Segala puji atas semua nikmat yang demikian
agung dari Allah, Untuk mempererat hubungan kita dengan- Nya dan Rasulullah yang paling mulia. Hubungan erat
tersebut kembali melalui keluarga beliau, dan penerus beliau yang mulia. Dan
itulah yang menjadi bekal yang tidak ada habisnya untuk menuju akhirat.
Kemuliaan yang akan kita bicarakan ini adalah
pembeda antara yang haq dan yang batil dan antara kesesatan dan hidayah. Karena
ini merupakan sebuah kekhususan perbedaan yang tidak ada didalam yang haq dan
batil . Apa yang mereka (orang sesat) perjuangkan tidak akan berguna didunia
mau pun akhirat. Mereka terkadang mengaku-ngaku dengan pengakuan yang tidak
benar dengan menunjukkan bahwa mereka memberikan kebaikan dan menganggap bahwa
mereka dapat memberi manfaat didalam hal-hal yang akan sirna.
Hubungan
Spesial Ummat Muhammad
Di dalam akal orang yang telah diberikan cahaya
oleh Allah SWT., mereka meninggalkan kerajaan duniawi setelah dia mampu
menguasainya.Walau pun dia dapat menguasainya selama 1000 tahun, 2000 tahun
atau 3000 tahun, dia tinggalkan itu semua untuk mengambil imbalan yang lebih
baik berupa kerajaan yang abadi disisi Allah SWT. Ia merupakan orang sukses dan
beruntung. Karenanya kita bersyukur kepada Allah karena memiliki hubungan yang
mulia ini.
Ini merupakan keagungan karena selalu terhubung
dengan Allah SWT. yang maha agung, abadi, mulia, dan hidup. Dan tidak ada
seseorang yang dapat meraihnya, kecuali dia mendapat anugerah Allah yang dia
dapatkan melalui nabi dan rasul.
Sungguh, sebuah penyesalan bagi orang-orang
dari umat yang mulia ini, namun ia rela mengganti peneladanan. Dia buang itu semua dan mengikuti kepada
orang-orang yang sesat, jahat, fasiq. Ia ridlo kepada kemungkaran, kepada
pemikiran orang yang sesat, roidlo oleh hiasan duniawi, sehingga ia rela
sunnahnya Rasulullah SAW. berkurang didalam dirinya, keluarganya, rumahnya,
lingkungannya, dan didalam semuanya.
Kitalah yang memiliki peran untuk menyelamatkan
mereka dan orang-orang yang berada di belakang mereka, yaitu orang-orang yang
belum pernah beriman sebelumnya. Dan inilah pokok dan hakikat dari risalah yang
diinginkan hingga sampai kepada kita. Ini adalah risalah dari Allah, yang
dipikul oleh nabi Muhammad SAW.
Konsep
Hakikat Islam
Orang yang telah mencapai hakikat dari pada
rukun- rukun agama, hati mereka penuh dengan kasih sayang, ta’dzim terhadap
Allah, dan kepedulian terhadap sesama hamba Allah. Merupakan sesuatu yang aneh,
jika ada seseoang yang atas nama islam, mengaku-ngaku telah mencapai hakikat
islam, atau mengaku bahwa ia adalah orang yang mempunyai peran besar dalam
menyebarkan dakwah islam atau membela islam. Namun, nas-nas dalam syari’at yang
ada dalam agama, memutuskan bahwa orang ini jauh dari tahabbub, dari
mencapai terhadap hakikat islam, iman, apalagi hakikat ihsan.
Seandainya, bentuk fisik dari rukun-rukun islam
dia jalankan, lalu kemana orang tersebut dalam konsep muslim sejati yang
disebutkan Rasulullah SAW. Dalam hadistnya, “Muslim sejati adalah yang
membuat muslim lain selamat dari gangguan lidah dan lisannya”.
Kemudian kita lihat mereka yang mengaku membela
islam, namun setiap hari pasti ada orang lain yang menjadi korban lidahnya.
