Menulis Kitab Tafsir Lebih dari Lima Tahun

*Wawancara Eksklusif dengan Syaikh Ali ash-Shabuni, Makkah Mukarramah

Prof. Duktur Muhammad Ali Asshobuny
Pukul 03.00 dini mobil meluncur menembus kegelapan dan hawa dingin. Usai subuh di Masjid Agung Tuban kami sowan kepada Syaikh Ali Ash-Shabuni di Pendopo Bupati Tuban. Dengan penuh semangat beliau menjawab semua pertanyaan yang kami sampaikan. Demikian ringkasan wawancara eksklusif koresponden dan redaktur Majalah Langitan, Mahbub Junaidi, Khoirul Anam, Muhammad Hasyim dan Adi Ahlu Dzikri.

Bagaimana Syaikh melihat Islam di Indonesia?
Alhamdulillah, baik. Semoga kedepan semakin baik.

Bagaimana kesan Syaikh di Indonesia?
Saya senang di sini, bertemu dengan banyak orang,  ulama, pejabat, dan para pelajar. Di masjid, pesantren, universitas, termasuk di sebuah universitas di Malang (UIN MALIKI), dan lain sebagainya.

Apa yang melatarbelakangi Syaikh datang ke Indonesia?
Saya datang dari Makkah –semoga Allah memuliakannya- untuk mengajak menghidupkan kembali Islam. Perjalanan ini penuh dengan kebaikan, kita menjadi saling mengenal, saling menolong, dan berlomba dalam ketakwaan. Hal ini sebagaimana yang telah diperintahkan Allah Swt. dalam Firman-Nya yang maknanya agar kita harus terus tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, tidak dalam dosa dan permusuhan.

Bagaimana Syaikh melihat kondisi umat islam sekarang?
Umat muslim banyak yang berpangku tangan atas berbagai peristiwa dan perubahan. Padahal, umat islam seharusnya harus waspada.

Bagaimanakah sikap yang seharusnya kita ambil?
Islam datang melalui jihad. Maka wajib bagi kita untuk mengangkat kembali jihad dalam kehidupan kita.

Bagaimana kita berjihad?
Jihad adalah menyeru umat manusia kepada Islam. Jihad bukan teror atau penumpahan darah. Sebab penumpahan darah itu hanya untuk orang-orang kafir yang benar-benar memerangi dan menyakiti kita (harbiy). Makna jihad sendiri adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw., Allah berfirman, “Alif Laam raa, kitabun anzalnahu ilaika li tukhrijannaasa minadzulumaati lannuri bi idzni robbihim ila sirotil ‘Azizil Hamid”. Agama itu menguatkan, menyelamatkan, dan mengharapkan kebaikan.

Adakah perumpamaan lain?
Seperti orang shalat yang memulai dengan takbir, lalu ketika selesai kita mengucap salam. Artinya bahwa penghambaan kita dimulai dengan mengagungkan Allah dan berakhir dengan menyebar keselamatan. Saat salam, kita menoleh ke kanan dan kiri, artinya kita selalu mengharap kebaikan terhadap semua manusia, baik yang ada di kanan atau kiri kita. Tidak mengharap kejelekan dan keburukan. Allah mengeluarkan umat muslim untuk menyelamatkan alam, bukan untuk membunuh alam, atau untuk memberi ancaman dan bahaya.

Apakah termasuk jihad itu dengan menulis?
Iya. Menulis adalah salah satu dari bentuk dari beberapa pilihan jihad.

Syaikh telah melahirkan Kitab Shafwatit Tafasir, salah satu tafsir terbaik di masanya. Apa yang melatarbelakangi menulis kitab ini?
Dalam mengarang kitab tafsir ini (Shafwatut Tafasir) ada kisah seru dan mengagumkan; saat saya sedang towaf, saya tiba-tiba mendapat ilham dari Allah untuk mengkhatamkan Al Qur’an. Sehingga saya pun berazam untuk berkhidmah pada al-Qur’an. Bisa menjelaskan pada manusia makna yang terkandung di dalamnya. Kemudian saya memulai mengarangnya sampai waktu 5 tahun, siang dan malam saya selalu sibuk berusaha menyelesaikannya meski tak kunjung selesai waktu itu. Meski demikian, saya tetap selalu merenungkan, memohon dimudahkan jalan untuk memperoleh referensi yang valid.

Kalau boleh tahu, dimanakah kendalanya?
Diantara kesulitan itu adalah memadukan sebab musabab ayat dengan kontektualnya lafadz. Karena setiap surat itu pasti ada peletakannya masing-masing. Al-Baqoroh misalnya yang memiliki keterkaitan erat dengan kondisi Bani Israil, posisi Yahudi, dan kritik atas kaum nasrani.

