Aku
masih duduk tenang di antara dua mahluk berbadan besar
yang sembari tadi tampak sibuk dengan argument
masing-masing. Pandangan mataku yang sayu, sembari tadi masih tertuju ke salah
satu mahluk dengan ciri-cirinya yang membuat aku ngeri, kulitnya hitam legam,
dengan bulu mata tebal, mirip manusia, tetapi aneh, ukuran tubuhnya tinggi dan
besar, nafasnya terdengar sangar, kadang
naik kadang turun seiring perdebatan dengan salah satu mahluk yang tampan,
wajahnya putih bersih, hidungnya bangir,
sorot bola matanya bening kebiruan, benar-benar sempurna, jauh berbeda dengan
lawan bicaranya, Si Hitam.
“
Bagaimana ?” Si Hitam bertanya kaku kepada Si Tampan. Si Tampan hanya
tersenyum simpul, lalu mengangguk, aku menatap keduanya heran. Si Tampan masih saja tersenyum, membuat aku
terkesima dengan ketampanan wajahnya, begitu bercahaya dan sempurna.
“
Apakah seperti ini wajah nabi Yusuf dulu?” gumamku kagum.
“
Ehm...Kita ambil keputusan aja dulu ?” balas si Tampan, si Hitam segera
berdiri. Lalu menatap ke arahku.
“
Ada apa dengan si Hitam dan si Tampan? Apa yang akan mereka lakukan padaku kali
ini ?” hatiku diliputi tanda tanya yang terus melebur bersama ketakutan.
Si
Tampan dan Si Hitam, aku memberi nama mereka berdua si Tampan dan si Hitam,
karena perbandingan kulit mereka. Si Tampan dengan suaranya yang tenang dan
lembut, membuat semua terasa tenang, sedangkan si Hitam, suaranya terdengar
kasar dan sangar, serak basah, dan terkadang terdengar menakutkan, bahkan aku
sembari tadi diam karena ada ketakutan saat si Hitam menatap bola mataku tajam,
menghujam cepat hingga menghadirkan sejuta ketakutan dalam hatiku yang masih
diliputi berbagai tanya.
Dimana aku sekarang ? Bukankah sembari tadi
aku tengah naik motor menuju masjid untuk melaksanakan shalat jum’at, lalu
kenapa aku di sini ? Di tempat serba gelap, dengan bau aneh yang belum pernah
aku temukan selama hidupku, bau serta suasana aneh, bukan ketakutan, sedih atau
duka, tapi bukan juga kehampaan, semua seperti serpihan aneh yang menderu
berbagi dalam sekeliling.
“
Hai manusia !” suara si Hitam menggelegar memantul dari kegelapan yang sembari
tadi menyelubung. Aku kembali bergeming dalam kediaman dan ketakutan yang terus
melebur bersama kegelisahan.
“
Manusia….Siapa ? Aku ! Kalau aku manusia.... Siapa mereka
? Apa mereka Jin, Setan, atau mereka Malaikat, di mana aku ? Apa aku sudah mati..............Ya Allah masih
adakah pintu tobat di kala ini..” aku masih tertunduk, pikiranku masih terus
bergelut dengan kemungkinan-kemungkinan yang sama sekali tak kuharapkan.
“
Ayo jawab! “ si Hitam membentakku penuh emosi. Aku semakin terpekur
takut.
“
Yang sabar..!” si Tampan membelaku, aku mengulas senyum untuk si Tampan, tapi
tetap saja, aku masih tertunduk, terlalu takut untuk memandang dua mahluk aneh
di depanku.
“
Sabar….Dia calon penghuni neraka ?” Si Hitam berteriak
keras, lalu tertawa, suaranya yang keras menggelegar. Bulu kudukku merinding
saat mendengar neraka di sebut, sebuah tempat yang tak satu orangpun yang ingin
menjamahnya.
