KH. Ihya Ulumuddin; Syaikh Muhammad bin Ali as-Shabuni; Bagai Pena yang Mengalir

Beberapa bulan lalu, Syaikh Muhammad bin Ali ash-Shabuni diundang oleh partai PAS Malaysia, sebuah partai oposisi di sana. Awalnya, satu bulan penuh beliau diminta untuk berada di Malaysia, namun belum seminggu lebih beliau merasa sudah cukup berada di sana. Mungkin karena adat
Prof. Duktur Muhammad Ali Asshobuny
orang Malaysia yang berbeda dengan orang Indonesia. 
Cara penyambutan atau respek terhadap tamu agung tidaklah seperti kita. Akhirnya Sayyid Ahmad (Putra Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki) merayu beliau agar berkenan singgah ke Indonesia. Sungguh merupakan kebanggaan bagi kami selaku pengurus Hai’ah as-Shafwah yang mendapatkan amanat dari Sayyid untuk mengurus perjalanan dan jadwal kunjungan Syaikh Muhammad bin Ali di Indonesia. Alhamdulillah, beliau juga berkenan hadir dalam haul Masyayikh Langitan yang ke-42 lalu. 
Dari ilmu bisnis ke ilmu agama
Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni merupakan ulama yang –kalau saya mengatakannya- unik dan luar biasa. Kemampuan intelektualnya sekarang sangat tak selaras bila menilik masa kecilnya. Saat menempuh pendidikan sekolah menengah (setingkat SMA kalo di Indonesia), beliau mengambil jurusan bisnis karena latar belakang keluarga yang notabenenya adalah pengusaha. Tak lama setelah itu, justru beliau beralih menekuni ilmu agama, sebuah ilmu yang diyakini bisa mengakumulasikan ilmu dunia (baca: bisnis) dan akhirat. Tak pelak, keputusan berani beliau ini membuat keluarga tercengang. Anta aqil walaa jahil. Anta aqil lakin…? majnun anta !, (kamu pintar, kamu tak bodoh, kamu pintar tapi…? bodoh kamu!). Sindiran keluarga tersebut ditanggapi dingin oleh Syeikh Ali, kalian lihat saja nanti.
Janji Allah yang akan meninggikan derajat orang yang berilmu sungguh terbukti pada diri Syaikh Muhammad bin Ali. Setelah mendalami ilmu agama di tanah kelahirannya (Aleppo, Syiria),  di Al-Azhar University, Kairo hingga program magister, dan mengikuti kajian-kajian ulama di beberapa masjid, kini Syaikh Muhammad bin Ali ash-Shabuni merupakan salah satu ulama komplit yang disegani. Dunia mengenalnya, dunia pun “mengikutinya”.
Abi Ihya' dan imam Ali as Shobuni
Dicap sebagai Irhabi
Saat Hafedz al-Asaad mengusai pemerintahan Suriah selama kurang lebih empat dekade, maka keberadaan Syaikh Muhammad bin Ali ash-Shabuni sebagai tokoh intelektual Islam juga mulai diperhitungkan. Namun, ketokohan dan keilmuan beliau justru dianggap “mengganggu” roda pemerintahan Hafedz al-Asaad. Dan Syaikh pun termasuk orang yang dicekal di negerinya sampai sekarang (sekitar 40 tahunan). Mereka menganggap Syaikh adalah bagian dari kelompok Irhabiyyin (baca: teroris). Pencekalan yang tak berujung hingga rezim Hafedz berpindah ke tangan anaknya, Bashar Asaad (penguasa Suriah sekarang).

