Mengetahui Konsep Islam
Seseungguhnya hadist tentang
konsep islam tersebut mengingatkan pada kita bahwa dua kalimat syahadat itu
mencabut dari hati orang yang berikrar dengannya, kinginan berbuat kejahatan
dan mencabut kejahatan. Sehingga ia tidak berfikiran jahat terhadap kaum
muslimin.
Dicabut kejahatan atas berkat dua kalimat syahadat dari hati kaum
muhlimin.
Bagaimana sebuah hadist yang
sohih dari nabi kita, mengisarahkan bahwa tidak ada pencapaian hakikat dari
islam tersebut, seseorang yang telah keluar dari mayoritas, tataran ini tidak
akan mempu mencapai hakikat islam manakala ia keluar dari jama’ah kaum muslimin
dengan dalih apapun. Hadist ini dirawayatkan oleh Muhammad bin abdurrazaq
al-Haitami. Rasulullah SAW. Berkata: “Aku memerintah kepada kalian 5
perkara. Untuk mendengarkan dan menta’ati. Ikut pada kelompok jama’ah, khidmah dan
jihad (Jidah di jalan Allah). Maka barang siapa yang keluar dari kelompok
jama’ah satu jengkal saja, kalung islam telah lepas dalam dirinya. Barang siapa
yang megaku-ngaku ataupun menggunakan panggilan jahiliyyah, maka ia termasuk
kedalam penghuni jahannam”. Nabi Muhhammad SAW. ditanya “Walau pun mereka
melakukan puasa dan shalat?”. Nabi menjawab. “Ya, walaupun mereka
melakanakan puasa dan shalat”.
Disini tidaklah hanya sekedar
mengandalkan pandangan bentuk fisik dari islam tanpa tanpa hakikat ajaran
islam. Kita harus menjalankan hakikat islam. Agar kita menjadi bercahaya, dan
menerangi orang lain, Menjadi suci dan mensucikan orang lain, selamat dan menyelamatkan orang lain, menempuh
jalan hidayah dan membawa hidayah bagi orang lain.
Dalam hadist disebutkan “Laksanakan
dengar dan ta’at” dan juga memerintahkan untuk menetapi jama’ah. Maka dalam
ma’na mendengar dan menta’ati itu mengandung ma’na-ma’na lain yang banyak dan disebutkan
dalam hadist tadi. Diantara hadist yang menyatakan untuk menaati pemimpin
pemerintah didalam hal-hal yang sesuai dengan syari’at dan tidak melanggar
syari’at agama islam, adalah tidak melakukan pemberontakan terhadap
pemerintahan, kecuali apabila melihat kekafiran yang terang-terangan. Dan bukan
hal yang tidak nyata bagi kita sekalian didalam makna yang berkaitan tentang
jama’ah, bahwasannya dari keluarga rasulullah SAW. Dan pewaris-pewaris beliau
serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebenar-benarnya, adalah
bagaimana mereka, orang-orang yang besar, selalu bersama jama’ah dan tidak
keluar dari pada perjalanan dan apa yang diajarkan kelompok mayoritas islam.
Ahlu Sunnah Wal Jama’ah
Dan senantiasa sikap
ahlusunnah wal jama’ah yang mana disifatkan sebagai kelompok yang benar, mulai
dari orang-orang yang mengikuti para sahabat dan para keluarga nabi besar
Muhammad SAW.
Dan sifat ini, melekat pada
mereka setelah abad pertama, setelah dari pada pengikut-pengikut as’ariyyah,
maturidiyah, dan madzhab yang 4. Dan mereka yang ini semualah yang tercetak
dalam diri mereka sifat ahlu sunnah wal jama’ah. Tidak berbahaya/ berpengaruh se
gala hal dari orang yang ingin memberikan tuduhan sebagai golongan ahli bid’ah
atau lain sebagainya, hal itu tidak mempunyai pemngaruh dari kebenaran yang
kita miliki. Jangan sampai kita tertipu orang-orang yang bertentangan dengan
ajaran jama’ah ini, sebab kita telah mendapatkan sifat tersebut dan dilekatkan
oleh Rasulullah SAW.
Sungguh, yang menjadi
penentuan itu adalah hakikat yang kita miliki. Karena itu kita menginginkan
mencapai hakikat dengan rukun-rukun agama. Dan merekalah, para ahlu sunnah wal
jama’ah, kelompok mayoritas yang diisyaratkan didalam hadist nabi Muhammad SAW.
Mereka adalah kelompok yang terus-menerus ada hingga akhir zaman, yang tidak
mengganggu dan membahayakan orang yang mencela dan menghujat.