“
Neraka….Kamu salah saudaraku, dia adalah golonganku….Dia akan menjadi
penghuni surga….” jawab si Tampan seraya memandangku yang masih
tertunduk, sesekali aku mencuri pandang ke arah si Tampan, kutatap wajah teduh
itu lekat, ada ketenangan di setiap guratan-guratan wajah yang tampak jernih
itu.
“
Oke sekarang kita buktikan...Dia golongan kamu atau golongan aku ?’ si Hitam
tampak tidak bisa terima. Seketika si Hitam berdiri lalu memukul sesuatu di depannya,
entah apa itu ? Yang jelas bukan meja, tapi hanya balok Hitam bulat yang keras,
sehingga sesaat setelah benda itu beradu dengan tangan si Hitam, ada getaran
aneh, lebih tepat besi beradu dengan besi, aku sempat ngeri, membayangkan
betapa kuatnya tangan si Hitam.
“
Hai tangan ayo kita buktikan ?” si Tampan memberi komando, entah kepada siapa ?
Aku sempat heran, tapi rasa keherananku semakin menjadi dan lengkap, saat tanpa
kesadaran tangan kananku bergerak sendiri, lalu mengucapkan salam, aku menjadi
gugup. Aku teringat ucapan Ustad Afandi saat pengajian jum’at lusa, besok di
hari akhir semua akan menjadi saksi, termasuk seluruh aggota tubuh kita.
“
Ya Allah ampuni hamba…”
Aku
semakin tertunduk, mendengarkan kesaksian dari tanganku yang terus berbicara
sendiri, aku heran, entah dari mana suara itu keluar, yang jelas itu suara dari
tangan kananku yang terus menceritakan kehidupanku selama 18 tahun ini, tentang
kebaikan dan juga keburukan, tiada satupun yang terlewat, aku semakin kalut, air
mata tertahan untuk menetes, dadaku terasa sesak, ada getir dan sesal yang
menyeruak.
“
Demikian kesaksian dari saya ?” tangan kananku mengakhiri ceritanya, aku
bersyukur, ternyata lebih banyak kebaikan yang aku lakukan daripada keburukan.
“
Selanjutnya ?” si Tampan kembali memberi komando, rasa heranku kembali menjadi,
saat tangan kiriku kembali bangkit, lalu berccerita, aku mengelus dada perih,
saat ternyata amal burukku lebih banyak. Aku semakin resah, kemanakah arah
tujuanku sekarang ? Kemana ? Apakah aku akan berakhir ke neraka ? “ Ya Allah ampuni
hamba ?” aku terus berdoa dalam hati, walaupun aku tahu, doa atau apapun yang
aku harapkan semua sia-sia. Ya ...Aku sudah mati, dan ini adalah akhir.
“Maaf......!”
aku mulai memberanikan bicara. Seketika si
Hitam dan si Tampan langsung menatapku tajam.” Apakah kalian Malaikat ?”
lanjutku bertanya kaku penuh ketakutan.
Seketika
kedua saling pandang, lalu tersenyum mengiyakan. Aku terkesiap dalam
ketidakpercayaan yang tak berujung, “Jadi benar aku telah mati.”
“
Ya...Kami malaikat…., dan hari ini kami akan menghisab semua
amalmu...? jika amal kebaikan kamu lebih banyak daripada amal buruk kamu….Maka kamu
akan masuh surga, dan sebaliknya ?” mendengar penjelasan si Tampan, aku kalut
semua akan berakhir tragis.
“
Baik kita lanjutkan!” si Hitam kembali mengomando. Sampai akhirnya semua anggota
tubuhku memberi kesaksian, mata, mulut, telinga, hidung, semuanya. Aku hanya
bisa diam, tidak bisa berontak ataupun protes seperti saat masih di sekolah,
aku tak bisa, semua yang mereka katakan adalah fakta, fakta yang terlupakan
olehku, mulai dari aku lahir sampai akhir ini, aku mendesah dalam kebimbangan.
