Allah Swt. Mempunyai 70
hijab (penghalang antara Allah Swt. dan hambanya) dari nur yang saalik (orang yang menapaki jalan
makrifat) tidak akan bisa berjalan dan sampai pada satu hijab dari hijab-hijab
tersebut, kecuali ia telah mempunyai dzon
(keyakinan kuat dan usaha, bukan hanya
pengetahuan ataupun imajinasi) bahwa ia
telah sampai pada maqam tersebut. Hal
ini sesuai dengan isarat Allah ta’ala dalam memberi khabar mengenai ucapan nabi
Ibrahim a.s. dengan firmanNya:
$£Jn=sù £`y_ Ïmøn=tã ã@ø©9$# #uäu $Y6x.öqx. (
tA$s% #x»yd În1u
Artinya: “Ketika malam
Telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah
Tuhanku". (QS. Al-An’am 76)
Yang dimaksud kaukab disini bukanlah jisim-jisim yang
terlihat. Tapi nur dari nur-nur Allah Swt. Yang berupa hijab yang berada pada
jalan makrifat orang-orang yang menapakinya.
Dikatakan demikian
karena nabi Ibrahim a.s. ketika itu masih kecil dan tentu tahu kalau itu bukan Tuhan.
Beliau tidak mungkin tertipu oleh kaukab
(bintang) yang orang-orang bodoh pun tahu kalau itu bukan Tuhan. Para nabi
adalah maksum dari sifat bodoh baik sebelum atau pun sesudah kenabian.
Wushul pada Allah Swt. Tidak akan bisa tergambarkan kecuali dengan
melewati dan sampai pada hijab-hijab ini. Hijab-hijab ini adalah nur yang
sebagian dari mereka lebih besar dari lainnya. Diantara nur yang paling kecil
adalah kaukab (Lafadz kaukab dipinjam untuk digunakan ucapan
derajat nur). Yang paling besar adalah samsy
(matahari), dan yang berada diantara keduannya adalah derajat qomar (bulan).
Nabi Ibrahim pun ketika
melihat malakut assamawat (kerajaan
langit) terus berjalan dari satu nur kepada nur lainnya. Nur itu membuatnya
bingung diawal ia bertemu dengan nur tersebut. Sebagaimana firman Allah Swt.
Ï9ºxx.ur üÌçR zOÏdºtö/Î) |Nqä3n=tB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur tbqä3uÏ9ur z`ÏB tûüÏYÏ%qßJø9$#
Artinya: “Dan Demikianlah kami perlihatkan kepada
Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami
memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin”. (QS. Al-An’am 75).
Kemudian dibuka
(singkap) pada nabi Ibrahim a.s. bahwa dibalik nur tersebut terdapat sesuatu
(nur yang berupa hijab) yang lain. Ia pun naik pada sesuatu tersebut dan
berkata “Aku telah sampai”. Dibuka lagi padanya sesuatu (hijab) yang berada dibelakangnya
(setelahnya). Begitu seterusnya hingga ia sampai pada hijab al-aqrab (hijab terdekat) yang tidak akan bisa wushul pada Allah Swt. Kecuali telah
melewatinya. Ia pun berkata: “Hadza akbar”
(Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar).
Ketika ia melihat bahwa
dibalik keagungan hijab tersebut ternyata tidak sepi dari sirna, dalam derajat
hinanya sesuatu yang kurang dan turun dari puncak keagungan. Ia berkata :
tIw =Ïmé& úüÎ=ÏùFy$#
Artinya: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."
(QS. Al-An’am 76).
Semua itu berlangsung hingga ia berada pada
titik puncak (wushul) dan berkata :
ÎoTÎ) àMôg§_ur }Îgô_ur Ï%©#Ï9 tsÜsù ÅVºuq»yJ¡¡9$# ßöF{$#ur
Artinya: “Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada
Rabb yang menciptakan langit dan bumi”. (QS. Al-An’am 79)
Orang yang melalui
jalan ini (saalik) terkadang tertipu
dengan berhenti di tengah-tengah hijab. Bahkan terkadang tertipu pada hijab
yang pertama.
Hijab pertama yang
berada diantara Allah Swt. dan hambanya adalah hati. Dan hati adalah termasuk amrun robbaniy (rahasia tuhan), yaitu
nur dari nur-nurnya Allah Swt.
