Ceramah Habib Umar bin Hafidz di Langitan; Mengenal Hakikat Islam, Iman, dan Ihsan Part 1




Segalapuji atas semua nikmat yang demikian agung dari Allah, Untuk mempererat hubungan kita dengan-   Nya dan Rasulullah yang paling mulia dan paling bercahaya. Hubungan erat tersebut kembali melalui keluarga beliau, dan penerus beliau yang mulia. Dan itulah yang menjadi bekal yang tidak ada habisnya untuk menuju akhirat.
Habib Umar bin Hafidz bersama KH. Abdullah Faqih


Kemuliaan Ummat Muhammad
Kemuliaan yang akan kita bicarakan ini adalah pembeda antara yang haq dan yang batil dan antara kesesatan dan hidayah. Karena ini merupakan sebuah kekhususan perbedaan  yang tidak ada didalam yang haq dan batil . Apa yang mereka (orang sesat) perjuangkan tidak akan berguna didunia mau pun akhirat. Mereka terkadang mengaku-mengaku dengan pengakuan yang tidak benar dengan menunjukkan bahwa mereka memberikan kebaikan dan menganggap bahwa mereka dapat memberi manfaat didalam hal-hal yang sirna.
            Apa yang mereka klaim terhadap diri mereka baik itu terjadi atau pun tidak, namun saat menjelang sakaratul maut semua akan menjadi gugur, dan sis-sia. Alhamdulillah kita bersyukur terhadap Allah atas anugerah yang Dia berikan kepada kita semua atas agama, sanad , ilmu, bekal yang agung ini. Semuanya adalah untuk kita agar meraih kerajaan yang agung. 
Di dalam akal orang yang telah diberikan cahaya oleh Allah SWT., meninggalkan kerajaan duniawi setelah dia mampu menguasainnya. Walau pun dia dapat menguasainnya selama 1000 tahun, 2000 tahun atau 3000 tahun, dia tinggalkan itu semua untuk mengambil imbalan yang lebih baik berupa kerajaan yang abadi disisi Allah SWT. Ia merupakan orang sukses dan beruntung. Karenanya kita bersyukur kepada Allah karena memiliki hubungan yang mulia ini.

Hubungan Khusus
Ini merupakan keagungan karena selalu terhubung dengan Allah SWT. yang maha agung, abadi, mulia, dan hidup. Dan tidak ada seseorang yang dapat meraihnya, kecuali dia mendapat anugerah Allah yang dia dapatkan melalui nabi dan rasul. Dan para rasul tersebut telah ditutup dengan nabi kita yang diutus kepada kita sekalian, nabi besar Muhammad SAW., Pemimpin sekalian nabi dan rasul. Maka sebaiknya dia tahan hingga dapat memiliki nabi Muhammad.
Bagian yang kita dapat dari nabi-nabi adalah nabi Muhammad, Dan beliaulah orang yang semua nabi bernaung dibawah naungan langit dari benderanya SAW. esok dihari kiamat. Sungguh kita bersyukur kepada Allah yang telah mengkhususkan kita dengan nabi Muhammad. Semoga Allah berkenan mengumpulkan kita dengan Rasulullah. Mempererat hubungan kita dengan Rasulullah. menghidupkan kita dalam membela ajarannya, mewafatkan kita dalam ajarannya, dan menggugurkan kita dalam barisannya. Sungguh, sebuah penyesalan bagi orang-orang yang bagian dari umat yang mulia ini, namun, ia rela mengganti peneladanan.  Dia buang itu semua dan mengikuti kepada orang-orang yang sesat, jahat, fasiq. Ia ridlo kepada kemungkaran, kepada pemikiran orang yang sesat, roidlo oleh hiasan duniawi, sehingga ia rela sunnahnya Rasulullah Saw. berkurang didalam dirinya, keluarganya, rumahnya, lingkungannya,  dan didalam semuanya.
Kalau pun kita merasa sedih terhadap mereka, namun siapakah yang dapat menyelamatkan mereka wahai para kekasih?, Kitalah yang memiliki peran untuk menyelamatkan mereka dan orang-orang yang berrada di belakang mereka, yaitu orang-orang yang belum pernah beriman sebelumnya. Dan inilah pokok dan hakikat dari risalah yang diinginkan hingga sampai kepada kita. Ini adalah risalah dari Allah, yang dipikul oleh nabi Muhammad. Beliau diutus oleh Allah sebagai pemberi rahmat dan kasih sayang terhadap manusia, jin dan malaikat.
           
            Lemahnya Pemikiran Mereka
Sungguh yang mengutus kita untuk memikirkan pemikiran-pemikiran yang utama dan benar itu, adalah karena lemahnya kita dalam mengambil hakikat hakikat agama. Orang yang telah mencapai hakikat dari pada rukun- rukun agama, hati mereka penuh dengan kasih saying , ta’dzim terhadap Allah,  dan kepedulian terhadap sesama hamba Allah. Merupakan sesuatu yang aneh, jika ada seseoang yang atas nama islam, mengaku-ngaku telah mencapai hakikat islam, atau mengaku bahwa ia adalah orang yang mempunyai peran basar dalam menyebarkan dakwah islam atau membela islam. Namun, nas-nas dalam syari’at yang ada dalam agama, memutuskan bahwa orang ini jauh dari tahabbub, dari mencapai terhadap hakikat islam, iman, apalagi hakikat ihsan.
Seandainya, bentuk fisik dari rukun-rukun islam dia jalankan, namun, kemana orang tersebut dalam konsep muslim sejati yang disebutkan Rasulullah SAW. Dalam hadistnya, “Muslim sejati adalah yang membuat muslim lain selamat dari gangguan lidah dan lisannya”. Lalu kemana hakikat muslim sejati seperti itu yang timbul dari jiwa nabi Muhammad SAW?.
Kemudian kita lihat mereka yang mengaku membela islam, namun tidak ada dalam satu hari orang islam yang selamat dari lidahnya. Tiap hari pasti ada orang lain yang menjadi korban lidahnya. Lalu bentuk pembelaan apa yang ia lakukan terhadap orang islam? Tiap hari ia caci orang islam,  menggunjing, menggosip, mengadu domba, dan mengganggu orang islam. Maka islam bagaimana yang ia aku dan ia ajak orang lain kepadanya. Jangan-jangan ia mengajarkan senuatu yang lain. Bukan islam yang dibawa oleh nabi Muhammad. Adapun islam yang dibawa nabi Muhammad, bertentangan dengan pembawaan dan cara mereka. 

Tunggu Kelanjutannya....  atau klik disini

Komentar