Ceramah Habib Umar bin Hafidz di Langitan; Mengenal Hakikat Islam, Iman, dan Ihsan Part 2



Mengetahui Konsep Islam
Seseungguhnya hadist tentang konsep islam tersebut mengingatkan pada kita bahwa dua kalimat syahadat itu mencabut dari hati orang yang berikrar dengannya, kinginan berbuat kejahatan dan mencabut kejahatan. Sehingga ia tidak berfikiran jahat terhadap kaum muslimin.
Dicabut kejahatan atas berkat dua kalimat syahadat dari hati kaum muhlimin.
Bagaimana sebuah hadist yang sohih dari nabi kita, mengisarahkan bahwa tidak ada pencapaian hakikat dari islam tersebut, seseorang yang telah keluar dari mayoritas, tataran ini tidak akan mempu mencapai hakikat islam manakala ia keluar dari jama’ah kaum muslimin dengan dalih apapun. Hadist ini dirawayatkan oleh Muhammad bin abdurrazaq al-Haitami. Rasulullah SAW. Berkata: “Aku memerintah kepada kalian 5 perkara. Untuk mendengarkan dan menta’ati. Ikut pada kelompok jama’ah, khidmah dan jihad (Jidah di jalan Allah). Maka barang siapa yang keluar dari kelompok jama’ah satu jengkal saja, kalung islam telah lepas dalam dirinya. Barang siapa yang megaku-ngaku ataupun menggunakan panggilan jahiliyyah, maka ia termasuk kedalam penghuni jahannam”. Nabi Muhhammad SAW. ditanya “Walau pun mereka melakukan puasa dan shalat?”. Nabi menjawab. “Ya, walaupun mereka melakanakan puasa dan shalat”.
Disini tidaklah hanya sekedar mengandalkan pandangan bentuk fisik dari islam tanpa tanpa hakikat ajaran islam. Kita harus menjalankan hakikat islam. Agar kita menjadi bercahaya, dan menerangi orang lain, Menjadi suci dan mensucikan orang lain,  selamat dan menyelamatkan orang lain, menempuh jalan hidayah dan membawa hidayah bagi orang lain.
Dalam hadist disebutkan “Laksanakan dengar dan ta’at” dan juga memerintahkan untuk menetapi jama’ah. Maka dalam ma’na mendengar dan menta’ati itu mengandung ma’na-ma’na lain yang banyak dan disebutkan dalam hadist tadi. Diantara hadist yang menyatakan untuk menaati pemimpin pemerintah didalam hal-hal yang sesuai dengan syari’at dan tidak melanggar syari’at agama islam, adalah tidak melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan, kecuali apabila melihat kekafiran yang terang-terangan. Dan bukan hal yang tidak nyata bagi kita sekalian didalam makna yang berkaitan tentang jama’ah, bahwasannya dari keluarga rasulullah SAW. Dan pewaris-pewaris beliau serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebenar-benarnya, adalah bagaimana mereka, orang-orang yang besar, selalu bersama jama’ah dan tidak keluar dari pada perjalanan dan apa yang diajarkan kelompok mayoritas islam.

Ahlu Sunnah Wal Jama’ah
Dan senantiasa sikap ahlusunnah wal jama’ah yang mana disifatkan sebagai kelompok yang benar, mulai dari orang-orang yang mengikuti para sahabat dan para keluarga nabi besar Muhammad SAW.
Dan sifat ini, melekat pada mereka setelah abad pertama, setelah dari pada pengikut-pengikut as’ariyyah, maturidiyah, dan madzhab yang 4. Dan mereka yang ini semualah yang tercetak dalam diri mereka sifat ahlu sunnah wal jama’ah. Tidak berbahaya/ berpengaruh se gala hal dari orang yang ingin memberikan tuduhan sebagai golongan ahli bid’ah atau lain sebagainya, hal itu tidak mempunyai pemngaruh dari kebenaran yang kita miliki. Jangan sampai kita tertipu orang-orang yang bertentangan dengan ajaran jama’ah ini, sebab kita telah mendapatkan sifat tersebut dan dilekatkan oleh Rasulullah SAW.
Sungguh, yang menjadi penentuan itu adalah hakikat yang kita miliki. Karena itu kita menginginkan mencapai hakikat dengan rukun-rukun agama. Dan merekalah, para ahlu sunnah wal jama’ah, kelompok mayoritas yang diisyaratkan didalam hadist nabi Muhammad SAW. Mereka adalah kelompok yang terus-menerus ada hingga akhir zaman, yang tidak mengganggu dan membahayakan orang yang mencela dan menghujat.
Diantara mereka yang dikenal sebagai ahlusunnah wal jama’ah adalah wali songo yang dikenal menyebarkan islam dibumi Indonesia ini. Dan diantara  bagian ahlu sunnah wal jama’ah ini adalah warisan dari para ulama’ yang disebutkan para masyayikh dan guru-guru kita diantaranya adalah kiai Hasyim Asy’ari rahimahumullahu anhu. Dan juga orang-orang yang turut bersama beliau dan membela apa yang beliau lakukan. Hingga kita megenal dan melihat diantara orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebenar-benarnya, adalah guru kita, yang mengajar di ma’had ini, yang mulia, almarhum KH. Abdullah Faqih rahimahullah. Semoga Allah mengangkat derajat dan kedudukan mereka disurga yang abadi. Dan Allah Ta’ala melipat gandakan keberkahan dianak-anak beliau dan segenap keturunan beliau didalam kebaikan. Dan Allah SWT. insya Allah selalu melanggengkan anak-anak beliau, didalam keadaan selalu mengasihi, mencintai, dan menyebarkan kasih sayang dengan cinta di bumi yang penuh keberkahan ini. Dan Allah SWT. menganugerahkan kepada kita pandangan rahmatnya sehingga Allah memasukkan kita keadalam benteng kaum shalihin.