Mungkin Syaikh bisa menceritakan tentang kitab (Shafwatut Tafasir) ini?
Kitab ini merupakan ulasan dari pendapat para mufassir, baik yang dahulu maupun sekarang. Saya banyak membaca keterangan-keterangan dalam karangan para ulama. Kemudian saya ulas lagi dan ceritakan dengan bahasa saya. Di antara referensi saya adalah Tafsir Al Qurtubi, Tafsir al-Kasyaf, Tafsir Zamahsyari, Tafsir Abu Su’ud, dan lain sebagainya.
Dari ayat-ayat itu banyak menerangkan kondisi orang-orang terdahulu. Di mana Taurat, Zabur, Injil diturunkan pada mereka. Tapi sayang mereka sama sekali tak mau meyakininya. Bahkan orang-orang ahli kitab itu mengatakan dirinya sebagai mahluk terbaik, tapi sebaliknya mereka mahluk terburuk. Kita harus bersyukur, Allah telah memuliakan kita, menjadikan alam ini untuk kita.
Prof. Duktur Muhammad Ali Asshobuny dalam sebuah acara
 Bagaimana Syaikh membagi waktu antara berdakwah dengan menulis?
Saya tiap minggu paling tidak ada empat sampai lima majelis ilmi atau pengajian. Selain itu saya kembali fokus untuk menulis dan menulis. Yah, dengan barokahnya al-Qur’an, saya diberi kemudahan Allah untuk menyelesaikan karangan-karangan saya. Sehingga sebelum ini saya  mengeluarkan kitab dengan 8 jilid. Semuanya saya susun dengan bahasa yang mudah seakan-akan Anda membaca majalah.

Adakah alasan tertentu Syaikh menyederhanakan bahasa untuk sebuah karangan?
Iya. Sengaja saya membuat karangan itu ringan tapi berbobot, sehingga mudah dicerna oleh orang banyak.

Selain tafsir, adakah fan lain yang Syaikh tulis?
Banyak. Selain tafsir saya juga memiliki beberapa kitab lain yang membahas tentang hadis, fikih, sejarah, dan lain sebagainya. Dan baru-baru ini saya punya kitab ad-Durar al-La’aali yang mensyarahi Shahih Bukhari, Fathul Mun’im bi Syarhi Shahihil Muslim. Semua itu tak lain dengan tujuan agar manusia lebih mudah dan lebih mengenal mana dasar-dasar hadits Rasul yang dijadikan sebagai hukum.
Pun saya sedang sibuk dengan Syarah Sunan at-Tirmidzi, dan kira kira sebulan yang lalu saya juga sudah memulai menulis Syarah Sunan Abi Dawud. Setelah saya mengeluarkan karangan-karangan tentang tafsir, kemudian seputar hadis, insya Allah manusia akan dapat mengambil manfaatnya.

Sebagai salah satu tokoh muslim dunia, bagaimana komentar Syaikh tentang perkembangan di timur tengah, terutama kawasan Syam?
Syam adalah negara para nabi, yang dihijrahi Nabi Ibrahim dari Irak. Syam adalah Syiria, Palestin, Yordania, Lebanon, semua Negara-negara ini termasuk Syam, bukan hanya Syiria saja. Munculnya pembedaan ini adalah ulah orang-orang Arab untuk memecah-belahkan orang Islam. Sebelumnya, orang-orang Yahudi datang untuk menghancurkan Syam. Dan orang-orang Islam didoktrin, dipengaruhi dengan kesesatan ajaran mereka, kemudian orang-orang barat datang ke Negara Islam itu, mereka mengatakan bahwa “Kita adalah saudaramu, kami akan membelamu” tapi di balik itu mereka punya misi untuk membenturkan umat Islam satu dengan lainnya dalam adu domba. Siapa yang susah diajak menjadi sekutu maka dia akan menjadi musuh barat.

Terakhir, apa ada pesan dari Syeikh kepada umat Islam Indonesia pada kesempatan ini?
Saya ingin menyatukan umat Islam, membangunkan mereka dari tidur panjang agar segera bangkit menyaksikan dan membela perjuangan saudara-saudara kita di Syiria, di Lebanon, dan Palestina. Negara-negara Arab lain yang sedang dikuasai oleh para pemimpin yang dzalim. Semua laki-laki perempuan harus bangkit untuk membela Islam, menegakkan panji-panji Islam, sebagaimana perintah Allah.
Jika kalian menginginkan kemuliaan di sisi Allah maka bela agama Allah. Karena hanya Allah yang Maha mulia. Umar bin Khattab al-Faruq mengatakan, “Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah melalui Islam, sehingga ketika kita mencari kemuliaan dengan jalan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita”. Oleh karenanya mari kita bangkit untuk membela Islam yang sedang dihimpit oleh sekutu-sekutu barat.
(Mahbub Junaidi, Khoirul Anam,
Muhammad Hasyim dan Adi Ahlu Dzikri)

Cuplikan
…saya memulai mengarangnya sampai waktu 5 tahun, siang dan malam saya selalu sibuk berusaha menyelesaikannya meski tak kunjung selesai waktu itu.

Makna jihad sendiri adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Umar bin Khattab al-Faruq mengatakan, “Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah melalui Islam, sehingga ketika kita mencari kemuliaan dengan jalan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita”.

Komentar