Sebagai seorang muslim yang taat
tentunya kita harus sadar bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupan
kita.
Ketika satu cobaan sudah berlalu maka cobaan lain akan datang menyapa.
Allah Swt telah berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya Aku telah
menciptakan manusia berada dalam susah payah” (Q.S.
al-Balad: 4)
Makna ‘kabad’ dalam
ayat di atas adalah sengsara, menderita, susah-payah karena musibah-musibah di
dunia dan kesulitan-kesulitan akhirat. Karena hidup di dunia
adalah ujian, Allah Swt berfirman: “Dialah yang menjadikan mati
dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik
amalnya. Dan Dia lebih Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.S. al-Mulk
[67]: 2).
Cobaan atau ujian tidak
selalu identik dengan kesusahan, kemelaratan, sakit dan lain-lain yang tidak
menyenangkan, tapi cobaan bisa juga berupa kemudahan, kesuksesan, harta
berlimpah, jabatan yang tinggi. Cobaan bisa menjadi musibah atau nikmat
tergantung cara kita menyikapinya. Hakikat musibah atau bencana adalah segala
sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa menjauhkan kita dari Allah
Swt, sedang hakikat nikmat adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun
kemudahan) yang bisa mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Kebetulan di saat ini kita
memasuki bulan Shafar yang merupakan bulan kedua dalam kalender Islam. Bulan
yang diyakini oleh banyak orang membawa banyak kesialan atau balak (musibah).
Harus kita pahami bahwa sebagaimana
bulan lainnya, Shafar juga merupakan bulan dari bulan-bulan Allah yang tidak
memiliki kehendak untuk menurunkan balak atau cobaan, karena semuanya itu hanya
Allah yang mampu Menciptakan.
Masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial (Tasa'um). Anggapan sial ini telah dikenal pada umat Jahiliah. Karena itulah Nabi Saw. kemudian membantah mereka
dengan sebuah hadis:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ:
إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَاعَدْوَى وَلَاصَفَرَ وَلَاهَامَةَ. رواه البخاري ومسلم
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra.,
Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada kepercayaan datangnya sial dari bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati, rohnya akan menjadi burung yang terbang.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun hingga saat ini, sisa-sisa kepercayaan tersebut ternyata masih tetap melekat dan membekas di kalangkan muslimin, termasuk masyarakat Jawa yang menyebutnya dengan ‘Rebo Wekasan’.
Bukan tanpa alasan, karena memang ada sebagian ahli makrifat dari ahli kasyf dan tamkin yang mengatakan “Pada setiap tahun akan turun 320.000 cobaan, dan kesemuanya akan turun pada hari Rabu terakhir dari bulan Shafar. Maka hari itu akan menjadi hari paling sulit dibanding hari-hari biasanya”. Juga ada hadis Nabi Saw dengan sanad yang lemah (dhaif),
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَاعَنِ
النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ
أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ.
“Dari Ibnu Abbas r.a, Nabi Saw bersabda: “Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya sial terus.” (HR. Waki’ dalam Al-Ghurar,
Ibnu Mardawaih dalam Al-Tafsir dan Al-Khathib al-Baghdadi).
Memang, hadis di atas kedudukannya lemah. Namun
posisinya tidaklah menunjukkan suatu hukum tapi berkaitan dengan anjuran dan
peringatan (targhib dan tarhib), yang otoritasnya disepakati oleh
ahli hadis sejak generasi salaf. Tapi jika hadis di atas dikomparasikan
dengan hadis lain yang sahih, maka dapat di simpulkan bahwa kesialan yang
terjadi terus-menerus itu hanya bagi orang-orang yang meyakininya saja.
Sedangkan mengenai karamah ulama yang jelas-jelas melihat bencana turun, itu
tetap harus di yakini oleh golongan Ahlusunnah.
Terlepas dari banyaknya silang pendapat mengenai banyaknya cobaan atau musibah berikut amalan di bulan Shafar (Rebo Wekasan), yang terpenting untuk kita pahami, bahwa yang mendatangkan semua balak (musibah) adalah Allah Swt. Kalaupun toh memang banyak musibah terjadi di bulan ini, maka kita harus lebih bersabar, mendekatkan diri (taqarrub) kepadaNya, tetap berkhusnudzan kepadaNya, introspeksi diri, bertaubat, meminta kawelasan dan keselamatan kepadaNya dengan cara menjalankan amalan-amalan yang tidak tidak melenceng jauh dari ajaran Islam, seperti memperbanyak salat-salat sunah (hajat, tahajud atau yang lain), bersedekah, memperbanyak shalawat, istighatsah, dll. Dengan begitu, kita menjadi orang yang sukses menghadapi cobaan tersebut, sehingga berbuah nikmat dan anugerah. Wallahu a’lam.

Komentar
Posting Komentar