Orang yang cinta, tentu
akan melakukan segala hal demi yang ia cintai dan takut jika ketahuan melakukan
apa yang dibenci. Allah adalah Dzat yang maha melihat, mengawasi dan
mengetahui. Dia tahu segala gerak dan semua yang terucap dari hambanya.
Seorang saalik
yang ingin mendekatkan dirinya pada yang ia cintai (Allah SWT.), tentu ingin
segala gerak yang ia kerjakan, dan segala kata yang terucap, selalu mendapat
restu dari Allah SWT. Dalam konteks melakukan apa yang ia cintai dan menjauhi
hal yang ia benci. Nah, bagaimanakah cara mengetahui hal tersebut? Ada beberapa
cara, yaitu:
1.
Mendengar
Yaitu mendengar al-Qur’an dan
hadist, serta mengaplikasikannya kedalam setiap gerak kehidupan. Tentu saja hal
ini bisa terelalisasikan jika saalik mau mempelajarinya, mengetahui
maksudnya, hingga mempraktekkannya.
2.
Melihat
Yang dimaksud disini
adalah melihat dengan mata hati (bashirah al-qalbi), yaitu
berangan-angan terhadap segala hal yang terjadi, dengan pemikiran ‘mengambil
dan memahami segala sesuatu, sebagai bentuk ‘ibrah (pelajaran)’. Hal ini
sangatlah sulit dan langka. Karena itu, Allah SWT. kemudian mengutus Rasul
kemuka bumi, guna memudahkan jalan bagi makhluqNya, untuk menemukan hal
tersebut.
Saalik akan mengetahui hal ini, jika ia sudah
mengetahui semua hukum syara’ dalam setiap apa yang ia lakukan. Bagian kedua
ini adalah mengetahui hikmah pada setiap yang diciptakan oleh Allah SWT.
Karena Dia tidak akan menciptakan
sesuatu kecuali bernilai hikmah. Dibagian yang lebih dalam dari hikmah,
terdapat tujuan. Dan tujuan inilah yang disebut dengan al-Mahbub, Allah
SWT.
Dalam
pengambilan hikmah yang bisa mengantarkan saalik pada apa yang ia tuju,
terbagi menjadi dua bagian, Yaitu:
Hikmah
Jaliyyah (jelas)
Hikmah
jaliyyah adalah seperti mengetahui bahwa penciptaan matahari adalah
untuk mengetahui perbedaan antara siang dan malam. Ketika siang, mata bisa
melihat dengan mudah hingga bisa digunakan untuk bekerja. Sedang diwaktu malam,
mata seolah tertutup hingga sangat tepat untuk digunakan istirahat. Ini adalah
sebagian dari hikmah matahari padahal, masih banyak hikmah lainnya yang sangat
banyak dan sulit terdeteksi.
Hikmah ini juga bisa
kita pahami pada awan, mendung, turunnya hujan, dan lain sebagainya. Dan
al-Qur’an telah memuat hal tersebut dalam sebagian hal dari hikmah yang sesuai
dengan pemahaman makhluq. Bukan, hal yang sangat rumit yang otak manusia kadang
tidak akan bisa menjangkaunya. Allah SWT. Berfirman: “Sesungguhnya kami
benar-benar Telah mencurahkan air (dari langit), Kemudian kami belah bumi
dengan sebaik-baiknya,
Lalu
kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, Anggur dan sayur-sayuran” (QS.
‘Abasa 25-28).
Hikmah
Khofiyyah (samar)
Adalah seperti hikmah
penciptaan bintang yang beredar dan berhenti. Tidak semua makhluq bisa
mengetahui hikmah penciptaannya. Adapun kadar dari kefahaman mereka adalah
bintang sebagai perhiasan langit agar mata bisa merasakan keledzatan untuk
memandangnya. Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya kami Telah menghias
langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang” (QS. As-Saffaat
06).
Segala hal dari alam
baik itu langit, bintang, angin, samudera, gunung, mata air, tumbuhan dan
hayawan, tidak terkecuali semut paling kecil sekalipun, semuanya memuat banyak
sekali hikmah yang tak terhingga. Banyak sekali dari manusia yang tidak
mengetahuinya, atau jika tahu pun, mereka hanya bisa mengtahui sebagian kecil
dari hikmah tersebut, bukan keseluruhannya.
Saatnya
Dicinta
Allah
SWT. telah memberi hikmah dalam kehidupan bahwa seseorang yang dicintai, tentu
akan senang jika yang mencintainya semaksud dengan yang ia cintai dan yang ia
benci. Maka, pasti Allah SWT. pun akan mencintai hambanya yang cinta padanya,
jika hambanya mau menjauhi
larangan dan melakukan hal yang Allah cintai. Dan Allah pun pasti akan
membalasnya dengan cinta pula.
Adapun,
karena kita bukan Rasul yang mendapat petunjuk langsung hingga bisa mengetahui secara
langsung apa yang di cintai oleh Allah, maka tentu saja yang harus kita lakukan
adalah meniru segala tingkah, gerak, dan ucap yang dilakukan oleh Rasul. Dengan
melihat firman Allah, sabda Rasul, dan melihat hikmah kehidupan sebagai pembuka
tabir jalan yang lurus. Dengan semua itu, semoga kita bisa sesuai dengan apa
yang di maksud dan apa yang dicintai oleh Allah SWT. Bukannya tersesat dengan
merasa dicinta, padahal mendapat murka?!
Muhammad
Ichsan

Komentar
Posting Komentar