Esensi Taubat

Secara global, kata taubat dapat didefinisikan dengan arti kata nadam (penyesalan). Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang artinya “Penyesalan adalah taubat” (shahih ‘ala syarti syaikhoin). Adapun secara perincian, maka taubat adalah penjelasan dari makna yang terangkum dari tiga hal yang berurutan, yaitu ‘ilmu, haal, dan fi’lu. ‘ilmu akan memunculkan haal, sebagaimana haal akan memunculkan fi’lu.
 ‘ilmu adalah mengetahui besarnya bahaya dosa dan bagaimana dosa itu menjadi hijab antara seorang hamba dan kekasihnya. Yang dimaksud ‘ilmu disini adalah iman --ibarat dari pembenaran bahwa dosa itu adalah racun yang merusak--, dan yakin –ibarat dari kukuhnya sebuah pembenaran, tidak adanya ragu sedikitpun, dan terasanya kebenaran tersebut dihati--. Ketika hati telah tersinari cahaya iman, maka api penyesalan akan muncul didalamnya. Ia akan merasa sakit hingga dengan cahaya iman tersebut ia bisa melihat bahwa dirinya telah terhijab dari kekasihnya. Ketika seorang hamba telah mengetahui hal ini dengan yakin dan telah merasuk dalam hatinya, maka hatinya akan benar-benar merasakan sakit sebab kehilangan sesuatu yang ia cintai. Ketika kehilangan tersebut disebabkan oleh kelakuannya, maka ia akan menyesali kelakuannya tersebut. Rasa sakit inilah yang disebut dengan penyesalan.
Haal (nadam/penyesalan) adalah menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan dan merasa sakitnya hati karena kehilangan yang dicintai. Saat rasa sakit dan penyesalan ini telah benar-benar merasuk pada hati, maka akan muncul hal ketiga yaitu fi’lu.
Fi’lu adalah kehendak dan keinginan melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan tiga zaman, yaitu: Zaman haal (sekarang), yaitu kehendak dan keinginan meninggalkan dosa yang telah dilakukan. Zaman istiqbal (akan datang), yaitu kehendak dan keinginan akan meninggalkan dosa yang telah menghilangkan sesuatu yang dicintai, hingga akhir hayat. Zaman madli (telah lewat), yaitu kehendak dan keinginan untuk melakukan sesuatu yang hilang dengan mengganti atau pun qadla’, ketika sesuatu itu bisa diganti. Orang ini benar-benar seolah berada di tepi kehancuran. Tapi, dengan keinginannya bangkit untuk memperbaiki dosa, cahaya-cahaya cinta yang berada dihatinya menyorot hingga menghilangkan hijab yang mengahalanginya dari sang kekasih.
Dapat disimpulkan bahwa ‘ilmu, haal, dan fi’lu adalah merupakan tiga makna yang berurutan dalam menghasilkannya. Dan inilah yang dinamakan dengan taubat.

Wajib Taubat Dan Harusnya Seketika
Allah SWT berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur 31). “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah 222). “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat an-nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS. At-Tahriim 8).
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang taubat dicintai Allah, dan orang yang taubat itu seperti orang yang tidak mempunyai dosa.”
Tidak diragukan lagi bahwa taubat itu harus dilakukan seketika. Karena mengetahui bahwa maksiat itu bisa merusak diri iman adalah perkara yang mengharuskan untuk taubat. Dosa adalah kotoran yang jika tidak dihapus secara langsung akan menyebabkan sulitnya kotoran tersebut untuk dihilangkan. Allah SWT berfirman:
 “Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" (QS. an-Nisa’ 18). Dalam ayat lain juga disebutkan: “Sesungguhnya Taubat di sisi Allah hanyalah Taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang Kemudian mereka bertaubat di waktu yang dekat (dengan segera)”, (QS. an-Nisa’ 17).
Yang dimaksud waktu dekat disini adalah masa antara perbuatan dosa dan taubat, yang bisa menghapus sisa kesalahahan tersebut dengan kebaikan yang dilakukan setelahnya, sebelum kotoran kesalahan tersebut berlipat-lipat di hati hingga mustahil untuk dihapus. Nabi SAW bersabda “Ikutilah keburukan dengan kebaikan. Maka kebaikan itu akan menghapus keburukan”.
Dan karena hal ini, Luqman berkata pada anaknya “Wahai anakku, janganlah kamu menunda-nunda taubat, karena sesungguhnya mati akan datang secara tiba-tiba. Orang yang menunda-nunda taubat, ia berada dalam dua kekhawatiran yang besar. Pertama, jika kegelapan maksiat itu menjadi berlipat-lipat dihatinya hingga menjadi kotoran dan tabiat, maka tidak akan bisa dihapus. Kedua, jika sakit atau mati tiba-tiba datang kepadanya, ia tidak akan mendapatkan waktu yang cukup untuk menghapusnya.

Pentingnya Taubat Dan Sebab Diterimanya
Asalnya,  hati itu diciptakan dalam keadaan selamat. Karena memang, setiap bayi yang lahir itu dilahirkan dalam keadaan fithrah. Adapun sebab hilangnya keselamatan itu adalah keruh yang membebaninya, baik dari debu dosa atau pun kegelapannya. Api penyesalanlah yang bisa membakar debu tersebut. Dan sesungguhnya cahaya kebaikan itu bisa menghapus keburukan dihati.
Tidak ada kekuatan bagi gelapnya maksiat dibanding dengan cahayanya kebaikan, sebagaimana tidak kuatnya gelap malam dibanding cahaya siang atau keruhnya kotoran dibanding putihnya sabun.
Sebagaimana pakaian yang kotor tidak akan diterima oleh raja sebagai pakaiaannya, hati yang gelap juga tidak akan diterima oleh Allah  untuk berada disisinya. Memakai pakaian untuk digunakan pekerjaan yang kotor akan membuatnya kotor, dan membasuhnya dengan sabun beserta air panas pasti akan membersihkannya. Menggunakan hati untuk kesenangan hawa nafsu  akan mengotorinya dan membasuhnya dengan air mata beserta terbakar penyesalan akan membersihkan dan menyucikannya.
Kesimpulannya, taubat akan diterima jika sarat-saratnya telah terpenuhi. Yaitu dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya) dengan mengaplikasikannya pada tiga fase diatas. Jika kita telah memahami makna terkabul, kita akan mengetahui bahwa setiap taubat shahihah adalah diterima dan selamatlah ia. Tidak ada keberuntungan kecuali bagi orang yang datang (menghadap Allah) dengan hati yang selamat. Mari bertaubat.
[Muhammad Ichsan]


Komentar