Tarim adalah
salah satu kota di Provinsi Hadlramaut yang kaya akan kekhazanahan, baik
kekhazanahan berupa intelelektual, sejarah, peradaban maupun budaya. Bukti
kekhasanahan peradaban dan budaya di kota tersebut adalah banyaknya bangunan-bangunan
kuno yang menjadi identitas khusus Negeri para habaib, di antaranya adalah
Masjid Muhdlor.
Menara dari Tanah Liat
Keunikan
masjid ini adalah bahan bangunan dan menaranya terbuat dari tanah liat. Tidak Heran
jika setiap hari selalu ada peziarah baik domestik maupun ajnabi (foreign)
yang datang ke masjid ini. Tidak ada data valid yang menyebutkan tahun
pendirian masjid ini, yang jelas masjid
yang dibangun oleh syekh Umar Al Muhdlor bin Abdurrahman Assegaf ini tidak melampaui
tahun 833 H/1430 M. Dan sejak awal pembangunan, masjid yang menaranya dijadikan
sebagai simbol ‘aashimah tsaqofah islamiyah (pusat kebudayaan Islam)
pada tahun 2010 M. telah mangalami renovasi berkali-kali seperti perluasan.
Pada awal berdirinya, ukuran masjid ini hanyalah 63x93 kaki dan pada saat ini
ukurannya menjadi 43x54 persegi.
Jika
menziarahi masjid ini, Anda pasti akan terkagum-kagum pada desain dan
ornamen-ornamen yang sangat artistik. Simbol ciri khas bangunan model Yaman begitu
menonjol pada setiap detail arsitektur masjid ini. Dan yang paling mempesona
dari masjid Muhdlor adalah menaranya. Menaranya murni terbuat dari labin, yaitu
tanah liat yang dikeringkan tanpa dibakar dengan kerangka batang pohon kurma,
tanpa menggunakan besi sedikitpun. Menaranya berbentuk persegi empat, berdiri
tegak setinggi 34 meter, dengan lima tingkatan yang semakin ke atas semakin
mengecil di setiap tingkatannya. Menara ini dihiasi oleh ornamen-ornamen yang
memukau, bercatkan kapur putih bersih membuat menara ini tampak gagah nan indah
sehingga menjadi pusat pemandangan angkasa Tarim. Hinga saat ini menara Muhdhor
menjadi menara tertinggi di dunia yang terbuat dari tanah.
Ada cerita
yang tersebar dari mulut ke mulut di
kalangan penduduk Tarim akan menara masjid ini. Konon pada saat pembangunan
menara, tukang batu yang di serahi tugas untuk membangun menara tersebut takut
karna tidak lazim membuat bangunan dari
tanah liat setinggi 40 meter. Kemudian Imam Muhdlor naik ke tiang seraya
membawa manguk yang berisi air, lalu mangkuk dijatuhkan dari ketinggian, ajaib!
Mangkuk tersebut jatuh sampai ke tanah tanpa menumpahkan isinya walau setetes
pun. Lalu beliau berkata kepada tukang batu tersebut: "Ku jamin
keselamatanmu seperti air yang ada di dalam mangkuk ini". Setelah itu, barulah
si tukang berani menjalankan tugasnya dengan mantap dan semangat. Meski sudah
berusia ratusan tahun, keindahan menara masjid Muhdlor tidaklah luntur, bahkan
semakin di makan usia semakin
menampakkan keunikannya sebagai
salah satu kekhasanahan peradaban umat
Islam di kota kecil namun menjadi sumber
ilmu para penuntut ilmu dari belahan dunia.
Di masjid
ini banyak dilaksanakan agenda rutin yang sudah menjadi tradisi di kota Tarim,
seperti maulid nabi yang diperingati pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dan juga khatmil
qur’an di hari-hari tertentu bulan Ramadhan dan juga majlis ta'lim. Pada
mulanya salat Jumat dulu dilaksanakan di masjid ini, sampai akhirnya dipindah
ke masjid Jami’ yang memuat kapasitas orang lebih banyak.
![]() |
| masjid muhdlor Yaman |
Tidak lengkap rasanya kalau tidak sedikit bercerita tentang Syekh Umar Muhdhor
yang nama masjid tadi dinisbatkan padanya.
Beliau
adalah seorang toko ulama Tarim yg tak asing, ketika disebutkan namanya tiada
lagi selain syekh Umar Muhdhor bin Abdurrahman Asseggaf bin Muhammad
Mauladawilah dan seterusnya hingga akhir nasab yang terus bersambung dengan
sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. Cucu Rasululllah SAW. Beliau
dilahirkan di kota Tarim, hadhromaut. Umar kecil tumbuh di lingkungan yang menonjol
sisi keilmuan dan keagamaannya. Sejak kecil sudah tampak kegigihannya dalam
beribadah dan mencari ilmu. Sebagaimana banyak dari saadah Ali Ba’alawy yang
lain ia memulai pendidikan masa kecilnya dengan menghapal Al-Quran, belajar dan
menekuni berbagai macam disiplin ilmu, bahkan beliau sampai menghafal Minhaaj at-Thalibiin,
salah satu kitab fiqih fenomenal yang dikarang oleh Imam Nawawi. Syekh Umar Muhdhor
tidak cukup belajar di kota Tarim saja, -meski kota Tarim terkenal dengan kota
ilmu dan adab- beliau melanjutkan nyantri di berbagai tempat yang lain
seperti Haramain dan Syihr. Dedikasinya sangatlah tinggi terhadap kitab Minhaj Imam
Nawawi, Ihya’ Imam Ghozali, dan tafsir as-Sulamy hingga seakan-akan setiap ibarat
kitab-kitab tersebut hapal di luar kepala. Hal di atas menunjukkan kuatnya
dasaran syariah yang dimilikinya sehingga menjadi timbangan di setiap tindakannya.