Membenci Sunnah Jahiliyyah
Diantara hakikat islam adalah membenci semua sunnah-sunnah ajaran jahiliyyah, yang bertentangan dengan ajaran islam. Sebagaimana yang kita pelajari dalam kitab shohih bukhori, tentang orang-orang yang paling dibenci oleh Allah SWT. ada 3 orang. Diantaranya adalah, Orang yang berada dijalan islam, tapi masih mencari ajaran sunnah jahiliyah.
Diantara orang-orang yang mengikuti sunnah jahiliyah adalah kefanatikan akan suatu kebatilah/kemungkaran. Dia rela membelanya karena fanatik akan sunnah jahiliyah. Ia adalah orang yang ingin selalu membalas dendam, mencari dan menumpahkan darah orang lain tanpa hak, sampai dia melakukan pembunuhan tersebut. Hingga apabila ada orang yang berbeda dari pendapatnya ia berkata “Ini sudah keluar dari islam dan halal darahnya untuk ditumpahkan”. Apabila ia terhalang untuk meraih kursi di pemerintahan dia menganggap “ini bertentangan dengan islam dan darahnya halal untuk dibunuh”.
Sehingga kita mengenal didalam sejarah, sejak dahulu hingga sekarang ini, orang-orang yang mengejar jabatan dan pemerintahan, mereka mengaku demi membela islam. Me reka berkata: “Saya membela islam dan dia adalah orang-orang kafir”. Mereka suarakan Allahu akbar, Allahu akbar, lailaaha illallah, tapi mereka saling membunuh, saling menembak.
Sekarang kita melihat orang-orang yang seperti itu. Hanya sekedar  ucapan-ucapan yang mereka kumandangkan dilidah mereka, tapi hakikatnya tidak ada. Seandainya mereka telah mencapai daripada hakikat islam, maka pemikiran-pemikiran tersebut tidak akan berhasil menipu mereka hingga menyebabkan perseturuan dan dan pembunuhan diantara mereka, satu sama lain.

