Penyair Yang Dipermalukan

Saat Negara Arab belum tersentuh Islam, ketidak mampuan untuk membalas dendam dianggap sebagai pertanda nasibburuk. Syahdan. Adalah Imru al-Qais, seorang penyair mu'alliqat tersohor di zamannya. Lelaki ini pada waktu itu menaruh dendam terhadap Bani Asad. Pasalnya, kabilah ini berbuat kesalahan yang kelewat batas; mereka telah membunuh ayahnya.
Ilustraasi berhala
Berbekal tiga anak panah undian, ia pun pergi mencari wangsit di tempat pemujaan berhala Dzul Khulashah. Masing-masing anak panah akan menentukan satu di antara tiga pilihan: yakni balas secepatnya, tunda, dan urungkan.


Sesampainya di depan Dzul Khulashah, segera ia mengundi. Tapi entah, berkali-kali ia melempar anak panah, yang keluar selalu saja ‘urungkan balas dendam.' Merasa kesal maksudnya tak kesampaian, tiga batang anak panah itu pun ia buat patah. Karena kelewat kesal, dilemparkannya anak panah itu ke muka Dzul Khulashah sambil berteriak marah, "Bedebah! Kalau saja bapakmu yang kena bunuh, kau pasti tak melarang balas dendam!"

Komentar

Posting Komentar