Hem…
‘Keamanan itu rese’. Selalu mencampuri urusan orang lain. Mengganggu
tidur, mengganggu waktu santai, dan tidak tahu waktu, kalau orang sedang
ngantuk.’
‘Ibu itu bawel. Nyuruh ini lah, itu lah. Aku tuh sudah besar, kenapa sih
terus mengatur?! Urus saja urusan ibu sendiri.’
‘Ustadz itu kejam. Nyuruh hafalan, padahal, lagi males-malesnya. Galau!.
Kalau nggak hapal, pasti langsung mukul. Menyiksa!.’
‘Teman-teman…, aku nggak butuh!. Semuanya individualis, semaunya sendiri.
Selalu mengejek dan nggak tahu perasaan. Mereka teman nggak sih?! Sakitnya tuh
disini!.’
By: Gue.
Percaya atau tidak, sering terlintas dalam benak kita,
fikiran-fikiran negatif yang membuat hati kita mendidih. Peluapannya pun
variatif, ada yang cemen dengan hanya ngrasani, ada yang
mengumpat, bahkan sampai ngejak gelot!.
Hidup bukan untuk sendiri, kita sering menyalahkan orang lain yang
mengganggu keinginan kita. Padahal, orang lain pun berhak untuk memilih
keinginannya. Terkadang, orang yang tidak kita sukai, adalah ‘mereka yang
spesial di hati kita’. Tapi entah, perasaan ingin bebas selalu mengajak dan
menyeret pada jalur yang tidak semestinya. Maklum lah…, jiwa-jiwa muda.
Kalau begitu…
‘Keamanan itu baik. Selalu mengingatkanku ketika aku salah. Mereka dengan
ikhlas membangunkanku untuk shalat malam guna menghadap Rabb, sang
penguasa jagad. Terkadang, dengan kejamnya aku tidur lagi. Tapi, mereka kembali
lagi, dengan gaya marah, agar aku mau bangun dan melatih agar aku terbiasa
bangun pagi. Terimakasih, pak. Jasa dan pengorbanan demi khidmah yang
engkau emban, aku akan selalu mengingatmu, wahai ‘para pelaksana “hukum
masyayikh” .’
‘Ibu itu penuh kasih sayang, mengomel kalau aku bebuat salah. Meskipun
sudah besar, ia masih memperhatikanku, mendidikku, dan selalu tanya jika aku
terkena masalah. Walau pun, sebenarnya masalah mereka jauh lebih besar dari apa
yang aku hadapi. Terimakasih, bu, kau adalah segalanya.’
‘Pak ustadz itu sangat perhatian. Selalu mendidik dan memperhatikan
perkembangan belajarku. Pukulan mereka adalah anugerah, marah mereka adalah
kasih sayang. Saat aku malas, mereka selalu memompa semangatku, dengan segala
cara. Meskipun, dengan bodohnya aku tidak suka cara mereka. Terimakasih, Murobby,
kau adalah pendidik jiwaku.’
‘Teman-teman, tentu aku sangat membutuhkan mereka. Mereka mengajariku
banyak hal. Tentang indahnya perbedaan, persahabatan, menghargai, dan arti
pengorbanan. Ejekan mereka adalah cinta, dan olokannya adalah perhatian.
Terimakasih, teman, kau akan ada dihatiku, selamanya.’
By: Aku
Well, sekarang, adalah saatnya merubah semua fikitan negatif
anda, menjadi fikiran positif kita. Dengan bersama kita bisa. Dengan menghargai
kita dihormati. Dengan setia kita dicinta. Dengan senyum, persahabatan akan
ranum. Karena terkadang, ‘gangguan’ mereka yang membuat kita ‘sebal’ adalah
anugerah, yang tidak akan kita temukan, dimasa depan!.
Temukan anugerah itu, dan rasakan bahwa hal-hal yang kita rasakan
mengganggu, ternyata merupakan cinta yang diberikan orang-orang disekitar kita.
Hanya cara ‘berfikir buta’ kitalah yang membuat kita kolot, hingga keras
kepala, bahkan merasa istimewa!.
Ya Robb, jadikan hambamu ini sebagai hamba yang selalu ‘husnudzon’
padamu. Jangan sampai hati hamba keras dan berkarat, hingga tak mampu melihat
secercah anugerah dan cinta, yang engkau selipkan dalam cobamu…, Amiin…

:) :-) [-(
BalasHapus