Hidup memang sebuah ujian, hanya orang-orang yang
benar-benar teguh iman saja yang dapat melewati ujian ini dengan baik. Mereka
adalah orang-orang yang tidak tertipu oleh kilauan nikmat dunia yang begitu
menggoda. Jika bisa di ibaratkan, dunia itu ibarat seorang wanita tua renta
yang memakai perhiasan yang begitu indah. Saat orang-orang melihat dzohir
wanita tersebut bisa di pastikan mereka akan terpesona dan mengira bahwa wanita
tersebut memang benar-benar cantik. Namun ketika wujud asli wanita tua itu
terbuka dan kejelekannya telah tampak, maka para lelaki akan sengat menyesal
dan malu karena merasa telah tertipu oleh kecantikan dzahir yang palsu.
![]() |
| Harta hanya ditangan bukan dihati |
Adalah Orang-orang yang memahami hakikat
kehidupan dunia ini sesuai dengan apa yang telah allah dan rasul-nya ajarkan
yang bisa selamat dari tipu daya syetan. Mereka memandang dunia dan isinya tak
lebih dari sebuah permainan yang seringkali melalaikan, mereka tidak berbangga
hati dan sombong dengan harta kekayaan yang di miliki. Jika dalam diri mereka
telah tertanam sifat tersebut, maka mereka bisa di sebut dengan zuhud. Zuhud
merupakan sifat yang seharusnya di miliki oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai mu’min. zuhud juga hendaknya
menjadi gaya hidup umat muslim kapanpun dan di manapun ia berada. Zuhud bukan
berarti meninggalkan kenikmatan dunia sama sekali, bukan pula mengenakan
pakaian-pakaian yang lusuh dan bukan berarti miskin. Bahwa sebenarnya, zuhud
adalah kemampuan kita dalam menjaga hati dari godaan serta tipu daya kemewahan
dunia tanpa meninggalkanya. Lebih spesifiknya
zuhud merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki
pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi. Mereka tetap berusaha dan bekerja,
namun kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan hatinya dan tidak
membuatnya meninggalkan Allah sedetikpun. Kita beramal shalih, memakmurkan bumi
dan bermuamalah, namun di saat yang sama hati kita tidak tertipu. Kita meyakini
sepenuhnya bahwa kehidupan akhiratlah yang menjadi tujuan utama.
Di zaman
yang seperti ini, zaman yang penuh dengan hal yang serba modern dan
tersedianya suguhan berbagai macam
nikmat duniawi, mencari seorang zahid sejati sangatlah sulit. ibarat mencari
sebuah jarum di tumpukan jerami. Karena jarang sekali orang yang dapat menahan
dirinya dari dasyatnya godaan dunia. Namun jika seseorang mempunyai kemauan yang kuat dan berusaha mengikuti semua
aturan sebagaimana yang telah di jelaskan ulama terdahulu, maka bukanlah hal
yang mustahil bila dia akan berhasil mencapai maqom seorang zahid sejati.
Selain itu yang terpenting lagi adalah urusan hati. Sebagaimana keterangan di
atas, walaupun seseorang mempunyai harta yang melimpah namun dalam hatinya tak
pernah sedikitpun terbesit rasa senang
terhadap harta tersebut itulah yang di namakan zuhud yang sebenarnya.
Sebaliknya ketika seorang tidak mempunyai harta sama sekali namun hatinya
selalu berangan dan bermimpi bisa memilikinya. Hal tersebut tidaklah bisa
dikatakan sebagai zuhud, sebab inti dari sifat tersebut adalah hati yang bersih
dari kecondongan terhadap kesenangan duniawi. Seorang ulama di zaman tabi’in
pernah berkata bahwa ma’na meninggalkan dunia yang sebenarnya adalah dari hati
dan fikiran. Suatu pekerjaan bisa bernilai amal duniawi atau ukrowi tinggal
bagaimana niat seseorang. Jika seseorang makan dengan niat agar badanya kuat
menjalani ibadah maka pekerjaan tersebut akan benilai ibadah. Begitu juga
sebaliknya.
Oleh
karenanya merupakan hal yang sangat penting bagi kita untuk sadar dan
menyadarkan kembali diri sendiri beserta saudara-saudara kita tentang hakikat
dunia dan akhirat. Iman terhadap hari akhir merupakan prinsip yang harus terus
menerus di ingatkan dan di tanamkan dalam hati kita, sehingga motivasi dan
tujuan hidup kita sesuai dengan nilai-nilai islam dan dapat memupuk sikap zuhud
kita terhadap kehidupan duniawi. Semakin kuat keimanan seseorang terhadap hari
akhir, maka semakin tenaglah ia memandng kehidupan. Sebaliknya, semakin lemah
iman seseorang terhadap hari pembalasan, otomatis akan menjadikan ia manusia
yang rakus dan mudah tertipu oleh gemerlap keindahan yang di tawarkan oleh
dunia. wallahu a’lam bishawab.
(Najibuddin)
Sumber: Majalah Langitan

Komentar
Posting Komentar