أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ (6) إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ (7) الَّتِي لَمْ
يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلاد (8)
Apakah kamu tidak memperhatikan
bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad?, (yaitu) penduduk Iram yang
mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu
kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. (QS. Al Fajr 6-8)
Kemudian
Ibnu Abi Hatim melanjutkan, bercerita kepada kami Ali bin Al Husain dari Abu Thahir
dari Anas bin Iyad dari Tsaur bin Zaid ad-Daili, ia berkata: Aku membaca kitab
– lalu ia menyebutkan namanya (dan didalamnya tertulis)- “Aku adalah Syaddad
bin Ad, aku adalah orang yang mendirikan Imad, aku yang memperkuatnya dengan
dzira’ku sekali pandang, aku yang memendam harta tambang sedalam tujuh dzira
yang tidak akan bisa dikeluarkan kecuali oleh umatnya Muhammad SAW. (Tafsir
Ibnu Katsir [8]: 295, Tafsir Al Lubab li Ibni Adil [16]: 333)
Iram Surga Dunia Yang Hilang
Iram adalah
kota megah yang dibangun oleh Kaum Ad dan dijadikan sebagai ibu kota dari
tempat domisili mereka. Menurut riwayat dari Al-Quradli (pendapat lain adalah
Al-Qurthubi) dan Muhammad bin Ka’ab, Iram sekarang adalah Kota Iskandariyah. Menurut
riwayat lain dari Al-Maqbari dan Said bin Musayyib mengatakan Iram adalah Kota Damsyiq
(Damaskus). Adapun riwayat yang paling unggul, Iram adalah kota yang berada
dekat ‘Adan atau berada di antara daerah Shan’a dan Hadramaut Yaman (tepatnya daerah
Ahqaf yang berada di sebelah utara Hadramaut, sebelah utara Ahqaf berbatasan
dengan ar-Rab’u al Khali, sebelah timur berbatasan dengan Oman).
Diriwayatkan
bahwa Ad (di mana kaum Hud dinisbatkan padanya) adalah seorang penyembah bulan
dan ia termasuk orang yang diberikan panjang umur mencapai 1200 tahun, ia
menikahi kurang lebih 1000 perempuan dan ia adalah penguasa dunia pertama
setelah Nuh as. Sepeninggalnya, kerajaannya diserahkan kepada putra sulungnya
bernama Syadid bin Ad yang berkuasa selama 580 tahun. Kemudian digantikan oleh saudara
Syaddad bin Ad, ia menguasai dunia dengan kekuatan dan keangkuhannya. Syaddad
bin Ad inilah orang yang membangun Irama Dzatil Imad. (Umdatul Qari [23]:
162).
![]() |
| Surga Yang Hilang |
Inspirasi dari Taman Surga
Diriwayatkan
bahwa Syaddad bin Ad adalah termasuk seorang yang senang membaca kitab-kitab
suci yang diturunkan kepada para nabi. Setiap kali ia membaca tentang cerita
taman surga, terbesit di hatinya untuk membangun taman sebagai replika dari
taman surga. Ia kemudian memerintahkan para menterinya yang berjumah 1000 orang
bersama dengan para arsitektur dan pekerja untuk mencari tanah yang luas,
banyak sumber airnya dan sejuk suasanya. Akhirnya ditemukan tanah ‘Adan,
sekitar Yaman. Para pekerja dan arsitek lalu membuat pondasi persegi empat
dengan lebar serta luasnya kira-kira sepuluh farsakh yang berhiaskan warna-warni
batu pualam. Syaddad kemudian memerintahkan para menteri untuk mengumpulkan
seluruh emas, perak dan macam-macam perhiasan lain yang dimiliki oleh
orang-orang sedunia termasuk minyak Misik dan Anbar -pada waktu itu Syaddad
adalah penguasa kerajaan dunia- sampai pada akhirnya di dunia tidak ada
seorang pun yang memiliki emas dan perak. Para penduduk beralih menggunakan
kulit yang berstempelkan nama raja sebagai alat perdagangan sebagai ganti dari
emas dan perak.
Selanjutnya
para pekerja mendirikan tembok setinggi 500 dzira’ yang terbuat dari emas dan
perak yang bercampurkan Misik, di dalamnya dibangun 1000 kamar dari emas dan
perak yang berada di atas pondasi-pondasi dari Zabarjad dan Yaqut yang berhiaskan
pepohonan dari emas dan perak. Para pekerja dan arsitek kemudian menghiasi
kamar-kamar dengan perhiasan yang indah yang belum pernah ada sebelumnya. Di
bawah kamar dialiri sungai-sungai dengan bebukitan Misik dan Za’faran di sampingnya.
Proses pembangunan ini memakan waktu selama 300 tahun. Setelah semuanya selesai,
Syaddad memerintahkan para menteri untuk memindahkan permadani terindah dan
perabot-perabot terbaik ke dalam kota baru tersebut. Pemindahan ini
menghabiskan waktu selama 20 tahun. Diriwayatkan usia Syaddad bin Ad mencapai sembilan
ratus tahun.
Setelah
semua proses pembangunan dan penghiasaan kota selesai, Syaddad kemudian menaiki
tandu yang berhiaskan emas, perak, intan dan Yaqut dengan arak-arakan besar
menuju ke kota impiannya. Ketika rombongan mendekati kota, Allah SWT menghendaki
malaikat untuk menghancurkan mereka. Dengan sekali teriakan semua anggota
rombongan mati tanpa seorangpun yang tersisa, hingga pada akhirnya tiada seorangpun
yang memasuki kota surga tersebut dan sampai saat ini kota itu masih ada dalam
rahasia Allah. (Tafsir Al Alusi 22 hal 435, Tafsir Al Khozin 5 hal 259, An
Nawadir 187)
Dimasuki Seorang Muslim
Wahab
bin Munabbih meriwayatkan dari Abdullah bin Qilabah, ia pernah keluar kota
mencari untanya yang melarikan diri. Sesampainya ia di padang ‘Adan, ia melihat
kota di balik sebuah tembok yang disampingnya terdapat banyak istana dengan
keindahan sama persis dengan keterangan di atas. Sesampainya di Yaman, ia
menceritakan apa yang pernah ia lihat. Kabar ini tersiar dan terdengar oleh
Muawiyah, khalifah saat itu. Kemudian Muawiyah memanggil Abdullah bin Qilabah
dan mengajaknya ke tempat Ka’bul Akhbar, ia bercerita: Pada masamu akan ada
seorang lelaki muslim akan memasukinya, ia berkulit merah, berambut blonde
(merah kekuning-kuningan), bertubuh pendek, di atas alisnya terdapat tahi
lalat, begitu pula di atas punggungnya, ia keluar untk mencari untanya yang hilang. Kemudian Ka’bul Akhbar menoleh dan melihat
Abdullah bin Qilabah, ia kemudian berkata : laki-laki ini, demi Allah, dia
adalah orang itu. (Tafsir Al-Alusi [22]: 435, Tafsir Al-Khazin [5]: 259, Al-Kasyyaf
[7]: 285)
[Ach.
Farihun Ali]

Komentar
Posting Komentar