*Wawancara Eksklusif dengan Syaikh Ali ash-Shabuni, Makkah Mukarramah
Pukul 03.00
dini mobil meluncur menembus kegelapan dan hawa dingin. Usai subuh di Masjid
Agung Tuban kami sowan kepada Syaikh Ali Ash-Shabuni di Pendopo Bupati Tuban.
Dengan penuh semangat beliau menjawab semua pertanyaan yang kami sampaikan.
Demikian ringkasan wawancara eksklusif koresponden dan redaktur Majalah
Langitan, Mahbub Junaidi, Khoirul Anam, Muhammad Hasyim dan Adi Ahlu Dzikri.
![]() |
| Prof. Duktur Muhammad Ali Asshobuny |
Bagaimana Syaikh
melihat Islam di Indonesia?
Alhamdulillah, baik. Semoga
kedepan semakin baik.
Bagaimana
kesan Syaikh di Indonesia?
Saya senang di sini, bertemu
dengan banyak orang, ulama, pejabat, dan
para pelajar. Di masjid, pesantren, universitas, termasuk di sebuah universitas
di Malang (UIN MALIKI), dan lain sebagainya.
Apa yang
melatarbelakangi Syaikh datang ke Indonesia?
Saya datang dari Makkah –semoga
Allah memuliakannya- untuk mengajak menghidupkan kembali Islam. Perjalanan ini penuh
dengan kebaikan, kita menjadi saling mengenal, saling menolong, dan berlomba
dalam ketakwaan. Hal ini sebagaimana yang telah diperintahkan Allah Swt. dalam
Firman-Nya yang maknanya agar kita harus terus tolong-menolong dalam kebaikan
dan ketakwaan, tidak dalam dosa dan permusuhan.
Bagaimana
Syaikh melihat kondisi umat islam sekarang?
Umat muslim banyak yang berpangku
tangan atas berbagai peristiwa dan perubahan. Padahal, umat islam seharusnya
harus waspada.
Bagaimanakah
sikap yang seharusnya kita ambil?
Islam datang melalui jihad. Maka
wajib bagi kita untuk mengangkat kembali jihad dalam kehidupan kita.
Bagaimana kita
berjihad?
Jihad adalah menyeru umat manusia kepada
Islam. Jihad bukan teror atau penumpahan darah. Sebab penumpahan darah itu
hanya untuk orang-orang kafir yang benar-benar memerangi dan menyakiti kita
(harbiy). Makna jihad sendiri adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju
cahaya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam risalah yang dibawa Nabi
Muhammad Saw., Allah berfirman, “Alif Laam raa, kitabun anzalnahu ilaika li
tukhrijannaasa minadzulumaati lannuri bi idzni robbihim ila sirotil ‘Azizil
Hamid”. Agama itu menguatkan, menyelamatkan, dan mengharapkan kebaikan.
Adakah perumpamaan
lain?
Seperti orang shalat yang memulai
dengan takbir, lalu ketika selesai kita mengucap salam. Artinya bahwa
penghambaan kita dimulai dengan mengagungkan Allah dan berakhir dengan menyebar
keselamatan. Saat salam, kita menoleh ke kanan dan kiri, artinya kita selalu
mengharap kebaikan terhadap semua manusia, baik yang ada di kanan atau kiri
kita. Tidak mengharap kejelekan dan keburukan. Allah mengeluarkan umat muslim
untuk menyelamatkan alam, bukan untuk membunuh alam, atau untuk memberi ancaman
dan bahaya.
Apakah
termasuk jihad itu dengan menulis?
Iya. Menulis adalah salah satu
dari bentuk dari beberapa pilihan jihad.
Syaikh telah
melahirkan Kitab Shafwatit Tafasir, salah satu tafsir terbaik di masanya. Apa
yang melatarbelakangi menulis kitab ini?
Dalam mengarang kitab tafsir ini (Shafwatut
Tafasir) ada kisah seru dan mengagumkan; saat saya sedang towaf, saya tiba-tiba
mendapat ilham dari Allah untuk mengkhatamkan Al Qur’an. Sehingga saya pun berazam
untuk berkhidmah pada al-Qur’an. Bisa menjelaskan pada manusia makna yang
terkandung di dalamnya. Kemudian saya memulai mengarangnya sampai waktu 5
tahun, siang dan malam saya selalu sibuk berusaha menyelesaikannya meski tak
kunjung selesai waktu itu. Meski demikian, saya tetap selalu merenungkan,
memohon dimudahkan jalan untuk memperoleh referensi yang valid.
Kalau boleh
tahu, dimanakah kendalanya?
Diantara kesulitan itu adalah
memadukan sebab musabab ayat dengan kontektualnya lafadz. Karena setiap surat
itu pasti ada peletakannya masing-masing. Al-Baqoroh misalnya yang memiliki
keterkaitan erat dengan kondisi Bani Israil, posisi Yahudi, dan kritik atas
kaum nasrani.
Mungkin Syaikh
bisa menceritakan tentang kitab (Shafwatut Tafasir) ini?
Kitab ini merupakan ulasan dari
pendapat para mufassir, baik yang dahulu maupun sekarang. Saya banyak membaca
keterangan-keterangan dalam karangan para ulama. Kemudian saya ulas lagi dan ceritakan
dengan bahasa saya. Di antara referensi saya adalah Tafsir Al Qurtubi, Tafsir
al-Kasyaf, Tafsir Zamahsyari, Tafsir Abu Su’ud, dan lain sebagainya.
