Ceramah Habib Umar bin Hafidz di Langitan; Mengenal Hakikat Islam, Iman, dan Ihsan Part 3



Mengenal Konsep Iman
Sebagaimana apa yang kita sebutkan daripada keislaman, kami pun akan menyebutkan hal yang sama dalam keimanan. Kita telah mendengar tentang apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW., Siapa itu mukmin sajati
“Demi Allah tidak beriman orang yang tidur dimalam hari dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangga disebelahnya tidur dalam keadaan lapar”. Hadist ini, mana yang terangkum dalam rukun iman yang 6 itu.
Di dalam hadist yang lain disebutkan, “Mukmin sejati adalah yang membuat mukmin lain aman, dari gangguan terhadap darah, harta, dan kehormatan mereka”. Dikatakan disini adalah gukan hanya yang membuat mukmin lain merasa aman, bukan tetangganya yang merasa aman atau muslim lain yang merasa aman, namun semua orang mereasa aman dari gangguannya.
Sebuah Kisah
Kita mengingat bahwasannya ada salah satu orang sholeh yang berasal dari hadramaut, datang ke Indonesia. Dia datang kesini, berniaga, dan berdagang. Kejadian ini terjadi sekita 40 tahun yang lalu. Dia lama tinggal disini, hingga kemudian berniat untuk pulang kekeluarganya di hadramaut.
Ketika ia akan pulang ke hadramaut. Orang-orang merasa sedih dengan kepergiannya. Dan yang paling sedih adalah tetangganya yang kebetulan bersuku toinghoa. Dia non muslim. Tapi dialah yang paling banyak menangis atas kepergian tetangganya orang sholeh tersebut.
Orang ini ditanya, “Mengapa engkau tangisi dia, padahal engkau berbeda agama dengannya”. Dia berkata “Tetangga saya ini bertahun-tahun tinggal disebelah saya dan dia tidak pernah sekalipun menatap atau pun mengintip kerumah saya, hingga saya percayakan keluarga saya, kaum wanita, saya percaya terhadap orang ini melebi orang yang seagama dengan saya”. Inilah hakikat iman, semoga Allah ta’ala menanamka pada hati kita hakikat iman.
Sebagaimana kita pernah membaca dalam sebuah hadist “Tidak beriman seseorang diantara kalian hingga ia mencintai untuk orang lain sebagaimana ia cinta untuk dirinya sendiri”. Dan juga didalam hadist shihih bukhori yang berkenaan dengan cinta, “Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga aku menjadi orang yang ia cintai melebihi dirinya, hartanya, anak-anaknya, dan semua manusia”.
Dalam hadist yang lain Rasulullah SAW. bersabda: “Cintalah kalian karena Allah dan membenci sesuatu karena Allah, membela sesuatu karena Allah dan memusuhi sesuatu karena Allah. Sesungguhnya engkau tidak akan mendapatkan pembelaan dari Allah kecuali dengan hal itu semua”.
Seseorang tidak akan bisa merasakan nikmat dan manisnya iman didalam sholat, puasa, dan
ibadahnya, hingg ia memiliki sifat-sifat yang tadi disebutkan. Ada seorang syeikh yang mengatakan, “Seandainya saya melihat orang yang sholatnya banyak, tiap siang selalu puasa, tiap malam selalu tahajud dan tidak ada tidurnya, namun ia tidak memiliki cinta karena Allah, Rasulullah, kaum shalihin, maka saya tidak menganggap orang ini kecuali hanyalah sebagai penipu dan pencuri”.
Para ulama’ salaf leluhur kita dibumi ini, mereka mencapai hakikat iman tersebut dengan kesungguhan mereka dalam cinta kepada Allah dan Rasulnya. Dan kita dapati sifat mereka dalam manaqib-manaqib, tentang bagaimana cinta mereka terhadap Allah, Rasullullah, dan auliya’. Hakikat keimanan dan keislaman itu semua diterangkan dalam manaqib riwayat kehidupan mereka.
Kisah Imam Syafi’i
Kita belajar dari ucapan imam Syafi’i yang mengatakan “Aku cinta kepada kaum shalihin walaupun aku bukan bagian dari mereka, namun semata-mata agar aku disamakan mereka”. Al imam Syekh Syafi’i pernah datang kepada seorang wali besar, ‘arif billah, yang dikenal dengan keshalihannya. Syeikh bukan orang yang memiliki ilmu dzohir, bahkan tidak bisa membaca dan menulis. Tapi dia memiliki kesholehan, kepatuhan dan kewalian yang luarbiasa, imam Syafi’i sering datang keorang ini meminta isyarah, pendapat, arahan. Setelah sampai, imam Syafi’i langsung duduk seperti duduknya anak kecih dihadapan gurunya.
