Kita mungkin sering mendengar judul diatas, baik secara
lisan mau pun tulisan. Dan memang tidak bisa kita pungkiri kalau hal tersebut
memang terjadi.
![]() |
| Menemukan Sebuah Kesuksesan |
Mulai Mengerti
Bukan seperti itu. Mengartikan hal tersebut dengan presepsi
seperti itu hanyalah akan membatasi subtansi. Kita memang sudah menyetujui
kalau Negara Arab menjadi mulia karena menjadi tempat kelahiran nabi Muhammad Saw.
Kita mengenal berbagai tempat, seperti Yaman, karena banyaknya para ulama’. Atau
dalam lingkup Indonesia, Tuban, misalnya, yang diagung-agungkan dengan sebutan
kota Walinya. Surabaya dengan sunan Ampelnya. Segala hal, jika masih
terkontaminasi oleh hal lain yang baik, maka hal yang pertama pun akan
ketularan juga.
Kenapa saya menyebut “media”?! karena memang bukan tempat
saja yang akan ikut serta dalam pembentukan menjadi mulia. Semisal, kita
membanyangkan dua buah ‘kopiah’. Yang satu punya saya, dan yang satunya lagi
punya ayah kamu. Kita taruh kopiah itu dilantai. Nah, jika kamu disuruh untuk
menendangnya, mana yang kamu pilih?! Sudah ketemu, kan?.
Lagi, saat kamu sedang jatuh cinta, kemudian melihat rumah
orang yang kamu cintai, pasti hati kamu akan bergetar. Tidak seperti rumah
orang yang hati kita biasa saja terhadap mereka.
Bahkan, cerita laila-majnun
yang hingga sekarang tetap menjadi senter utama rujukan per-film-an,
diceritakan kalau majnun menciumi tembok laila. Ia ditanya, “apakah kamu sudah
gila?!”. Majnun menjawab, “aku bukanlah seperti yang kamu lihat. Karena aku
menciumi tembok bukanlah semata karena dzat tembok ini. Tapi lebih dari apa
yang ada didalam temboknya (laila).
Bisa juga dikomparasikan dengan orang beruntung yang
memiliki nasab mulia. Kemuliaan yang turun tanpa mengerti dari mana kemuliaan
tersebut ada.
Sebuah Arti Kemuliaan
Nah, sekarang, jika anda memang termasuk orang mulia karena
suatu hal. Jangan berbangga karena itu bukan dari hasil keringat anda. Itu adalah
sebuah hasil dari “hal/seseorang” yang berada didekat anda. Carilah kemuliaan
yang dihasilkan dari keringat sendiri, maka kebanggaanmu akan sempurna.
Tapi tidak juga kita haruus lari dari dekat dengan hal yang
mulia. Karena kemuliaan suatu hal itu tergantung pada tempatnya, maka jangan
sampai menafikan kemuliaan hal lain. Yang penting, proposional dan kondisional.
Muhammad Ichsan

Komentar
Posting Komentar