“Mondok itu bagaikan menggali sumur, butuh
usaha dan kerja keras untuk mendapatkan sumbernya. Mondok pun harus dengan
ketekunan dan kegigihan supaya mendapatkan kemanfaatan dari ilmu. Jangan sampai
ditengah-tengah kita mondok, malah berhenti di tengah jalan. Jangan sampai
menggali sumur tapi tidak menyelesaikannya, bagaimana mungkin bisa mendapatkan
kemanfaatannya?. Selesai dengan guru satu, baru pindah pada yang lainnya”.
[Gus Muh]
Sederhana, namun tidak meninggalkan kesan
wibawa. Pria kelahiran 1983 M. dengan nama lengkap Muhammad Amin Muhyiddin lahir dari pasangan Kiai Muhammad Thohir dan Nyai Siti Amanah. Gus Muh (sapaan akrab Kiai Muhammad Amin), merupakan putra ke sembilan dari sebelas bersaudara,
lima perempuan, dan enam laki-laki. Beliau bertempat
tinggal di Jl. Sumowiharjo, Gilang, Babat, Lamongan, Jawa Timur.
Gus Muh merupakan generasi penerus ketiga dari kepengasuhan Pondok Pesantren
Salafiyah Ihya’ul ‘Ulum. Sebelumnya, pondok ini di
asuh oleh Syaikh Fakhrur Rozi al-hajj yang merupakan paman beliau sendiri. Ayah Gus Muh merupakan
murid pertama dari Syaikh Abdul Qohar (muassis pondok), sedangkan ibu beliau adalah
adik kandung paling bungsu Kiai Fakhrur Rozi. Beliau mulai mengasuh pondok pada
tanggal 31 Juli 2004 M./13 Jumadil Akhir 1425 H., tepatnya setelah ‘mangkatnya’
paman beliau.
Ritual nyantri Gus Muh
dimulai dari Pondok Pesantren
Langitan sekitar tahun 1994-1995 M. sampai sekarang. Kemudian
melanjutkan studi rohaninya di pondok pesantren Gedang
Sewu selama 10 hari. Aneh juga saat beliau mengatakan pernah menetap di
terminal (tidak pulang ke rumah) selama tiga tahun. Setelah itu
beliau menetap di rumah hingga akhirnya beliau mengemban
mandat mengasuh pondok setelah wafatnya sang paman wafat tahun 2004. “Sami’na
wa ‘atha’na”, walaupun tidak bisa,
dengan bismillah, ya saya jalani saja. Semua Allah yang mengatur”, ujar beliau.
Gus Muh menambahkan, “Ketika itu
(pergantian pengasuh), umur saya masih 21 tahun. Secara nalar
pasti tidak bisa masuk akal. Polemikpun timbul saat pergantian kepengasuhan, baik dari alumni atau pun keluarga. Bahkan, pada waktu itu
alumni terpecah menjadi dua bagian. Bagaimana tidak? Waktu itu saya masih kecil dan gondrong
pula.”
Waktu pertama kali di
utus oleh Kiai Rozi, beliau sowan ke Kiai (KH. Abdullah Faqih) Langitan untuk meminta dawuh (baca: solusi). Beliau pun mendapatkan dawuh agar
melakukan tiga hal jika ingin di tolong oleh Allah Swt, yaitu ikhlas,
istiqamah, dan sabar.
Pondok Pesantren, Benteng Terakhir Islam
Menurut beliau, pondok pesantren sekarang ini
menjadi benteng terakhir pertahanan Islam. Jika pesantren sudah rusak, rusaklah
agama ini. Sebab sekarang ini banyak sekali
aliran-aliran yang aneh-aneh seperti Wahabi, Syi’ah, MTA. padahal, itu adalah
bentuk pembauran orang-orang zionis, dalam membaurkan pemahaman.
Di pesantrenlah hal yang hak dan batil bisa dibedakan. Tidak ada jaminan untuk selain
pesantren. Di sana (pesantren) masih
murni kebenarannya. “Saya pernah
membaca buku tertulis “Ada 30 kemurtadan di IAIN”, saya sangat
prihatin. Jadi yang dirubah itu pola pikir. Jika Ahmadiyah, mungkin kita bisa
menjauhinya karena sudah tahu kesesatannya. Tapi jika yang dirubah adalah pola pikir, bagaimana cara berpikir liberal dan plural, itulah yang mengkhawatirkan. Maka eksistensi pondok
pesantren sangatlah penting bagi
masyarakat.
Sebenarnya kasihan juga mereka yang bermaksud
baik dengan ingin mendekat pada Allah, tapi salah jalan dan tidak tepat cara pemahamannya.
Mengira benar, padahal berada dalam
kesesatan.
Akhlak Sebagai Nilai
Dasar
Menjadi seorang
pengasuh, akhlak adalah
prioritas dasar yang beliau ajarkan terhadap para santrinya. Metode pengembangan Pesantren Gilang (Ihya’ul ‘Ulum) sebenarnya tak jauh beda dengan Pondok Langitan,
mulai jamaah, musyawarah, dll. Bahkan, menurut beliau ajaran dalam membangun
karakter yang paling berkesan dari Langitan pada beliau adalah jamaahnya.
“Setahu saya, pondok
yang mewajibkan jamaah dengan tidak itu akan berbeda. Terlihat dari para alumninya,
rata-rata para alumni dari pondok yang mewajibkan jamaah pasti sangat dibutuhkan
masyarakat walaupun sebenarnya tidak alim. Begitu pula sebaliknya”, Ujar Gus
Muh.
Berlandaskan pada pesan
pengasuh terdahulu, Ihya’ul ‘Ulum tetap bermetodekan salaf sampai kiamat. Namun
hal itu tidak serta merta membuat Gus Muh beliau anti terhadap inovasi
kekinian. Beliau akan dengan semangat menggaet lembaga-lembaga atau instansi lain
sebagai kebutuhan di era saat ini, seperti program wajar dikdas atau paket. “Ya,
siapa tahu di masa mendatang merekalah yang nantinya akan menjadi jaksa, modin,
atau lainnya yang mengurusi Negara ini. Jangan sampai Negara ini dipimpin oleh
orang yang tidak tahu agama bahkan, caracebok pun tidak bisa”, kata
beliau beliau.
Berebut Bakiak
Kenangan paling bekesan bagi beliau sewaktu mondok di Langitan adalah
berkesempatan untuk menata bakiak Kiai. “Dulu, para santri kalau menata bakiak
Kiai pasti rebutan. Dawuh Kiai, “Ro’an iku minangka mahare ilmu”
(kerja bakti itu bagai mahar bagi ilmu). Jadi santri-santri ketika hari libur Selasa
atau Jumat pasti berebut untuk mengambil daun-daun yang berserakan. Mereka yakin
bahwa satu daun, adalah bagaikan satu bab pelajaran. Bukan kecerdasan yang
menjadi tolak ukur”, ungkap Gus Muh.
“Sebagai santri tentu
kita harus patuh dan taat pada kiai. Karena mereka pasti menginginkan
yang terbaik untuk kita. Jangan sampai mengecewakannya,
insyaAllah ilmu kita akan berkah. Jangan sampai
pula kita meremehkan kiai, guru, kitab dan ilmu. Belum tentu pelajaran yang kita pelajari hingga enam kali akan membuahkan inti sarinya.
Terkadang ketika mengulangi pelajaran ketujuh-lah hati kita baru ter-futuh dan
baru bisa mendapatkan manfaatnya” pesan Gus Muh sebelum kami berpamitan.
[Muhammad Ichsan & Noval]

Komentar
Posting Komentar