“
Sudah….Dapat diputuskan dia masuk neraka ?” si Hitam
tersenyum penuh kemenangan.
“
Tunggu dulu...Kita masih belum mendengar kesaksian semut Hitam yang di
tabraknya lusa ?” si Tampan kembali membelaku, menampakkan betapa lembut sikap
dan tingkah lakunya, jauh berbeda dengan si Hitam.
“
Baik….Tapi aku yakin, semut itu akan menyatakan apa
yang dialami, dan pemuda ini akan masuk bersamaku, ke neraka ?”
“
Iya..”
Selang
beberapa menit, datanglah seekor semut Hitam, ukurannya besar, sebesar lenganku. Semut Hitam
itu menatapku tajam, seperti tengah tersenyum padaku.
“
Tidak.....Pemuda ini adalah hamba yang saleh..Dia menabrakku karena dia ingin
menyelamatkan nyawa nenek yang sewaktu itu menyebrang tanpa hati-hati...”
Aku
bersyukur, ternyata semut Hitam itu membelaku. Aku tersenyum, lalu kujabat
tangan semut Hitam itu, dan sebelum semut Hitam itu pergi
dia berpesan padaku.” Tolong jaga keluargaku, karena setelah aku pergi….Aku belum
memberi mereka nafkah…”
“
Insya Allah !” balasku heran, bagaimana aku bisa menjaga
keluarganya yang masih hidup ? Bukankah aku sendiri juga sudah mati, sama
seperti dirinya ?
“
Baiklah kamu bebas….” Ujar si Tampan dan si Hitam serempak. Seketika
Hitam yang sembari tadi menyelubung berganti cahaya Tampan yang menyibak memenuhi
sekujur pandangan mataku, lalu berganti merah, ada nyeri di kepalaku.
“
Mas ayo sadar ...!” seseorang mengangkatku pelan.
“
Dia sadar..” ada orang lagi yang berteriak, aku semakin heran, kemana si Tampan
dan si Hitam? Kemana mereka ? Lalu di mana semut Hitam itu ?
“
Pak dimana aku ?’ aku bertanya lirih seraya menahan nyeri di kepalaku, kukerjapkan
mata yang terasa berat, ada darah yang menetes perlahan dari dahi dan hidungku.
“
Mas habis saja menabrak pohon karena menghindari nenek tua yang menyebrang .”
jawab pak tua itu. Aku tersenyum.
“Lalu
di mana keluarga semut Hitam yang aku tabrak ?”
“Semut
?” semua yang mengangkat tubuhku saling pandang, sampai akhirnya aku tak
sadarkan diri tanpa jawaban dari mereka, tentu mereka heran dengan apa yang aku
tanyakan tentang keluarga semut Hitam.
Hari
terus berlalu….Sejak itu aku selalu mendatangi tempat di mana aku merasakan
dekat dengan kematian, setiap hari aku selalu memberi roti manis untuk keluarga
semut yang berada di bawah pohon tempat aku kecelakaan. Aku tersenyum saat melihat
mereka bergerombol rukun mengangkat roti, aku seperti mendengar sejuta
ucapan terima kasih dan doa dari para semut itu.
“
Tidak kalianlah yang lebih berharga dalam hidupku..Kalianlah yang mengajarkan
aku tentang arti hidup?” Ujarkau lirih, berharap para semut itu mendengar
kata-kata yang aku lontaran untuk mereka.
Aku
berdiri, memandang langit biru, semoga dialog kematian yang telah aku alami
akan menjadi sesuatu yang membuat aku lebih baik, dan untuk semua yang belum
pernah menemukannya. Dialog kematian.
* Muhamad Ardiansha EL Zhemary
*Penulis novel “ Air Mata Nayla” dan “Dreamy Angel” - Santri PonPes
Darussalam Blokagung Banyuwangi Jawa Timur.
Sumber: Majalah Langitan

Komentar
Posting Komentar