Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri; Bergaul Dengan Orang Yang Menyakiti

Segala puju bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai hamba yang beribadah kepadanya. Suatu hari imam Ali zainal Abidin keluar menuju ka’bah. Beliau adalah orang yang shalat 1000 rakaat disetiap siang dan malamnya. Jangan tanya ‘bagaimana?’ jika itu diukur dengan hitungan menit, tapi cobalah ukur dengan mengamalkan 11 rakaat shalat witir, pasti kamu akan faham.

Kemudian beliau masuk masjid dengan tenang, sholat, dan berdo’a, hingga kemudian beliau keluar. Ketika keluar, beliau bertemu dengan seseorang yang tidak senang dengan ahli bait (semoga Allah menjauhkan kita dari sifat itu karena merupakan sebagian dari sifat-sifat munafik). Ketika laki-laki tadi melihat imam Ali, lantas dia berkata dihadapan semua orang “Kamukah orang yang dipanggil dengan Zainal Abidin?” (perhiasan orang beribadah). Beliau menjawab “Ya”. Lelaki itu mencela “Kau ini Syainal Abidin” (pengotor orang beribadah).
Lalu lelaki tadi menyambung lagi dengan ucapan “Engkau fasiq, orang jahat…” lelaki itu melontarkan kata-kata kotor dan keji. Dia melontarkan kepada Imam Ali ibnu al-Husain bin Ali, cucu Sayyidah Fatumah binti Rasulullah SAW. Beliau adalah imam dizamannya.
Marahlah orang-orang disekelilingnya yang mendengarkan, lantas imam Ali mengatakan “Biarkan dia menghabiskan kata-kata”. Setelah selesai kata-kata kotor yang panjang lebar itu, imam Ali kemudian berjumpa dengannya dan berkata “Wahai anak muda, semua yang kau ucapkan tadi itu ada padaku dan apa yang tidak engkau ketahui bahkan lebih banyak lagi. Apakah engkau punya kebutuhan yang bisa aku tunaikan agar aku bisa membalas semua nasihatmu itu?”
 Lelaki tadi kemudian menangis, lantas berkata “Aku bersaksi bahwasannya engkau adalah keturunan Rasulullah. Maafkan aku wahai imam, sesungguhnya ada sekelompok manusia yang telah menghasut aku dengan uang dan berkata “Jika kamu dapat membuat imam Ali ibnu Husain marah dan kau dapat membuatnya memakimu kembali, kami akan memberimu 1000 dinar emas”. Maka tersenyumlah imam Ali untuk keduakalinya.
Tahukah kamu akan senyum yang kau lakukan ketika ada orang lain yang menyakitimu? Ini adalah hal yang pertama kali harus kamu lakukan. Setiap kali ada orang yang menyakitimu, kemudian kamu senyum kewajahnya, maka ketika senyum itu, ingatlah keadaan dirimu dengan Allah, dan sebelum kamu membalas, fikirkanlah dengan cara apa kamu membalas perkara ini agar bisa diridloi Allah.
Tersenyumlah imam Ali sekali lagi, lalu bertanya “Apakah karena sebab uang 1000 dinar?”. Lelaki itu menjawab “Ya”. Beliau lalu berkata “Jika kamu memberitahuku, aku akan memberikan hal itu padamu tanpa harus berkata apapun”. Lalu beliau berkata pada orang disampingnya “Apakah aku mempunyai uang 1000 dinar? Berikan padanya”.
Maka dengarkanlah cerita ini. Jangan kamu katakan “Tentu saja sebab beliau adalah imam Ali ibnu al-Husain, beliau kalau hendak memberi pasti akan memberi”. Tapi adalah akhlaq yang menjadi harta pusaka bagi umat ini. Dia adalah perilaku akhlaq yang mulia dengan Allah.
Lihat bagaimana ayat Allah SWT “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik” (QS. Al- Fushilat 34). Maka balaslah dengan hal yang labih baik. Imam Ali Zainal Abidin menolak kejahatan itu dengan cara yang lebih baik. Lalu apa yang terjadi setelah itu? Yang terjadi adalah “Maka tiba-tiba orang yang berada diantara kamu dan dia yang ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Al- Fushilat 34).
Jangan katakana “Aku sudah mencoba untuk membalasnya dengan cara yang lebih baik, tapi tetap tidak membawa faedah apapun”. Ingat, kalam Allah tidak pernah salah!. Jangan katakan “Ketika aku mencoba membalas dengan cara yang lebih baik, orang yang menyakitikupun tidak membawa faedah (berubah)”. Apakah engkau mencoba mengingkari kalam Allah?!
Allah berfirman “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang berada diantara kamu dan dia yang ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. Benarlah firman-Nya. Jika engkau membayangkan bahwa “Aku sudah menolak kejahatannya dengan cara yang lebih baik tapi tidak nampak hasilnya”, maka sebenarnya disitu terdapat makna bahwa “Aku belum membalasnya dengan cara yang lebih baik”.
Ini pelajaran. Bagaimana kita akan membalas orang lain yang menyakiti kita? Maka malam ini, sebelum kamu tidur, fikirkan tentang “Berapa kali ada orang yang menyakitiku, dan bagaimana aku membalasnya?”. Ya Allah… jika seseorang itu telah menghayati cara berperilaku akhlak Nabi yang mulia, dia akan tertawa terhadap dirinya sendiri.
Ketika kamu teringat pada suatu hari kamu berada dikereta, isyarat hijau ada pada jalanmu dan kaupun bergerak, tetapi tiba-tiba ada sebuah kereta yang melintasi jalan didepanmu dan hampir saja tertabrak, lalu kamu turun dan memaki kereta tadi. Bila kita ingat lagi hal tersebut, kita akan tertawa dan berkata “Bagaimana mungkin aku bisa membalas hal semacam itu. Mungkin saja orang itu sibuk atau ingin cepat-cepat kemana… dan Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkanku dari musibah, aku bersyukur kepada Allah daripada aku telah memaki orang lain. Maha suci Allah. Bagaimana kita bertindak?
Contoh yang sempurna adalah seperti anak-anak. Setelah dewasa, kita teringat akan keadaan dimasa kanak-kanak. Bagaimana keadaan kita saat bergaul dengan anak-anak lain. Kita membuat gaduh, berlawanan, dan memaki. Ingat bagaimana kita semasa kecil sangat mudah marah dan membuat gaduh? Itulah keadaannya.

Sekarang, apa yang sudah kamu tekadkan dipengakhiran majelis ini? Tidak lain adalah apa yang kamu dapat dari majelis ini. Kemanakah kita sekarang ini? Tidak lain adalah kearah kejujuran demi mendekatkan diri pada Allah SWT.

Komentar