![]() |
| Makam Syeikh Mudlor |
Disamping keilmuannya yang tinggi, beliau juga sering melakukan
mujahadah, riyadhoh dan berusah untuk meninggalkan nafsu syahwat. Dalam hal
makanan pun beliau meninggalkan makanan yang diinginkan oleh nafsunya,
sampai-sampai beliau tidak makan kurma lebih dari 30 tahun, terkadang beliau
mengambil kurma tapi hanya sebatas dibolak-balik dan akhirnya dikasihkan ke orang
lain, ketika ditanya akan hal tersebut beliau menjawab: “Kurma adalah makanan
yang paling disukai nafsuku, dan aku telah meninggalkannya karena Allah SWT”.
Pernah juga beliau satu bulan tidak menelan sesuatu apapun selain air putih. Begitulah
beliau berusaha dengan keras untuk memerangi nafsunya hingga terpancarlah
cahaya keilmuan di dalam dirinya, lautan ilmu dan hikmah mengalir deras di
setiap perkataanya membuat banyak orang berdatangan ingin meneguk telaga ilmu
yang mampu menghilangkan dahaga. Di antara muridnya adalah Imam Abdullah bin
Abu Bakar al-Idrus (Imam Idrus al-Akbar) dan saudaranya Syekh Ali bin Abu Bakar
as-Sakran (pemilik Hizb Sakran).
Di samping perhatiannya yang tinggi terhadap urusan ilmu dan mujahadah,
Syekh Umar Muhdhor juga memiliki solidaritas yang tinggi terhadap masyarakat
setempat. Ketika ia menjabat sebagai pemimpin kabilah pada saat itu ia mengeluarkan
statement yang menjaga kemaslahatan warga Tarim, di antaranya beliau
mengajak masyarakat untuk menikahkan perempuan dari keluarga yang kaya dengan
pemuda dari keluarga miskin, begitu pula sebaliknya, sehingga terjalin
keharmonisan dalam hubungan bermasyarakat. Dan dalam urusan mas kawin beliau
menetapkan ukurannya sebanyak 5 uqiyyah saja (sekitar 595 gram) dengan
harapan mendapatkan keberkahan di dalam pernikahan, karena mengamalkan hadits
nabi أبرك النساء أيسرهن مهورا. Hingga saat ini masih banyak yang mengikuti statement
tersebut.
Ketika seorang hamba telah menunaikan seluruh kewajiban dan meninggalkan
larangan otomatis dia telah melakukan langkah untuk mendekatkan diri kepada
sang Pencipta, bilamana ia menambah ketakwaan dan ibadahnya Allah berikan kepadanya
sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, yaitu karamah sebagai seorang wali. Bagai
matahari di siang bolong, karamahnya Syekh Umar Muhdhor tampak jelas di hadapan
masyarakat setempat. Satu ketika beliau bertanya pada seorang tamu: “Makanan apakah
yang kamu inginkan sekarang?” Ia menjawab: “Ruthab” (Ruthab: kurma
matang yang hanya ada di musim kemarau) sedangkan pada saat itu musim dingin,
akhirnya Syekh Umar keluar dan menemui seseorang yang memberikan sejumlah ruthab
dan bilang kepadanya: “Ini makan siang tamu Anda”. Ketika Syekh Umar memberikan
ruthab tersebut kepada orang yang bertamu seketika itu ia tercengang kaget dan
tak mampu mengatakan apapun. Dan beliau mampu berdzikir dengan menyebut nama
Allah Yaa Lathiif sebanyak 1000 kali dalam satu nafas.
Tak henti-henti derajatnya bertambah tinggi disisi Allah SWT seiring
bertambah usia beliau hingga akhirnya ia harus meninggalkan alam yang sempit
ini. Beliau berpulang ke rahmatullah pada hari Senin, tanggal 2 Dzulqa’dah tahun
833 H. dalam keadaan sujud ketika salat Dzuhur. Hal tersebut dikisahkan selesai
beliau mendengar adzan Dzuhur beliau langsung bergegas mengambil air wudhu dan
mungumandangkan adzan disertai iqamah untuk dirinya sendiri setelah itu beliau
bertakbir untuk menunaikan salat Dzuhur. Ketika sujud telah didapati ruhnya
sudah keluar dari jasadnya. Dan masih tetap dalam keadaan sujud hingga
dimandikan. Diantara kalamnya adalah: “Saya tidak makan sesuatu apapun sampai
saya menelannya kecuali saya mengira bahwasannya saya tidak mampu menelannya”
(yakni ia selalu mengingat mati). Dan sering kali beliau mengatakan dalam majelisnya:
“Andaikan saya mengetahui bahwa sujud saya diterima oleh Allah SWT., saya akan
menjamu penduduk kota Tarim dengan gandum dan daging beserta hewan ternaknya”. Nafa’anallahu
bih wa bi ‘uluumih
Oleh: Agus Muhammad Zahid Hasbullah &
Musta’in Romli *)
*) Reporter
Majalah Langitan yang berdomisili di Universitas al-Ahgaff, Mukalla, Hadramaut,
Yaman
Sumber: Majalah Langitan
.jpg)


Komentar
Posting Komentar