Lalu bentuk pembelaan apa yang ia lakukan terhadap orang islam? Maka islam
bagaimana yang ia aku dan ia ajak orang lain kepadanya. Jangan-jangan ia
mengajarkan sesuatu yang lain. Bukan islam yang dibawa oleh nabi Muhammad.
Adapun islam yang dibawa nabi Muhammad, bertentangan dengan pembawaan dan cara
mereka.
Ciri-ciri Pencapaian Hakikat Islam
Bagaimana sebuah hadist yang shohih dari nabi
kita, mengisyaratkan bahwa tidak ada pencapaian hakikat dari islam tersebut,
seseorang yang telah keluar dari mayoritas. Tataran ini tidak akan mempu
mencapai hakikat islam manakala ia keluar dari jama’ah kaum muslimin dengan
dalih apapun. Hadist ini dirawayatkan oleh Muhammad bin abdurrazaq al-Haitami.
Rasulullah SAW. berkata: “Aku memerintah kepada kalian 5 perkara. Untuk
mendengarkan dan menta’ati. Ikut pada kelompok jama’ah, khidmah dan jihad
(Jihad di jalan Allah). Maka barang siapa yang keluar dari kelompok jama’ah
satu jengkal saja, maka kalung islam telah lepas dalam dirinya. Barang siapa
yang megaku-ngaku ataupun menggunakan panggilan jahiliyyah, maka ia termasuk
kedalam penghuni jahannam”. Nabi Muhhammad SAW. ditanya “Walau pun
mereka melakukan puasa dan shalat?”. Nabi menjawab.“Ya, walaupun mereka
melakanakan puasa dan shalat”.
Bukan hal yang tidak nyata bagi kita sekalian
didalam makna yang berkaitan tentang jama’ah, bahwasannya dari keluarga Rasulullah
SAW., pewaris-pewaris beliau serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan
sebenar-benarnya, mereka selalu bersama jama’ah dan tidak keluar dari pada
perjalanan dan apa yang diajarkan kelompok mayoritas islam.
Sungguh, yang menjadi penentuan itu adalah
hakikat yang kita miliki.Karena itu kita menginginkan mencapai hakikat dengan
rukun-rukun agama. Dan merekalah, para ahlu
sunnah wal jama’ah, kelompok mayoritas yang diisyaratkan didalam hadist
nabi Muhammad SAW. Mereka adalah kelompok yang terus-menerus ada hingga akhir
zaman, yang tidak mengganggu dan membahayakan orang yang mencela dan menghujat.
Meninggalkan
Sunnah Jahiliyah
Diantara hakikat islam adalah membenci semua
sunnah-sunnah ajaran jahiliyyah, yang bertentangan dengan ajaran islam.
Sebagaimana yang kita pelajari dalam kitab shohih bukhori tentang orang-orang
yang paling dibenci oleh Allah SWT. ada 3. Diantaranya adalah, Orang yang
berada dijalan islam, tapi masih mencari ajaran sunnah jahiliyah.
Diantara orang-orang yang mengikuti sunnah
jahiliyah adalah kefanatikan akan suatu kebatilah/kemungkaran. Dia rela
membelanya karena fanatik akan sunnah jahiliyah. Ia adalah orang yang ingin
selalu membalas dendam, mencari dan menumpahkan darah orang lain tanpa hak,
sampai dia melakukan pembunuhan. Hingga apabila ada orang yang berbeda dari
pendapatnya, ia berkata “Ini sudah keluar dari islam dan halal darahnya untuk
ditumpahkan”. Apabila ia terhalang untuk meraih kursi pemerintahan, dia
menganggap “Ini bertentangan dengan islam dan darahnya halal untuk dibunuh”.
Sehingga kita mengenal didalam sejarah, sejak
dahulu hingga sekarang ini, orang-orang yang mengejar jabatan dan pemerintahan,
mereka mengaku demi membela islam. Mereka berkata: “Saya membela islam dan dia
adalah orang-orang kafir”. Mereka suarakan Allahu akbar, Allahu akbar,
lailaaha illallah, tapi mereka saling membunuh, saling menembak.
