Mengenal Konsep Iman
Sebagaimana apa yang kita
sebutkan daripada keislaman, kami pun akan menyebutkan hal yang sama dalam keimanan.
Kita telah mendengar tentang apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW., Siapa
itu mukmin sajati
“Demi Allah tidak beriman orang yang tidur dimalam hari dalam
keadaan kenyang, sedangkan tetangga disebelahnya tidur dalam keadaan lapar”.
Hadist ini, mana yang terangkum dalam rukun iman yang 6 itu.
Di dalam hadist yang lain
disebutkan, “Mukmin sejati adalah yang membuat mukmin lain aman, dari gangguan
terhadap darah, harta, dan kehormatan mereka”. Dikatakan disini adalah gukan
hanya yang membuat mukmin lain merasa aman, bukan tetangganya yang merasa aman
atau muslim lain yang merasa aman, namun semua orang mereasa aman dari
gangguannya.
Sebuah Kisah
Kita mengingat bahwasannya ada
salah satu orang sholeh yang berasal dari hadramaut, datang ke Indonesia. Dia datang
kesini, berniaga, dan berdagang. Kejadian ini terjadi sekita 40 tahun yang
lalu. Dia lama tinggal disini, hingga kemudian berniat untuk pulang
kekeluarganya di hadramaut.
Ketika ia akan pulang ke
hadramaut. Orang-orang merasa sedih dengan kepergiannya. Dan yang paling sedih
adalah tetangganya yang kebetulan bersuku toinghoa. Dia non muslim. Tapi dialah
yang paling banyak menangis atas kepergian tetangganya orang sholeh tersebut.
Orang ini ditanya, “Mengapa engkau
tangisi dia, padahal engkau berbeda agama dengannya”. Dia berkata “Tetangga saya
ini bertahun-tahun tinggal disebelah saya dan dia tidak pernah sekalipun
menatap atau pun mengintip kerumah saya, hingga saya percayakan keluarga saya,
kaum wanita, saya percaya terhadap orang ini melebi orang yang seagama dengan
saya”. Inilah hakikat iman, semoga Allah ta’ala menanamka pada hati kita
hakikat iman.
Sebagaimana kita pernah
membaca dalam sebuah hadist “Tidak beriman seseorang diantara kalian hingga ia
mencintai untuk orang lain sebagaimana ia cinta untuk dirinya sendiri”. Dan
juga didalam hadist shihih bukhori yang berkenaan dengan cinta, “Tidak beriman
salah seorang diantara kalian hingga aku menjadi orang yang ia cintai melebihi
dirinya, hartanya, anak-anaknya, dan semua manusia”.
Dalam hadist yang lain
Rasulullah SAW. bersabda: “Cintalah kalian karena Allah dan membenci sesuatu
karena Allah, membela sesuatu karena Allah dan memusuhi sesuatu karena Allah.
Sesungguhnya engkau tidak akan mendapatkan pembelaan dari Allah kecuali dengan
hal itu semua”.
Seseorang tidak akan bisa
merasakan nikmat dan manisnya iman didalam sholat, puasa, dan
Para ulama’ salaf leluhur kita
dibumi ini, mereka mencapai hakikat iman tersebut dengan kesungguhan mereka dalam
cinta kepada Allah dan Rasulnya. Dan kita dapati sifat mereka dalam
manaqib-manaqib, tentang bagaimana cinta mereka terhadap Allah, Rasullullah, dan
auliya’. Hakikat keimanan dan keislaman itu semua diterangkan dalam manaqib
riwayat kehidupan mereka.
Kisah Imam Syafi’i
Kita belajar dari ucapan imam Syafi’i
yang mengatakan “Aku cinta kepada kaum shalihin walaupun aku bukan bagian dari
mereka, namun semata-mata agar aku disamakan mereka”. Al imam Syekh Syafi’i pernah
datang kepada seorang wali besar, ‘arif billah, yang dikenal dengan
keshalihannya. Syeikh bukan orang yang memiliki ilmu dzohir, bahkan tidak bisa
membaca dan menulis. Tapi dia memiliki kesholehan, kepatuhan dan kewalian yang
luarbiasa, imam Syafi’i sering datang keorang ini meminta isyarah, pendapat,
arahan. Setelah sampai, imam Syafi’i langsung duduk seperti duduknya anak kecih
dihadapan gurunya.