Diantara mereka yang dikenal
sebagai ahlusunnah wal jama’ah adalah wali songo yang dikenal menyebarkan islam
dibumi Indonesia ini. Dan diantara
bagian ahlu sunnah wal jama’ah ini adalah warisan dari para ulama’ yang
disebutkan para masyayikh dan guru-guru kita diantaranya adalah kiai Hasyim
Asy’ari rahimahumullahu anhu. Dan juga orang-orang yang turut bersama
beliau dan membela apa yang beliau lakukan. Hingga kita megenal dan melihat
diantara orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebenar-benarnya, adalah guru
kita, yang mengajar di ma’had ini, yang mulia, almarhum KH. Abdullah
Faqih rahimahullah. Semoga Allah mengangkat derajat dan kedudukan mereka
disurga yang abadi. Dan Allah Ta’ala melipat gandakan keberkahan dianak-anak
beliau dan segenap keturunan beliau didalam kebaikan. Dan Allah SWT. insya
Allah selalu melanggengkan anak-anak beliau, didalam keadaan selalu mengasihi,
mencintai, dan menyebarkan kasih sayang dengan cinta di bumi yang penuh
keberkahan ini. Dan Allah SWT. menganugerahkan kepada kita pandangan rahmatnya
sehingga Allah memasukkan kita keadalam benteng kaum shalihin.
Membenci Sunnah Jahiliyyah
Diantara hakikat islam adalah
membenci semua sunnah-sunnah ajaran jahiliyyah, yang bertentangan dengan ajaran
islam. Sebagaimana yang kita pelajari dalam kitab shohih bukhori, tentang
orang-orang yang paling dibenci oleh Allah SWT. ada 3 orang. Diantaranya
adalah, Orang yang berada dijalan islam, tapi masih mencari ajaran sunnah
jahiliyah.
Diantara orang-orang yang
mengikuti sunnah jahiliyah adalah kefanatikan akan suatu kebatilah/kemungkaran.
Dia rela membelanya karena fanatik akan sunnah jahiliyah. Ia adalah orang yang ingin
selalu membalas dendam, mencari dan menumpahkan darah orang lain tanpa hak,
sampai dia melakukan pembunuhan tersebut. Hingga apabila ada orang yang berbeda
dari pendapatnya ia berkata “Ini sudah keluar dari islam dan halal darahnya
untuk ditumpahkan”. Apabila ia terhalang untuk meraih kursi di pemerintahan dia
menganggap “ini bertentangan dengan islam dan darahnya halal untuk dibunuh”.
Sehingga kita mengenal didalam
sejarah, sejak dahulu hingga sekarang ini, orang-orang yang mengejar jabatan
dan pemerintahan, mereka mengaku demi membela islam. Me reka berkata: “Saya membela
islam dan dia adalah orang-orang kafir”. Mereka suarakan Allahu akbar, Allahu
akbar, lailaaha illallah, tapi mereka saling membunuh, saling menembak.
Sekarang kita melihat
orang-orang yang seperti itu. Hanya sekedar
ucapan-ucapan yang mereka kumandangkan dilidah mereka, tapi hakikatnya
tidak ada. Seandainya mereka telah mencapai daripada hakikat islam, maka
pemikiran-pemikiran tersebut tidak akan berhasil menipu mereka hingga
menyebabkan perseturuan dan dan pembunuhan diantara mereka, satu sama lain.
Hal Yang Ditakutkan Nabi
Itu semua dijadikan sebagai
senjata bagi mereka yang memusuhi terhadap orang-orang islam. Yang senjata itu
menghunus tajam dari dua sisi. Dan dengan senjata tersebut dia ingin meluruskan
apapun yang dia inginkan dari musuh islam diantara kaum muslimin. Dia juga
memberikan citra yang buruk tentang islam, sehingga orang-orang non muslim
menjadi enggan ketika islam dihadapkan pada mereka, padahal yang mereka dengar
itu tidak benar. Mereka membantu kekufuran dengan memberikan terhadap
orang-orang kafir anggapan sebagai orang islam yang tidak benar. Dan hal ini
juga diterang kan oleh imam at-Thabaroni dalam Muad al-Kabir, Rasulullah
SAW. bersabda: “Hal yang paling aku tajkutkan terhadap umatku adalah 3
perkara”.
1. seseorang yang membaca kitab Allah, hingga
menguasainya, kemudian dia memakai sorban-sorban keislaman, tapi kemudian ia
melihat dari tetangganya, dan menuduh masyarakatnya dari pada kesyirikan dan
menghunus pedangnya kepada mereka.
Artinya, disini orang itu
bejar al-Qur’an, menguasainya dan hafal, namun fikirannya teracuni, hingga ia
berperasangka “oh, ini orang kafir, syirik, bid’ah, ini orang yang tidak benar”.