Hal Yang Ditakutkan Nabi
Itu semua dijadikan sebagai senjata bagi mereka yang memusuhi terhadap orang-orang islam. Yang senjata itu menghunus tajam dari dua sisi. Dan dengan senjata tersebut dia ingin meluruskan apapun yang dia inginkan dari musuh islam diantara kaum muslimin. Dia juga memberikan citra yang buruk tentang islam, sehingga orang-orang non muslim menjadi enggan ketika islam dihadapkan pada mereka, padahal yang mereka dengar itu tidak benar. Mereka membantu kekufuran dengan memberikan terhadap orang-orang kafir anggapan sebagai orang islam yang tidak benar. Dan hal ini juga diterang kan oleh imam at-Thabaroni dalam Muad al-Kabir, Rasulullah SAW. bersabda: “Hal yang paling aku tajkutkan terhadap umatku adalah 3 perkara”.
1.  seseorang yang membaca kitab Allah, hingga menguasainya, kemudian dia memakai sorban-sorban keislaman, tapi kemudian ia melihat dari tetangganya, dan menuduh masyarakatnya dari pada kesyirikan dan menghunus pedangnya kepada mereka.
Artinya, disini orang itu bejar al-Qur’an, menguasainya dan hafal, namun fikirannya teracuni, hingga ia berperasangka “oh, ini orang kafir, syirik, bid’ah, ini orang yang tidak benar”. Dia mulai berani mengkafirkan orang lain dari keluarga, dan orang lain dari ummat islam. Dia menghunuskan pedangnya, dan dia tebas orang-orang yang berada dilingkungannya, tetangganya, dan menuduh mereka dengan tuduhan syirik. Maka sahabat bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sebenarnya yang lebih syirik itu yang menuduh, atau yang dituduh?’. Nabi menjawab, “Justru yang menuduh itu, dia lebih dekat dari pada kesyirikan dari pada yang menuduh itu”.
2. Seseorang yang diberikan kepeminpinan/jabatan dipemerintahan, dan dia mengklaim “Yang taat pada saya, berarti ia taat pada Allah, yang melanggar saya, berarti ia melanggar Allah”. Maka, orang ini dusta, sebab seorang khalifah tidak bisa kecintaannya itu, melebihi dari pada kecintaan terhadap Allah ta’ala. 
Sekarang banyak orang-orang yang mengaku dari Negara-negara yang mengatakan bahwa “Orang yang mengikuti kita berarti orang islam dan orang yang tidak mengikuti kita berarti keluar dari islam, dan menjadi musuh islam”.
Sesungguhnya kerusuhan dan kehancuran yang terjadi ditengah-tengah umat islam adalah maksud dan tujuan mereka agar umat islam saling bermusuhan dan berselisih, saling hasut, dan saling rebut satu sama lain. Itu semua merupakan gerakkan dari kelompok kaum muslimin yang mengatakan “Saya orang islam dan orang dan orang yang tidak sama dengan saya, berarti bukan orang islam”. Dibelakang mereka semua, ada orang-orang kafir yang ingin membuat kekacauan melalui tangan-tangan orang islam yang mengaku-ngaku islam tersebut, sehingga mereka lebih banyak merugikan islam dan muslimin.
Namun para khalifah zaman dahulu yang membawa kebenaran, senantiasa tidak pernah mengklaim hal-hal yang demikian. Tapi mereka mengatakan “Seandainya aku istijabah (diterima), maka bantulah aku. Namun apabila aku menyimpang, maka luruskanlah aku”. Mereka tidak mengklaim dengan klaim-klaim yang tidak benar. Sehingga ada salah satu orang Arab dari pegunungan, ketika dihadapan sayyidina Abu Bakar as-shiddiq ia berkata: “Apabila kami melihat engkau melenceng, maka kami meluruskan engkau dengan pedang kami”. Dan khalifah sayyidina Abu Bakar menerima ucapan ini dari orang yang hina, dan ia tidak marah. Ia tidak pernah mengatakan “Ini pemberontakan” atau “Dia adalah oposisi yang melawan saya”. Ia juga tidak pernah memerintahkan untuk dipenjarakan seseorang yang dianggap mengganggu.
Sungguh dusta orang-orang yang mengklaim sebagai Negara-negara atau pun organisasi kebebasan, padahal tidak ada didalam diri mereka sepersepuluh atau kurang darinya, dari apa yang dilakukan oleh manusia terpilih dan suci didalam membiarkan orang-orang yang mengucapkan ucapan tersebut dan membiarkannya. Kebebasan yang mereka bawa itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kebebasan yang dibawa umat islam.
3. Adalah orang yang tidak punya pilihan dan gampang terbawa oleh setiap kejadian yang terjadi. Apabila ada suatu pemikiran yang baru, dia terbawa untuk berkumpul bersama mereka, dan mrengikuti apa yang dianggap baik oleh pemikiran itu. Ia gampang terpengaruh dan tidak mempunyai pendirian sama sekali. Apabila terjadi sesuatu, ia menyampaikan dengan lebih dari pada apa yang ia dapat.
Seandainya ia berjumpa dengan datangnya dajjal, pasti ia akan ikut pada dajjal. Kelompok ini adalah kelompok yang Rasullullah kuatirkan pada umat ini. Dan sekarang sudah banyak ummat-ummat yang seperti ini. Maka marilah kita berdo’a kepada Allah Ta’ala, dengan do’a yang diajarkan oleh Rasulullah kepada sahabat-sahabat nya. Rasulullah SAW. Besabda:”Maukah engkau akau ajarkan sebuah do’a, yang apa bila Allah menginginkan hambanya kebaikan, maka ia akan mengajarkan do’a ini. Katakanlah:
اللهم ّ انّى ضعيف فدوّه رضاك واعف وفضّل الخير بناصيتى واجعل الاسلام منتهى رضاي وبلّغني برحمتك الذى اليه ارجو من رحمتك
Inilah hadist yang shohih yang diriwayatkan nabi. 

Tunggu kelanjutannya.. klik di sini

Komentar