Dia memberikan citra yang buruk tentang islam,
sehingga orang-orang non muslim menjadi enggan ketika islam dihadapkan pada
mereka, padahal yang mereka dengar itu tidak benar. Mereka membantu kekufuran
dengan memberikan terhadap orang-orang kafir anggapan sebagai orang islam yang
tidak benar. Dan hal ini juga diterang kan oleh imam at-Thabaroni dalam Muad
al-Kabir, Rasulullah SAW. bersabda: “Hal yang paling aku tajkutkan
terhadap umatku adalah 3 perkara”.
1. seseorang yang membaca kitab Allah, hingga
menguasainya, kemudian dia memakai sorban-sorban keislaman, tapi kemudian ia
melihat tetangganya dan menuduh masyarakatnya dari pada kesyirikan dan
menghunus pedangnya kepada mereka. Fikirannya telah teracuni, hingga ia
berperasangka “Ini orang kafir, syirik, bid’ah, ini orang yang tidak benar”.
Dia mulai berani mengkafirkan orang lain dari keluarga, dan orang lain dari
ummat islam. Dia menghunuskan pedangnya, dan dia tebas orang-orang yang berada
dilingkungannya, tetangganya, dan menuduh mereka dengan tuduhan syirik. Maka
sahabat bertanya pada Rasulullah, “Ya
Rasulullah, sebenarnya yang lebih syirik itu yang menuduh, atau yang dituduh?’.Nabi
menjawab, “Justru yang menuduh itu, dia
lebih dekat dari pada kesyirikan dari pada yang dituduh”.
2. Seseorang yang diberikan
kepeminpinan/jabatan dipemerintahan, dan dia mengklaim “Yang taat pada saya,
berarti ia taat pada Allah, yang melanggar saya, berarti ia melanggar Allah”.
Maka, orang ini dusta, sebab seorang khalifah tidak bisa kecintaannya itu,
melebihi dari pada kecintaan terhadap Allah ta’ala.
Para khalifah zaman dahulu yang membawa
kebenaran, tidak pernah mengklaim hal-hal yang demikian.Tapi mereka mengatakan
“Seandainya aku istijabah (diterima), maka bantulah aku. Namun apabila
aku menyimpang, maka luruskanlah aku”.Mereka tidak mengklaim dengan klaim-klaim
yang tidak benar.
3. Orang yang tidak punya pilihan dan gampang
terbawa oleh setiap kejadian yang terjadi. Apabila ada suatu pemikiran yang
baru, dia terbawa untuk berkumpul bersama mereka, dan mengikuti apa yang
dianggap baik oleh pemikiran itu. Apabila terjadi sesuatu, ia menyampaikan
dengan lebih dari pada apa yang ia dapat. Seandainya ia berjumpa dengan
datangnya dajjal, pasti ia akan ikut pada dajjal.
Konsep
Hakikat Iman
Sebagaimana apa yang kita sebutkan daripada
keislaman, kami pun akan menyebutkan hal yang sama dalam keimanan. Kita telah
mendengar tentang apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW., Siapa itu mukmin
sajati “Demi Allah tidak beriman orang
yang tidur dimalam hari dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangga disebelahnya
tidur dalam keadaan lapar”. Hadist ini, mana yang terangkum dalam rukun
iman yang 6 itu?.
Di dalam hadist yang lain disebutkan, “Mukmin sejati adalah yang membuat mukmin
lain aman, dari gangguan terhadap darah, harta, dan kehormatan mereka”.
Juga disebutkan dalam sebuah hadist “Tidak
beriman seseorang diantara kalian hingga ia mencintai untuk orang lain
sebagaimana ia cinta untuk dirinya sendiri”. Dan juga didalam hadist shahih
Bukhori yang berkenaan dengan cinta, “Tidak
beriman salah seorang diantara kalian hingga aku menjadi orang yang ia cintai
melebihi dirinya, hartanya, anak-anaknya, dan semua manusia”.