Dari ayat-ayat itu banyak
menerangkan kondisi orang-orang terdahulu. Di mana Taurat, Zabur, Injil
diturunkan pada mereka. Tapi sayang mereka sama sekali tak mau meyakininya.
Bahkan orang-orang ahli kitab itu mengatakan dirinya sebagai mahluk terbaik,
tapi sebaliknya mereka mahluk terburuk. Kita harus bersyukur, Allah telah
memuliakan kita, menjadikan alam ini untuk kita.
![]() |
| Prof. Duktur Muhammad Ali Asshobuny dalam sebuah acara |
Bagaimana Syaikh
membagi waktu antara berdakwah dengan menulis?
Saya tiap minggu paling tidak ada
empat sampai lima majelis ilmi atau pengajian. Selain itu saya kembali fokus untuk
menulis dan menulis. Yah, dengan barokahnya al-Qur’an, saya diberi kemudahan
Allah untuk menyelesaikan karangan-karangan saya. Sehingga sebelum ini
saya mengeluarkan kitab dengan 8 jilid.
Semuanya saya susun dengan bahasa yang mudah seakan-akan Anda membaca majalah.
Adakah alasan
tertentu Syaikh menyederhanakan bahasa untuk sebuah karangan?
Iya. Sengaja saya membuat karangan
itu ringan tapi berbobot, sehingga mudah dicerna oleh orang banyak.
Selain tafsir,
adakah fan lain yang Syaikh tulis?
Banyak. Selain tafsir saya juga
memiliki beberapa kitab lain yang membahas tentang hadis, fikih, sejarah, dan
lain sebagainya. Dan baru-baru ini saya punya kitab ad-Durar al-La’aali
yang mensyarahi Shahih Bukhari, Fathul Mun’im bi Syarhi Shahihil
Muslim. Semua itu tak lain dengan tujuan agar manusia lebih mudah dan lebih
mengenal mana dasar-dasar hadits Rasul yang dijadikan sebagai hukum.
Pun saya sedang sibuk dengan Syarah
Sunan at-Tirmidzi, dan kira kira sebulan yang lalu saya juga sudah memulai
menulis Syarah Sunan Abi Dawud. Setelah saya mengeluarkan
karangan-karangan tentang tafsir, kemudian seputar hadis, insya Allah manusia
akan dapat mengambil manfaatnya.
Sebagai salah
satu tokoh muslim dunia, bagaimana komentar Syaikh tentang perkembangan di timur
tengah, terutama kawasan Syam?
Syam adalah negara para nabi, yang
dihijrahi Nabi Ibrahim dari Irak. Syam adalah Syiria, Palestin, Yordania, Lebanon,
semua Negara-negara ini termasuk Syam, bukan hanya Syiria saja. Munculnya pembedaan
ini adalah ulah orang-orang Arab untuk memecah-belahkan orang Islam. Sebelumnya,
orang-orang Yahudi datang untuk menghancurkan Syam. Dan orang-orang Islam
didoktrin, dipengaruhi dengan kesesatan ajaran mereka, kemudian orang-orang
barat datang ke Negara Islam itu, mereka mengatakan bahwa “Kita adalah
saudaramu, kami akan membelamu” tapi di balik itu mereka punya misi untuk
membenturkan umat Islam satu dengan lainnya dalam adu domba. Siapa yang susah
diajak menjadi sekutu maka dia akan menjadi musuh barat.
Terakhir, apa ada
pesan dari Syeikh kepada umat Islam Indonesia pada kesempatan ini?
Saya ingin menyatukan umat Islam,
membangunkan mereka dari tidur panjang agar segera bangkit menyaksikan dan
membela perjuangan saudara-saudara kita di Syiria, di Lebanon, dan Palestina.
Negara-negara Arab lain yang sedang dikuasai oleh para pemimpin yang dzalim.
Semua laki-laki perempuan harus bangkit untuk membela Islam, menegakkan
panji-panji Islam, sebagaimana perintah Allah.
Jika kalian menginginkan kemuliaan
di sisi Allah maka bela agama Allah. Karena hanya Allah yang Maha mulia. Umar
bin Khattab al-Faruq mengatakan, “Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah
melalui Islam, sehingga ketika kita mencari kemuliaan dengan jalan selain
Islam, maka Allah akan menghinakan kita”. Oleh karenanya mari kita bangkit
untuk membela Islam yang sedang dihimpit oleh sekutu-sekutu barat.
(Mahbub
Junaidi, Khoirul Anam,
Muhammad
Hasyim dan Adi Ahlu Dzikri)
Cuplikan
…saya memulai mengarangnya sampai
waktu 5 tahun, siang dan malam saya selalu sibuk berusaha menyelesaikannya
meski tak kunjung selesai waktu itu.
Makna jihad sendiri adalah
mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Umar bin Khattab al-Faruq
mengatakan, “Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah melalui Islam, sehingga
ketika kita mencari kemuliaan dengan jalan selain Islam, maka Allah akan
menghinakan kita”.
Sumber: Majalah Langitan


Komentar
Posting Komentar