Yang dimaksud disini
adalah sirrul qolbi (rahasia hati)
yang didalamnya akan terlihat semua haqiqatul
haq (sejatinya kebenaran). Hingga sirr
tersebut bisa membuat jelas jumlah ataupun semua gambaran alam. Ketika hal ini
terjadi, maka nur saalik akan
terpancar dengan sangat karena wujud alam dan segala sesuatu yang berada
didalamnya akan terlihat jelas padanya. Padahal sebelumnya nur tersebut
terhalang oleh misykat (lampu) yang
seperti tutup.
Akan diperlihatkan
padanya langit-langit, ‘ars, kursy, dan semua yang berada dilangit serta
keajaiban-keajaibannya hingga bisa melihat tempatnya disurga. Juga bumi hingga
semua yang berada dibawahnya dan semua keajaiban-keajaibannya. Yang dimaksud
disini adalah melihat dengan bashirah (mata
hati) bukan dengan ilmu pengetahuannya.
Ketika nur saalik telah tampak dan indahnya hati
telah terbuka setelah nur Allah Swt. Terpancar padanya, terkadang shohibul qolbi (pemilik hati) malah berpaling
pada qolbi (hati). Maka ia melihat
keindahan qolb yang melebihi sesuatu
yang membingungkannya (keajaiban-keajaiban yang terjadi). Terkadang dalam
kebingungannya lisannya salah berucap dengan mengatakan “ Aku adalah dzat yang
haq”.
Maka ketika sesuatu
dibelakang ini semua ( nur Allah Swt. yang sebenarnya. Sebagaimana orang
berkaca yang dibelakangnya adalah benda sebenarnya yang terlihat di kaca) tidak
jelas baginya, tertipulah ia. Berhenti pada maqam
tersebut dan binasa. Ia tertipu dengan nur kaukab yang kecil dari nur-nur hadzratil
ilahiyyah. Setelah tertipu, ia tidak akan sampai pada nur qamar, apalagi samsy.
Hal ini karena
serupanya nur yang terlihat dengan tempat terlihatnya. Sebagaimana serupanya
gambar yang terlihat di kaca, dengan kaca. Maka ia menyangka bahwa itu adalah
gambar yang sebenarnya. Juga sebagaimana serupannya sesuatu yang berada didalam
gelas, dengan gelas.
Prasangka ini juga
merupakan pandangan orang nasrani terhadap nabi Isa al-Masih a.s., mereka
melihat sorot nur Allah Swt. Yang memenuhi diri nabi Isa a.s. dan melupakan
atau berpaling pada nur yang sebenarnya (nur Allah Swt.). Sebagaimana orang
yang melihat bintang di air dan menyangka bahwa bintang itu berada di air, maka
ia mengulurkan tangannya pada air tesebut untuk mengambil bintang. Dan
tertipulah ia.
Orang yang baru menapak
jalan ini, terkadang juga tertipu ketika diperlihatkan kepada mereka
pintu-pintu makrifat. Maka ketika mereka mencium bau tempat permulaan makrifat,
mereka takjub dan senang akannya. Mereka takjub dengan keanehan-keanehannya.
Hati mereka menjadi terikat untuk selalu memusatkan perhatian dan berfikir
tentang bagaimana cara pintu makrifat itu bisa terbuka bagi mereka, dan
tertutup bagi yang lain.
Semua itu adalah ghurur (tertipu), karena keajaiban jalan
menuju Allah Swt. Itu tidak akan ada akhirnya. Maka ketika mereka berhenti
bersama semua keajaiban yang mereka temui, hati mereka akan terikat keajaiban
tersebut. Langkahnya pendek dan terhalang pada apa yang dimaksud.
Orang semacam ini sama
dengan orang yang berkeinginan menemui raja tapi ditengah perjalanan ia malah
tertipu oleh pintu penghalang (sebagai pengaman) yang didalamnya terdapat
berbagai macam bunga dan cahaya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia berhenti
untuk melihatnya dan takjub dengan keindahannya hingga waktu yang memungkinkan
untuk bertemu raja, hilang.
Muhammad Ichsan

Komentar
Posting Komentar