Dalam hadist yang lain Rasulullah SAW.
bersabda: “Cintalah kalian karena Allah
dan membenci sesuatu karena Allah, membela sesuatu karena Allah dan memusuhi
sesuatu karena Allah. Sesungguhnya engkau tidak akan mendapatkan pembelaan dari
Allah kecuali dengan hal itu semua”.
Seseorang tidak akan bisa merasakan nikmat dan
manisnya iman didalam sholat, puasa, dan ibadahnya, hingg ia memiliki
sifat-sifat yang tadi disebutkan. Kita belajar dari ucapan imam Syafi’i yang
mengatakan “Aku cinta kepada kaum shalihin walaupun aku bukan bagian dari
mereka, namun semata-mata agar aku disamakan mereka”.
Kemudian keimanan tersebut akan membuahkan
kekuatan yakin, dan yakin tersebut akan membuat semua tabir-tabir yang menutupi
hati kita sirna, sehingga hati tersebut memiliki firasat yang kuat.
Dalam hadist imam Tirmidzi dan Bukhori
disebutkan bahwa Rasulullah SAW.bersabda, “Takutlah
kalian terhadap firasat seorang mukmin, sebab orang mukmin memandang firasat
itu dengan cahaya Allah ta’ala”.
Mencapai
Hakikat Ihsan
Hakikat iman dan islam menjadi kuat pondasinya
dengan mendapatkan ilmu dan penjelasan.
Dan ilmu itu akan didapat dengan belajar pada para masyayikh, guru, orang-orang yang terpilih. Kemudian barang siapa yang telah mencapai hakikat islam dan iman, dan telah kokoh didalam hatinya, maka ia akan mencapai pada hakikat yang ketiga, yakni hakikat ihsan. Dan ihsan merupakan jenjang pertama dari jenjang syuhud (kesaksian). Rasulullah mengungkapkan ma’na ihsan itu dengan “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau menyaksikan Allah”.Renungi ucapan nabi yang mengatakan “Seakan-akan engkau menyaksikan Allah”!.
Kesaksian ini, untuk hati seseorang adalah
kunci guna mendekatkan diri pada Allah. Ini bukan hanya lintasan hayalan yang
tak berarti, namun perasaan yang menetap,melekat, dan tinggal dalam hati orang
itu.Dan disitulah terbukanya hijab dan pintu bagi orang yang semacam ini.
Ada dua pondasi yang jika seseorang telah
melampauinya, maka akan terbukalah hijab didalam hatinya 1. Mujahadah yang
dapat mengikis nafsu dan sifat tercela. 2.Menghiasi hati akan kehadiran selalu
bersama Allah didalam hatinya. Dengan dua pondasi ini, akan dibukakan hijab dan
pintu. Dan kita berharap semoga kita bisa mencapai daripada rukun-rukun agama
ini.
Melalui tangan mereka yang telah mencapai
derajat hakikat, ummat baru bisa diselamatkan. Kebahagiaan didunia dan akhirat
tidaklah milik siapapun, kecuali mereka yang telah mencapai hakikat ini. Sebab
pergolakan, perubahan, peralihan yang terjadi didunia ini, semua adalah
ketentuan dan hikmah dari Allah SWT.namun, hasil akhir dari kemenangan,
keberuntungan adalah bagi mereka yang telah mencapai hakikat-hakikat yang mulia
ini.
Maka kita perlu mencurahkan perhatian besar
untuk mencapai hakikat ini semua, didalam madrasah kita, pondok pesantren kita,
dan wilayah kita. Agar kita bangkit dan bergerak didalam membela dakwah yang
mulia ini semata mata dengan cinta-kasihsayang dan kesungguhan didalam
mencintai umat yang mulia ini.

Komentar
Posting Komentar