Masih
ingat cerita Sayyidina Umar bin Khattab yang menikahkan putranya, Ashim, dengan
wanita penjual susu dari bani Hilal karena kejujurannya?. Singkat cerita, dari
kedua pasangan tersebut lahir seorang wanita bernama Ummu Ashim binti Ashim bin
Umar bin Khattab yang kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam.
Dari pasangan itulah, lahir seorang khalifah bernama Umar bin Abdul Aziz.
Umar
bin Abdul Aziz termasuk golongan para pembesar bani Umayyah yang paling mewah
gaya hidupnya. Lahir dan tumbuh dalam lingkungan kerajaan membuatnya tidak
mengenal kecuali gaya hidup seorang raja. Cara ia berjalan sangatlah terkenal
karena keindahan dan kelenggangan yang memukau hingga banyak diikuti para
gadis. Ia mengulurkan sarung dan jubahnya, membiarkannya berjuntai dan melambai
dengan indah. Jika sandal yang dipakai putus, ia akan membuangnya begitu saja.
Terkadang sandal itu diambil oleh seorang budak. Jika ketahuan, ia akan
langsung menghardik dan mengecapnya dengan cincin besar yang super wangi hingga
debu pun akan tercium wangi jika melewatinya. Kemewahan ini terus melekat pada
dirinya sampai menjadi khalifah. Setelah itu, ia meninggalkan semuanya dan
memilih hidup zuhud dengan membuang dunia . Ia
tidak mau dilayani dan membuang nafsu berbagai macam jenis makanan. Jika
dibuatkan makanan, ia akan meletakkan
sesuatu diatas makanan itu hingga berhasrat untuk makan.
Orang Yang Tawadlu’
Suatu
malam, beliau kedatangan tamu yang datang dengan keperluan. Tiba-tiba lampunya
padam. Beliau pun segera bangkit untuk menyakan lampu tersebut. Hal itu pun di
cegah oleh para tamu, mereka berkata “Biar kami saja wahai Amirul Mukminin”.
Beliau menjawab “Apa yang menghalangiku untuk melakukan hal ini. Saat aku
berdiri, aku adalah Umar, saat aku kembali duduk pun, aku tetap Umar”.
Ketika
beliau diracun, datanglah Kepala Uskup Romawi atas utusan Raja untuk
mengobatinya. Tapi Umar malah menamparnya dan berkata “Seandainya ruh kehidupan
ada ditanganmu, tetap tidak akan aku izinkan kau mengobatiku. Kembalilah ke
rajamu, aku tidak perlu pengobatanmu". Ia lalu memanggil orang yang
tertuduh telah meracuninya dan telah mengakuinya. Umar bertanya “Kenapa kau
melakukan hal ini?”. Orang itu menjawab “Aku ditipu dan diperdaya”. “Lepaskan
orang ini, ia ditipu dan diperdaya” katanya melepaskan orang yang telah
meracuninya tersebut dan memaafkannya.
Wafatannya Sang Penegak
Keadilan
Sebelum
wafat, ia telah menyiapkan kuburannya dengan membelinya seharga dua puluh dinar
(ada yang mengatakan sepuluh dinar). Ia berdoa meminta kematian bahkan memaksa Ibnu
Abi Zakaria –orang shalih dari penduduk syam— untuk mendoakannya dalam
kematian.
Singkat
cerita, Ibnu Abi Zakaria dipanggil oleh Umar dan dihadapkan padanya “Aku
panggil engkau karena satu hal yang tidak akan aku beritahu sebelum kau
berjanji akan melakukannya” kata Umar. Ibnu Abi Zakaria menjawab “Wahai Amirul
Mukminin, engkau tidak akan meminta suatu hal kecuali pasti akan aku penuhi”.
“jika demikian, bersumpahlah padaku” pinta Umar.
Setelah
Ibnu Abi Zakaria bersupah, Umar berkata “Berdoalah pada Allah agar dia
mematikanku”. Ibnu Abi Zakaria menjawab “Jika demikian, maka aku akan menjadi
utusan paling buruk bagi kaum muslimin dan akan menjadi musuh umat Muhammad
SAW.”. “Hai, kau telah bersumpah padaku” tagihnya”. Ibnu Abi Zakaria pun
terpaksa berdoa. “Doakan anak ini juga, aku mencintainya” pinta Umar. Ibnu Abi
Zakaria pun mendoakan anak kecil tersebut.
Tak lama waktu berselang, Umar wafat, diikuti Ibnu Abi Zakaria dan anak
kecil tersebut.
Sebelum
wafat, di hadapan orang-orang, Umar berkata, “Tinggalkanlah aku karena aku
melihat ada makhluk yang semakin bertambah banyak. Mereka bukan manusia, bukan
pula jin”. Semuanya pun bubar meninggalkan Umar sendirian. Terdengar dari luar,
suara Umar membaca surat al-Qashash ayat 83,
‘Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk
orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Dan keadaan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa’. Suaranya
semakin melemah hingga dia wafat
dengan mata terpejam penuh ketenangan.
[Muhammad Ichsan]

Komentar
Posting Komentar