Beliau adalah ulama’
kharismatik dari Kudus, Jawa Tengah, yang juga dikenal sebagai guru dan mujiz
(pemberi ijazah) Dalalil
al Khairat. Beliau
juga merupakan pengasuh dari Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo, Kudus, Jawa
Tengah.
Abdul
Bashir, adalah nama kecilnya. Konon, nama itu di beri oleh seorang sayyid
ketika ibu beliau sedang hamil tua. Ayah beliau
bernama Kiai Muhammad Mubin atau Mbah Kasno, seorang penjahit dengan
mesin icik tua. Sedangkan ibunya bernama Nyai Dasireh, seorang
pedagang kecil. Beliau
lahir pada tanggal 30 November 1924 M., sebagai putra kedua dari Kiai Mubin.
Saudara-saudara beliau berjumlah delapan orang, namun tiga saudara lainnya
telah meninggal saat masih bayi.
Di
umurnya yang masih lima tahun, Bashir kecil sudah mengerti akan shalat dan
wirid. Bahkan caranya sudah seperti orang dewasa. Sekitar dua sampai tiga tahun
kemudian, ia masuk ke sekolah milik belanda, Veer Folexs Schooll. Mungkin
ada rahasia tersendiri mengapa Kiai Mubin yang notabenenya keluatrga santri,
menyekolahkan anaknya disitu.
Semua
berjalan dengan lancar hingga beliau berhasil menjadi lulusan siswa terbaik di
kelas lima. Sejak lama, sebenarnya para guru ingin menyekolahkan Abdul Bashir
di sekolahan faforit, tempat sekolahnya para priyayi. Hingga suatu hari ada
salah satu guru yang berkeinginan mengambil Bashir kecil untuk disekolahkan
faforit. Ditengah kebimbangan kedua orang tuanya tentang ekonomi dan kewajiban
rohani, Bashir kecil berkata “aku kok kepingin ngaji, mondok neng Mbareng
pak” (saya kok kepingin ngaji, nyanri di Mbareng pak). Akhirnya mereka
sowan ke Mbah Yasin (mbah Kandar), dan di jawab “kowe ora usah sekolah guru,
mondok wae, besuk kowe dadi guru” (kamu tidak usah sekolah jadi guru,
mondok saja, besok kamu akan jadi guru). Akhirnya beliau pun di antar ke Mbah
Arwani Amin Kudus, guru thoriqah Kiai Mubin, setelah sebelumnya melaksanakan
khitan.
Sebelum
beliau menetap di PP. Mbareng 1923 (sekarang PP. Al Qaumaniyah), sekitar tahun
1940, beliau juga berkesempatan untuk nyantri di PP. Kenepan Langgar dalem
Kudus. Berguru pada KH. Ma’mun Ahmad, khatam Al-Qur’an pada KH. Arwani Amin
serta para masyayikh di sekitar Kudus seperti KH. Irysad dan KH. Khandiq, kakak
dari KH. Turaichan Adjhuri Kudus.
Beliau
pun akhirnya menetap di Mbareng dan khidmah di sana. Beliau adalah murid
kesayangan Mbah Yasin hingga bahkan beliau pernah diajak untuk puasa ngebleng
(tidak buka) bersama selama tiga hari berturut-turut. Berbagai wirid dan
riadlah beliau jalani, hingga Mbah Yasin mengutus beliau untuk menjadi lurah
pondok. Beliau juga pernah bergabung dengan GPII (Gerakan Pemuda Islam
Indonesia) dan BPRI (Badan Perjuangan Republik Indonesia), sekitar tahun
1944-1945 M.
Menggantikan
Kiai
Setelah
dirasa cukup lama, dan karena para santri semakin banyak, akhirnya Basyir muda
di utus untuk mengajar santri-santri junior oleh Mbah Yasin. Sepeninggal Mbah
Yasin, bertambahlah jadwal mengajar beliau. Di bantu oleh Kiai Muhammad (putra
Mbah Yasin) dan Kiai Hanafi (menantu Mbah Yasin), mereka menerus kan perjuangan
Mbah Yasin.
Menikah
Dan Membangun Pondok
Beliau
akhirnya menikah dengan putri H. Abdul Ghoni, Sholehah, yang umurnya masih
sangat muda. Sejak saat itu beliau tidak menginap di pondok, tapi pulang ke
rumah. Hingga dua tahun kemudian beliau membuat rumah sendiri di Jekulo,
Kauman.
Di
penghujung tahun 60-an ada seseorang yang namanya sama dengan beliau mewakafkan
tanah berikut rumah soko wulu miliknya untuk dijadikan pondok. Letaknya
persis tepat di sebelah utara masjid Kauman. Pondok ini kemudian dinamai dengan
Darul Falah setelah sebelumnya hanya
berinisial dengan sebutan “Pondok D”. Setelah sekian lama berjalan, sekitar
tahun 1992 M., akhirnya beliau membangun asrama putri. Santri putri di tahun
pertama mencapai 5 orang, tahun kedua 9 orang, hingga sekarang pondok ini telah
menampung lebih dari 600 santri perempuan.
Mbah
Basyir baru di karuniai anak setelah dua tahun menikah. Akhirnya, saat beliau
dan Nyai Sholehah menetap di Hadiwarno, Nyai Sholehah melahirkan anak
pertamanya, Dewi Umniyah, disusul ke tujuh adik-adiknya; Inaroh, Amti’ah, Ahmad
Badawi, Arikhah, Muhammad Jazuli, Muhammad Asyiq (almarhum), Nur Zakiyah
Mabruroh, dan Muhammad Alamul Yaqin.
Sekilas
Tentang Beliau
Beliau
adalah kiai yang sangat patuh dan ta’at pada kiai, senang tirakat dan riadlah.
Ziarah adalah hobinya sejak masih muda. Sangat ‘alim dan ahli dizikir,
begitulah ia dikenal. Dengan senyuman yang khas dan keramahan, beliau selalu
menerima santri dan tamu yang mengantri, ingin mendapatkan ijazah.
Dalam
pendidikan, beliau mengajarkan putra-putranya lebih keras dibanding para
santri. Keseharian beliau adalah mengajar santri, menemui tamu, bercengkrama dengan keluarga
dan muthola’ah kitab. Selepas shubuh, beliau selalu menyempatkan dirinya
untuk sowan ke pesarean Mbah Yasin, guru yang telah memberinya ijazah Dalail
Al Khairat.
Selasa,
18 Maret 2014 M./16 Jumadil Ula 1435 H., pukul 00:15 dinihari, di usianya yang
ke 90, Mbah Basyir menghembuskan nafas terakhirnya. Bersamaan dengan lebih dari
10.000 pelayat yang mengiringinya. [Muhammad Ichsan]

Komentar
Posting Komentar