Segala puju bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai
hamba yang beribadah kepadanya. Suatu hari imam Ali zainal Abidin keluar menuju
ka’bah. Beliau adalah orang yang shalat 1000 rakaat disetiap siang dan
malamnya. Jangan tanya ‘bagaimana?’ jika itu diukur dengan hitungan menit, tapi
cobalah ukur dengan mengamalkan 11 rakaat shalat witir, pasti kamu akan faham.
Kemudian beliau masuk masjid dengan tenang, sholat, dan
berdo’a, hingga kemudian beliau keluar. Ketika keluar, beliau bertemu dengan
seseorang yang tidak senang dengan ahli bait (semoga Allah menjauhkan kita dari
sifat itu karena merupakan sebagian dari sifat-sifat munafik). Ketika laki-laki
tadi melihat imam Ali, lantas dia berkata dihadapan semua orang “Kamukah orang
yang dipanggil dengan Zainal Abidin?” (perhiasan orang beribadah). Beliau
menjawab “Ya”. Lelaki itu mencela “Kau ini Syainal Abidin” (pengotor orang
beribadah).
Lalu lelaki tadi menyambung lagi dengan ucapan “Engkau fasiq,
orang jahat…” lelaki itu melontarkan kata-kata kotor dan keji. Dia melontarkan
kepada Imam Ali ibnu al-Husain bin Ali, cucu Sayyidah Fatumah binti Rasulullah
SAW. Beliau adalah imam dizamannya.
Marahlah orang-orang disekelilingnya yang mendengarkan,
lantas imam Ali mengatakan “Biarkan dia menghabiskan kata-kata”. Setelah
selesai kata-kata kotor yang panjang lebar itu, imam Ali kemudian berjumpa
dengannya dan berkata “Wahai anak muda, semua yang kau ucapkan tadi itu ada
padaku dan apa yang tidak engkau ketahui bahkan lebih banyak lagi. Apakah
engkau punya kebutuhan yang bisa aku tunaikan agar aku bisa membalas semua
nasihatmu itu?”
Lelaki tadi kemudian
menangis, lantas berkata “Aku bersaksi bahwasannya engkau adalah keturunan
Rasulullah. Maafkan aku wahai imam, sesungguhnya ada sekelompok manusia yang
telah menghasut aku dengan uang dan berkata “Jika kamu dapat membuat imam Ali
ibnu Husain marah dan kau dapat membuatnya memakimu kembali, kami akan
memberimu 1000 dinar emas”. Maka tersenyumlah imam Ali untuk keduakalinya.
Tahukah kamu akan senyum yang kau lakukan ketika ada orang
lain yang menyakitimu? Ini adalah hal yang pertama kali harus kamu lakukan.
Setiap kali ada orang yang menyakitimu, kemudian kamu senyum kewajahnya, maka
ketika senyum itu, ingatlah keadaan dirimu dengan Allah, dan sebelum kamu
membalas, fikirkanlah dengan cara apa kamu membalas perkara ini agar bisa
diridloi Allah.
Tersenyumlah imam Ali sekali lagi, lalu bertanya “Apakah
karena sebab uang 1000 dinar?”. Lelaki itu menjawab “Ya”. Beliau lalu berkata
“Jika kamu memberitahuku, aku akan memberikan hal itu padamu tanpa harus
berkata apapun”. Lalu beliau berkata pada orang disampingnya “Apakah aku
mempunyai uang 1000 dinar? Berikan padanya”.
Maka dengarkanlah cerita ini. Jangan kamu katakan “Tentu saja
sebab beliau adalah imam Ali ibnu al-Husain, beliau kalau hendak memberi pasti
akan memberi”. Tapi adalah akhlaq yang menjadi harta pusaka bagi umat ini. Dia adalah
perilaku akhlaq yang mulia dengan Allah.
Lihat bagaimana ayat Allah SWT “Tolaklah (kejahatan itu) dengan
cara yang lebih baik” (QS. Al- Fushilat 34). Maka balaslah dengan hal yang
labih baik. Imam Ali Zainal Abidin menolak kejahatan itu dengan cara yang lebih
baik. Lalu apa yang terjadi setelah itu? Yang terjadi adalah “Maka tiba-tiba
orang yang berada diantara kamu dan dia yang ada permusuhan, seolah-olah telah
menjadi teman yang sangat setia” (QS. Al- Fushilat 34).
Jangan katakana “Aku sudah mencoba untuk membalasnya dengan
cara yang lebih baik, tapi tetap tidak membawa faedah apapun”. Ingat, kalam Allah
tidak pernah salah!. Jangan katakan “Ketika aku mencoba membalas dengan cara
yang lebih baik, orang yang menyakitikupun tidak membawa faedah (berubah)”.
Apakah engkau mencoba mengingkari kalam Allah?!
Allah berfirman “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang
lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang berada diantara kamu dan dia yang ada
permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. Benarlah firman-Nya.
Jika engkau membayangkan bahwa “Aku sudah menolak kejahatannya dengan cara yang
lebih baik tapi tidak nampak hasilnya”, maka sebenarnya disitu terdapat makna
bahwa “Aku belum membalasnya dengan cara yang lebih baik”.
Ini pelajaran. Bagaimana kita akan membalas orang lain yang
menyakiti kita? Maka malam ini, sebelum kamu tidur, fikirkan tentang “Berapa
kali ada orang yang menyakitiku, dan bagaimana aku membalasnya?”. Ya Allah…
jika seseorang itu telah menghayati cara berperilaku akhlak Nabi yang mulia,
dia akan tertawa terhadap dirinya sendiri.
Ketika kamu teringat pada suatu hari kamu berada dikereta,
isyarat hijau ada pada jalanmu dan kaupun bergerak, tetapi tiba-tiba ada sebuah
kereta yang melintasi jalan didepanmu dan hampir saja tertabrak, lalu kamu
turun dan memaki kereta tadi. Bila kita ingat lagi hal tersebut, kita akan
tertawa dan berkata “Bagaimana mungkin aku bisa membalas hal semacam itu.
Mungkin saja orang itu sibuk atau ingin cepat-cepat kemana… dan Alhamdulillah,
Allah telah menyelamatkanku dari musibah, aku bersyukur kepada Allah daripada
aku telah memaki orang lain. Maha suci Allah. Bagaimana kita bertindak?
Contoh yang sempurna adalah seperti anak-anak. Setelah dewasa,
kita teringat akan keadaan dimasa kanak-kanak. Bagaimana keadaan kita saat
bergaul dengan anak-anak lain. Kita membuat gaduh, berlawanan, dan memaki.
Ingat bagaimana kita semasa kecil sangat mudah marah dan membuat gaduh? Itulah
keadaannya.
Sekarang, apa yang sudah kamu tekadkan dipengakhiran majelis
ini? Tidak lain adalah apa yang kamu dapat dari majelis ini. Kemanakah kita
sekarang ini? Tidak lain adalah kearah kejujuran demi mendekatkan diri pada
Allah SWT.

Komentar
Posting Komentar