Jangan Meremehkan Dosa

Melihat dosa adalah seperti melihat benang dalam kabut. Banyak dari seseorang yang tidak mengetahuinya atau bahkan menyadarinya. Manusia adalah tempat salah dan lupa, hingga dosa dikatakan perkara yang lumrah. Kita bukan wali atau nabi yang
ma’shum hingga terjaga dari dosa, dan kita bukan malaikat yang tidak punya nafsu yang bergerak untuk melakukan dosa.


Memang, manusia adalah tempat salah dan lupa yang tidak bisa lepas dari dosa. Bahkan orang yang berkata tidak pernah melakukan dosa adalah sombong. Namun bukan berarti mereka harus pasrah dan mengatakan bahwa dosa adalah perkara lumrah. Tapi bagaimana mereka merealisasikan dosa dengan taubat penuh penyesalan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, adalah aturan mutlak dalam konteks muslim sejati. Hingga dosa tersebut terhapus dan mendapat ridlo Allah SWT. Jangan sampai kita meremehkannya dan menganggap bahwa hal tersebut adalah lumrah, karena hal tersebut adalah musibah besar yang membahayakan keselamatan akhirat.

Sebab Dosa Kecil Yang Menjadi Besar
Ada banyak hal yang melatarbelakangi kenapa dosa kecil bisa menjadi besar, diantaranya:

1.      Dikerjakan terus-menerus, sebagaimana sebuah ucapan “Tidak disebut dosa kecil jika dilakukan terus-menerus (menjadi dosa besar), dan tidak di sebut dosa besar jika bersama istighfar (diampuni)”. Satu dosa besar yang diikuti dengan taubat itu lebih bisa diharapkan ampunannya dibanding dengan dosa kecil yang dilakukan secara berulang.

2.      Meremehkan Dosa. Ketika seorang hamba memandang dosa sebagai hal yang besar, maka dosa tersebut adalah kecil dalam pandangan Allah, begitu pula sebaliknya.  Merasa besarnya dosa akan melahirkan kebencian hati untuk melakukannya lagi dan hal itu mencegah ‘bekas’ yang ada dalam hati, dan merasa kecilnya dosa (meremehkannya) akan melahirkan kecondongan untuk melakukannya lagi. Nabi SAW. bersabda:
“Orang mukmin akan melihat dosanya seperti gunung yang berada diatasnya, dan ia takut kalau gunung itu menjatuhinya. Sedangkan orang munafik adalah melihat dosa seperti lalat yang melewati hidungnya, dan ia membuat lalat tersebut terbang” (HR. Imam Bukhori).

3.      Senang dengan dosa kecil dan menganggap bahwa dosa itu adalah nikmat.  Lupa bahwa hal tersebut adalah sebab ‘celaka’ . Ketika seorang hamba merasakan nikmat pada dosa kecil tersebut, maka menjadi besarlah dosa tersebut dan akan membuat hatinya semakin gelap.

4.      Meremehkan ‘merahasiakannya’ Allah terhadap aibnya.  Ia mengabaikannya dan tidak mengetahui bahwa terkadang, Allah menutupi aibnya adalah agar ia terus mengabaikan dosa yang menutupi hatinya. Ia menyangka bahwa hal tersebut adalah pertolongan Allah hingga ia merasa aman dari siksa karena kebodohannya hingga ia tertipu oleh luasnya rahmat.

5.      Memamerkan atau bahkan mendemonstrasikan dosa. Karena hal tersebut telah merusak sutrah (penutup) Allah yang telah diberikan padanya. Ia membuat orang lain senang terhadap dosa yang ia ceritakan dan menyaksikan dosa itu. Didalam hadist disebutkan:
“Semua manusia dosanya akan diampuni, kecuali orang yang memamerkan dosa. Pada malam hari mereka melakukan dosa yang dirahasiakan oleh Allah, tapi paginya mereka membuka tutup (rahasia) tersebut dan menceritakan dosanya” (Muttafaq alaih).

6.      Yang berbuat dosa adalah orang alim yang menjadi panutan. Ketika ia melakukan dosa seperti memakai baju sutra, mengambil harta subhat dari raja, dll. hingga dilihat oleh orang banyak, maka menjadi besarlah dosa tersebut karena statusnya sebagai panutan. Jika ia mati, maka dosa itu tetap terus mengikutinya karena kejelekannya yang mewaris di dunia, dalam masa yang lama. Maka bahagialah orang yang mati dan dosannya mati bersamanya (tidak diwaris). Dalam hadist disebutkan:
“Barang siapa yang membuat sunnah (pekerjaan) yang buruk, maka baginya dosanya sendiri dan dosa orang yang beramal (menirukannya), dengan tanpa pengurangan sedikitpun” (HR. Imam Muslim).

Dosa Adalah Kegelapan Dalam Hati
Dosa besar adalah kegelapan dihati yang datang secara tiba-tiba. Dan bertaubat dengan melakukan amal adalah secercah cahaya yang bisa mengembalikan cahaya hati, sebagaimana air yang terus-menerus menimba batu akan bisa menghancurkannya. Tentusaja amal ini tidak dilakukan sekali-duakali, karena bagaimana mungkin setetes air akan bisa menghancurkan batu?.

Dosa kecil adalah kegelapan yang datang seperti titik yang jika dilakukan terus menerus akan membuat gelap seluruh hati, dan jika diremehkan akan berubah menjadi karat yang melekat kuat yang bersarang dalam hati. Namun jika titik itu dibersihkan dengan taubat dan janji untuk tidak mengulangi lagi, tentu hati akan kembali mendapatkan sinarnya kembali dan saalik akan bisa merasakan nur Allah dihati hambaNya yang bersih.

Komentar