Dia mulai berani mengkafirkan orang lain dari keluarga, dan orang lain dari
ummat islam. Dia menghunuskan pedangnya, dan dia tebas orang-orang yang berada
dilingkungannya, tetangganya, dan menuduh mereka dengan tuduhan syirik. Maka
sahabat bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sebenarnya yang lebih syirik
itu yang menuduh, atau yang dituduh?’. Nabi menjawab, “Justru yang menuduh itu,
dia lebih dekat dari pada kesyirikan dari pada yang menuduh itu”.
2. Seseorang yang diberikan
kepeminpinan/jabatan dipemerintahan, dan dia mengklaim “Yang taat pada saya,
berarti ia taat pada Allah, yang melanggar saya, berarti ia melanggar Allah”.
Maka, orang ini dusta, sebab seorang khalifah tidak bisa kecintaannya itu,
melebihi dari pada kecintaan terhadap Allah ta’ala.
Sekarang banyak orang-orang
yang mengaku dari Negara-negara yang mengatakan bahwa “Orang yang mengikuti
kita berarti orang islam dan orang yang tidak mengikuti kita berarti keluar
dari islam, dan menjadi musuh islam”.
Sesungguhnya kerusuhan dan
kehancuran yang terjadi ditengah-tengah umat islam adalah maksud dan tujuan
mereka agar umat islam saling bermusuhan dan berselisih, saling hasut, dan saling
rebut satu sama lain. Itu semua merupakan gerakkan dari kelompok kaum muslimin
yang mengatakan “Saya orang islam dan orang dan orang yang tidak sama dengan
saya, berarti bukan orang islam”. Dibelakang mereka semua, ada orang-orang
kafir yang ingin membuat kekacauan melalui tangan-tangan orang islam yang
mengaku-ngaku islam tersebut, sehingga mereka lebih banyak merugikan islam dan
muslimin.
Namun para khalifah zaman
dahulu yang membawa kebenaran, senantiasa tidak pernah mengklaim hal-hal yang
demikian. Tapi mereka mengatakan “Seandainya aku istijabah (diterima), maka bantulah aku.
Namun apabila aku menyimpang, maka luruskanlah aku”. Mereka tidak mengklaim
dengan klaim-klaim yang tidak benar. Sehingga ada salah satu orang Arab dari
pegunungan, ketika dihadapan sayyidina Abu Bakar as-shiddiq ia berkata: “Apabila
kami melihat engkau melenceng, maka kami meluruskan engkau dengan pedang kami”.
Dan khalifah sayyidina Abu Bakar menerima ucapan ini dari orang yang hina, dan
ia tidak marah. Ia tidak pernah mengatakan “Ini pemberontakan” atau “Dia adalah
oposisi yang melawan saya”. Ia juga tidak pernah memerintahkan untuk dipenjarakan
seseorang yang dianggap mengganggu.
Sungguh dusta orang-orang yang
mengklaim sebagai Negara-negara atau pun organisasi kebebasan, padahal tidak
ada didalam diri mereka sepersepuluh atau kurang darinya, dari apa yang
dilakukan oleh manusia terpilih dan suci didalam membiarkan orang-orang yang
mengucapkan ucapan tersebut dan membiarkannya. Kebebasan yang mereka bawa itu
tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kebebasan yang dibawa umat islam.
3. Adalah orang yang tidak
punya pilihan dan gampang terbawa oleh setiap kejadian yang terjadi. Apabila
ada suatu pemikiran yang baru, dia terbawa untuk berkumpul bersama mereka, dan
mrengikuti apa yang dianggap baik oleh pemikiran itu. Ia gampang terpengaruh dan
tidak mempunyai pendirian sama sekali. Apabila terjadi sesuatu, ia menyampaikan
dengan lebih dari pada apa yang ia dapat.
Seandainya ia berjumpa dengan
datangnya dajjal, pasti ia akan ikut pada dajjal. Kelompok ini adalah kelompok
yang Rasullullah kuatirkan pada umat ini. Dan sekarang sudah banyak ummat-ummat
yang seperti ini. Maka marilah kita berdo’a kepada Allah Ta’ala, dengan do’a
yang diajarkan oleh Rasulullah kepada sahabat-sahabat nya. Rasulullah SAW.
Besabda:”Maukah engkau akau ajarkan sebuah do’a, yang apa bila Allah
menginginkan hambanya kebaikan, maka ia akan mengajarkan do’a ini. Katakanlah:
اللهم ّ انّى ضعيف فدوّه رضاك واعف وفضّل
الخير بناصيتى واجعل الاسلام منتهى رضاي وبلّغني برحمتك الذى اليه ارجو من رحمتك
Inilah hadist yang shohih yang
diriwayatkan nabi.
Tunggu kelanjutannya.. klik di sini

Komentar
Posting Komentar