Suatu kali beliau bersama imam
Ahmad bin Hambal, berziarah kepada Syeik ini. Imam Ahmad berkata “Saya ingin
bertanya terhadap guru ini”. Imam Syafi’i menjawab, “Silahkan”.
Imam ahmad bertanya, saat kami
datang engkau sedang shalat, sekrang aku bertanya tentang apakah hukumnya orang
yang lupa bilangan rakaat dalam shalatnya. Dia lupa akan rakaat, apakah dua
atau tiga, kurang satu atau sudah lengkap dan sebagainya. Syeik ini menjawab, pertanyaan
ini, aku jawab menurut madzhabmu, atau menurut madzhab saya?”. “Kalau begitu
apa menurut madzhab kami”. Kata imam Ahmad. “Menurut madzhab kalian adalah ihtiyath
(berhati-hati) sehingga ia mengambil bilangan yang paling kecil dan ditambah
satu rakaat untuk meyakinkan”. “Iya benar, lalu menurut madzhabmu apa?”. “Kalau
menurut madhab saya, ini adalah hati yang sangat kurang ajar terhadap Allah
SWT. sampai pada jumlah rakaat saja ia lupa karena pikirannya keluyuran
kemana-mana, maka ia harus di didik dengan berpuasa selama satu tahun”. Maka
imam ahmad terkejut dengan jawaban tersebut, dan imam syafi’i hanya tertawa
sambil berkata “Kan saya sudah bilang, ini adalah samudera”.
Saya bertanya untuk pertanyan
yang kedua. “Kambing-kambing yang engkau gembala ini zakatnya berapa?”. Kembali
dijawab, “Kamu mau jawaban atas madzhab kamu atau madzhab saya?” “Lalu apa yang
menurut madzhab kami?. Dijawab “Setiap 40 ekor kambing zakatnya 1. Sampai
dikalikan 121 zakatnya 2, sampai 221 zakatnyab 3, setelah itu setiap dikalikan 100
dihitung satu kambing”. “Kalau dalam madzhabmu bagaimana? Adapun dalam madzhab
kami adalah hamba, dan apa pun yang ia miliki
adalah majikannya, Allah. Dengan jawaban itu hamper saja imam Ahmad pingsan.
Imam Syafi’i mengatakan, “Seandainya
dadaku dibelah, maka akan ditemukan dua bagian dalam hatiku ini. Dalam satu
sisi terdapat syari’at, keimanan, dan tauhid. Dan cinta terhadap ahlu bait
dibagian yang lain. Seandainya saya dusta didalam ucapan ucapan saya, maka
Allah marah terhadap oang-orang yang berdusta”.
Dalam hadist yang lain imam Syafi’i
mengatakan, “keluaarga nabi Muahammad adalah tempat tumpuanku dan tempat
munculnya ajaran syari’at. Aku berharap dengan berkat mereka, aku menerima
lembaran amalku dengan tangan kananku”. Dan inlah yang dikatakan nabi Muhammad
dalam perkara iman.
Ciri-ciri Iman Sejati
Beliau SAW. Bersabda “kemuliaan
muslim sejati adalah dalam qiyamullail. Sebagian dari guru kami berkata
“Tidak patut disebut sebagai penuntut ilmu orang yang tidak punya qiamul
lail secara rutin”. Banyak orang –orang yang datang megatakan “Fulan menodai
keagunganku, fulan mencederai kemuliaanku, padahal ia tidak punya qiamul
lail”.
Kemudian keimanan tersebut
akan membuahkan kekuatan yakin, dan yakin tersebut akan membuat semua tabir-tab
ir yang menutupi hati kita sirna, sehingga hati tersebut memiliki firasat yang
kuat.
Dalam hadist imam Tirmidzi dan
Bukhori disebutkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Takutlah kalian terhadap
firasat seorang mukmin, sebab orang mukmin memandang firasat itu dengan cahaya Allah
ta’ala”.
Karena itu, ada seseorang yang
ketika ingin berjalan kepada sayyidina Ustman, ia melihat seorang wanita dan
memandang wajah wanita tersebut terus menerus. Kemudian ia masuk kepada
sayyidina Ustman bin Affan. Ketika ia masuk kepada sayyidina Ustman, beliau
berkata “Apakah masuk salah seorang dari
kita, sedangkan di matanya da bekas-bekas perzinahan?. Tahu tidak?, kalau tidak
saya akan menghukum orang tersebut”.
Tunggu kelanjutannya.. atau klik disini

Komentar
Posting Komentar