapi hal itu merupakan akhlaq yang mengungkapkan rasa syukur, kecerdasan
otak, dan kebaikan perilaku.
Kedua, sangat
mudah bagi Allah untuk memberi segala sarana kehidupan dan kemewahan yang
mencukupi hingga nabi SAW. tidak lagi perlu memeras keringat. Akan tetapi hikmah
Ilaihi telah menghendaki agar kita
mengambil pelajaran bahwa harta terbaik adalah harta yang kita dapat dari usaha
sendiri, atau imbalan dari pelayanan yang telah kita berikan pada masyarakat.
Bukan harta yang kita peroleh tanpa susah payah, atau pun dengan tanpa
memberikan sebuah manfaat pada orang lain.
Ketiga, seorang
aktivis dakwah tidak akan dihargai manakala mereka menjadikan dakwah sebagai
sarana mencari rezeki, atau hidup hanya dengan mengharap sedekah dari orang
lain. Mereka adalah orang yang paling patut unuk mencari ma’isyah
(pekerjaan) sendiri, dengan tanpa ada unsur minta-minta, agar tidak ada kata
“berutang budi” hingga mereka malu untuk menyatakan kebenaran dihadapan
“investor budi”.
Tanda
Kenabian
Pendeta
Bashira menyuruh agar Abu Thalib membawa pulang nabi Muhammad SAW. agar tidak dijahati
oleh orang-orang Yahudi. Hal ini pun menunjukkan bahwa sebelum kenabian (bi’tsah),
sebenarnya orang-orang Yahudi sudah mengetahuai akan datangnya nabi yang
terakhir. Mereka (para Ahli Kitab –Yahudi dan Nasrani-) telah mengetahui bi’tsah
kenabian melalui tanda-tanda dan sifat-sifatnya, yang juga telah
termaktub dalam kitab mereka.
Sebelum
bi’tsah, mereka sering memohon akan kedatangan Rasulullah SAW. agar bisa
mengalahkan kaum Aus dan Khazraj. Mereka mengatakan “Sesunggunya, sebentar
lagi akan dibangkitkan seorang Nabi yang akan kami ikuti. Bersamanya kami akan
membunuh kalian sebagaimana pembunuhan yang pernah dialami oleh kaum ‘Aad dan
Iram”. Tapi tatkala mereka mengingkari atas kenabian Muhammad SAW, Allah
SWT.-pun berfirman”
“Dan
setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada
pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk
mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir. Setelah datang kepada mereka apa
yang telah meeka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas
orang-orang yang ingkar itu” (QS. al-Baqarah ayat 89).
Mengenal
Muhammad Melebihi Anak
Pernah
Sayyidina Umar r.a. bertanya pada Abdullah bin Salam (seorang ahli kitab yang
telah masuk Islam) “Apakah kamu mengetahui Muhammad SAW. sebagai mana kamu
mengetahui anakmu?”. Ia menjawab “Ya, bahkan lebih banyak. Allah
mengutus kepercayaan-Nya (malaikat) dilangit kepada kepercayaan-Nya (Nabi
Muhammad) dibumi dengan sifat-sifatnya, lalu saya mengetahui. Adapun anak saya,
saya tidak mengetaui apa yang terjadi pada ibunya”.
Dialog
ini terjadi setelah turun firman Allah SWT. “Orang-orang (Yahudi dan
Nasrani) yang telah kami beri al-Kitab mengenal Muhammad seperti mengenal
anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya, sebagian dari mereka menyembunyikan
kebenaran, padahal mereka mengetahui” (QS. al-Baqarah ayat 146).
Terjaga
Dari Perbuatan Jahiliyah
Allah
menjaga Nabi Muhammad SAW. semenjak mudanya dari berbagai penyimpangan yang
banyak dilakukan orang jahiliyah, seperti permainan nista atau pun hura-hura.
Allah menjaganya dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntutan dakwah.
Hadist
yang diriwayatkan oleh Ibnu Astir dan Hakim darim Ali bin Abi Thalib,
menunjukkan bahwa Allah SWT. selalu menjaganya dari keburukan jahiliyah. Rasulullah
SAW. tidak pernah menginginkan kebiasaan orang-orang jahiliah kecuali dua kali.
Setelah itu beliau tidak pernah menginginkannya hingga Allah memuliakannya
dengan risalah. “Tolong awasi kambingku karena aku akan memasuki kota
Makah untuk bergadang sebagaimana para pemuda” kata Nabi pada temannya saat
mengembala kambing. “Lakukanlah, aku akan menjaganya” kata sang teman.
Nabi pun keluar dan ketika sampai di rumah pertama di Makah, Nabi bertanya “Apa
ini?”. Para penduduk menjawab “Pesta”. Nabi duduk mendengarkan.
Allah kemudian menutup telinganya, lalu Nabi tertidur yang tidak akan
terbangunkan kecuali oleh sinar matahari. Nabi pun kembali pada temannya, lalu
mengabarkan tentang kejadian yang beliau alami. Esoknya, beliau melakukan hal
sama dan berakhir dengan hal yang sama pula. Setelah itu beliau tidak pernah
lagi menginginkan keburukan. [Mass Kalampayan]

Komentar
Posting Komentar