Hingga akhirnya Syaikh Muhammad ash-Shabuni mendapat suaka politik/jaminan keamanan hidup di Saudi Arabia dan Turki. Periciannya, beliau bisa berada di Saudi Arabia selam enam bulan dan enam bulan sisanya di Negara Turki.
Guru besar di Makkah
Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni adalah ulama yang tak mengenal kata lelah dalam mengabdikan diri pada agama khususnya ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah. Menurut keterangan yang saya dapat, waktu enam bulan di Turki beliau habiskan untuk menulis/mengarang kitab dan masa enam bulan di Saudi dicurahkan untuk mengajar termasuk di Rusyaifah.
Prestasi akademik yang ditopang dengan kemampuan dalam menulis membuat Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni didapuk sebagai salah satu dosen di Fakultas Syariah Universitas Umm al-Qura dan Fakultas Ilmu Pendidikan Islam Universitas King Abdul Aziz. Dua universitas yang berada di Kota Makkah. Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki adalah salah satu murid yang merasakan tempaan Syaikh selama empat tahun di Umm al-Qura. Beliau juga dipercaya untuk mengepalai Pusat Kajian Akademik dan Pelestarian Warisan Islam. Dan hingga kini tercatat sebagai guru besar Ilmu Tafsir pada Fakultas Ilmu Pendidikan Islam Universitas King Abdul Aziz.
Dalam sebuah acara
Qalam as-sayyal
Jika fisik jadi sebuah ukuran, maka orang seumur Syaikh ash-Shabuni mungkin butuh roda atau alat tandu lain untuk beraktifitas. Tapi hal itu tak berlaku bagi beliau. Melihat usianya yang senja justru semangat dakwahnya luar biasa. Di samping punya jam pasti di atas, Syaikh ash-Shabuni juga kerap memberikan kuliah terbuka bagi masyarakat umum yang bertempat di Masjidil Haram.
Saya teringat dan yakin, inilah yang dimaksud oleh Abuya (Prof. Dr. Sayyid Muhammad al-Maliki) tentang Rajul Muwaffaq. Allah menghendaki hambaNya seperti itu, punya kekuatan akal dan fisik yang luar biasa, di luar nalar orang lain. Dan saya juga yakin, Abuya sendiri juga termasuk. Jika tak ada kunjungan ke luar negeri, kegiatan di kamar tampak begitu padat. Dalam sehari –selain mangajar- ada kegiatan muthala’ah, menulis/mengarang, menemui tamu dengan berbagai problem yang mereka adukan, ada juga yang lewat telephon, belum lagi urusan masyarakat hingga Negara. Beliau akan kembali pada keluarga jika jam melampaui pukul 10 malam sampai pukul 3 dini hari. Selepas pukul tiga beliau akan kembali beraktifitas. Ini belum menghitung kegiatan ubudiyah yang sudah menjadi keistiqamahan beliau seperti salat-salat sunah, dll. Maka pertanyaannya adalah: Kekuatan apa ini?. Subhanallah…
Kembali pada pribadi Syaikh as-Shabuni. Bagi beliau, menulis bukanlah sebuah hobi melainkan wadhifah (rutinitas) wajib, waktu nganggur saja untuk menulis. Sampai pernah, putra beliau menyembunyikan kitab dan alat tulis yang biasa beliau gunakan. Sang putra hanya khawatir kalau nantinya sang ayah sakit karena kelelahan.
Saya kembali dibuat kagum saat Syaikh ash-Shabuni berada di sini (Indonesia). Kebiasaan menulis tak berhenti meski setiap hari keliling ke berbagai kota. Saat menulis, beliau tak memerlukan referensi karena referensi sudah terikat kuat dalam ‘dada’, al-‘ilm fi as-sudur la fi as-suthur. Ketika pena mulai diayunkan, maka seolah pena itu –dengan sendirinya- mengalir, mengeluarkan lafad-lafad, membentuk rangkaian kalimat-kalimat, dan seterusnya. Ketekunanya berbuah puluhan kitab, kebanyakan tentang ilmu Tafsir seperti Shafwah at-Tafasir, Ayat al-Ahkam, Durrah at-Tafasir, Tanwir al-Adhan, dll. Dan sekarang beliau juga memulai untuk memberi (baca: menulis) Syarah Sahih Bukhari, Sahih Muslim dan Sunan Abu Dawud. 
Banyak orang berpikir, kok bisa ulama seperti Imam Suyuthi, Imam Nawawi, dll mampu mengarang banyak kitab dan berjilid-jilik semasa hidupnya? Logikanya, hidup mereka berarti hanya menulis. Inilah yang dinamakan qalam as-sayyal. Dan sekarang, saya menyaksikan istilah tersebut menyemat dalam diri Syaikh Muhammad bin Ali as-Shabuni.
Disampaikan oleh KH. Ihya’ Ulumuddin saat ditemuai di Kediamannya,
PP. Nurul Haramain, Pujon, Malang, Jawa Timur
[Jumat, 06 Rabi’ul Awal 1434 H./18-1-2013 M]

Komentar