Suatu kali beliau bersama imam Ahmad bin Hambal, berziarah kepada Syeik ini. Imam Ahmad berkata “Saya ingin bertanya terhadap guru ini”. Imam Syafi’i menjawab, “Silahkan”.
Imam ahmad bertanya, saat kami datang engkau sedang shalat, sekrang aku bertanya tentang apakah hukumnya orang yang lupa bilangan rakaat dalam shalatnya. Dia lupa akan rakaat, apakah dua atau tiga, kurang satu atau sudah lengkap dan sebagainya. Syeik ini menjawab, pertanyaan ini, aku jawab menurut madzhabmu, atau menurut madzhab saya?”. “Kalau begitu apa menurut madzhab kami”. Kata imam Ahmad. “Menurut madzhab kalian adalah ihtiyath (berhati-hati) sehingga ia mengambil bilangan yang paling kecil dan ditambah satu rakaat untuk meyakinkan”. “Iya benar, lalu menurut madzhabmu apa?”. “Kalau menurut madhab saya, ini adalah hati yang sangat kurang ajar terhadap Allah SWT. sampai pada jumlah rakaat saja ia lupa karena pikirannya keluyuran kemana-mana, maka ia harus di didik dengan berpuasa selama satu tahun”. Maka imam ahmad terkejut dengan jawaban tersebut, dan imam syafi’i hanya tertawa sambil berkata “Kan saya sudah bilang, ini adalah samudera”.
Saya bertanya untuk pertanyan yang kedua. “Kambing-kambing yang engkau gembala ini zakatnya berapa?”. Kembali dijawab, “Kamu mau jawaban atas madzhab kamu atau madzhab saya?” “Lalu apa yang menurut madzhab kami?. Dijawab “Setiap 40 ekor kambing zakatnya 1. Sampai dikalikan 121 zakatnya 2, sampai 221 zakatnyab 3, setelah itu setiap dikalikan 100 dihitung satu kambing”. “Kalau dalam madzhabmu bagaimana? Adapun dalam madzhab kami adalah hamba, dan apa pun  yang ia miliki adalah majikannya, Allah. Dengan jawaban itu hamper saja imam Ahmad pingsan.
Imam Syafi’i mengatakan, “Seandainya dadaku dibelah, maka akan ditemukan dua bagian dalam hatiku ini. Dalam satu sisi terdapat syari’at, keimanan, dan tauhid. Dan cinta terhadap ahlu bait dibagian yang lain. Seandainya saya dusta didalam ucapan ucapan saya, maka Allah marah terhadap oang-orang yang berdusta”.
Dalam hadist yang lain imam Syafi’i mengatakan, “keluaarga nabi Muahammad adalah tempat tumpuanku dan tempat munculnya ajaran syari’at. Aku berharap dengan berkat mereka, aku menerima lembaran amalku dengan tangan kananku”. Dan inlah yang dikatakan nabi Muhammad dalam perkara iman.
Ciri-ciri Iman Sejati
Beliau SAW. Bersabda “kemuliaan muslim sejati adalah dalam qiyamullail. Sebagian dari guru kami berkata “Tidak patut disebut sebagai penuntut ilmu orang yang tidak punya qiamul lail secara rutin”. Banyak orang –orang yang datang megatakan “Fulan menodai keagunganku, fulan mencederai kemuliaanku, padahal ia tidak punya qiamul lail”.
Kemudian keimanan tersebut akan membuahkan kekuatan yakin, dan yakin tersebut akan membuat semua tabir-tab ir yang menutupi hati kita sirna, sehingga hati tersebut memiliki firasat yang kuat.
Dalam hadist imam Tirmidzi dan Bukhori disebutkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Takutlah kalian terhadap firasat seorang mukmin, sebab orang mukmin memandang firasat itu dengan cahaya Allah ta’ala”.
Karena itu, ada seseorang yang ketika ingin berjalan kepada sayyidina Ustman, ia melihat seorang wanita dan memandang wajah wanita tersebut terus menerus. Kemudian ia masuk kepada sayyidina Ustman bin Affan. Ketika ia masuk kepada sayyidina Ustman, beliau berkata  “Apakah masuk salah seorang dari kita, sedangkan di matanya da bekas-bekas perzinahan?. Tahu tidak?, kalau tidak saya akan menghukum orang tersebut”. 

Tunggu kelanjutannya.. atau klik disini

Komentar