Well Come "Bojonegoro"

Setelah sekolah, biasanya gue langsung tidur. Tapi hari ini ada yang beda. Iya, hari ini adalah waktunya buat bunting… eh, salah, ‘hunting’. Dan sasaran daerah yang sedang kami tuju adalah kota BOJONEGORO.
salah satu icon di kota bojonegoro

Menaiki bis yang pengap dengan segala auranya membuat gue tersiksa. Untung ada HP smartfren Andromax, yang dibawa temen gue, buat mainin game. Lama-kelamaan jadi ngantuk juga nih. Tidur ah.

Sampai diterminal Bojonegoro. Gue sama temen gue langsung diserbu sama tukang ojek… kayak buronan. Gue nolak… maaf mas, saya mau dijemput. Nggak tega juga sebenarnya ngeliat raut kecewa mereka. Tapi, mau bagaimana lagi. Gue aja belum tau rumahnya. Sedangkan temen gue, Cuma cengar-cengir nggak jelas!

Setelah cari pulsa, karena pulsanya habis. Si penjemput kami telepon. Dan setelah menunggu beberapa lama, dia datang dengan membawa motor super cantik. Setelah sedikit basa-basi.. kami langsung tancap gas. Motor yang tadinya gagah perkasa karena Cuma dinaiki satu orang, kini kurus kerempeng karena dinaikin kami bertiga.

Sebenarnya tujuan kami adalah sederhana. Yaitu bertanya satu-dua hal tentang perkembangan bisnis ‘mas Udin’ selaku tersangka untuk rubrik Wirausaha, di Majalah Langitan edisi 62. Namun, sesederhana apapun,  haruslah kami jalankan dengan seprefesional mungkin. Biar dapat Hoki. Katanya, sih.
didalam toko mas Udin
Kami sampai di toko. Bertanya satu-dua hal. Foto-foto disana. Narsis, sampai –untung nggak selfie-. Banyak deh. Tapi tujuan kami telah berhasil. Yaitu ‘dapat foto toko-nya’. Iya, itu aja.
Naik motor lagi menuju asrama konveksi mas Udin –keterangan lebih lanjut, tunggu aja Majalah Langitan edisi 62— dimulai dari expedisi berondong pertanyaan. Sampek eksen poto. Selesai, pulang. Gitu doing?! Ia Cuma gitu doing.
mas Udin bersama pegawai

sebelum pulang sefie dulu
Pulang, gue dianter lagi sampek pertigaan Bojonegoro. Turun dari mobil, eh, motor, gue langsung berdiri dengan anggun menunggu bis datang. Mas Udin sedikit mondar mandir kayak orang kebingungan. Nggak tahu juga kenapa. Sampai… ia kemudian menyodorkan tangannya. “mas, ini buat ongkos pulang…” katanya sambil senyum yang tetap tertuang dalam setiap baris giginya. Gue nolek… bener, gue nolak. Hati gue nolak, bukan tangan gue. “nggak usah mas…” mulut gue berbohong… “udahla…”katanya memaksa. Hati gue menjerit… “ASSSIIIIKK….. HOREEEE” sambil ketawa ngakak.

Dia pergi. Mas Udin pergi sambil tetap meninggalkan senyumannya. Kami masi menunggu bis yang datang. Lama… booring. Selfie dulu ah… nggak peduli mau dilihat orang apa nggak. Mumpung masih muda. Kalau udah tua nggak bakalan kita akan ngelakuin kayak gini. Kayaknya, sih.
sefie didepan lampu merah

Akhirnya dapat bis. Tapi turun lagi karena bis yang kita tumpangi bukan jurusan Tuban/Surabaya. Tapi Lombok. Meringis dah.
ini dia bis yang bikin kita 'salah faham"

Dapat juga akhirnya. Kami naik dengan tetap senyum tersungging.didalam bis… rasa itu tetap ada. Rasa untuk selfie… nggak peduli mau dilihat orang apa nggak. 
orang gila lagi narsis
Masa bodoh… Mumpung masih muda. Kalau udah tua nggak bakalan kita akan ngelakuin kayak gini. Kayaknya, sih. Sorry. Copi-paste.

Komentar