Cerpen Islami; Selimut untuk Mbah Kung


“Kita mau ke mana, Mbah?” tanyaku pelan kepada Mbah Kung[1] yang masih menuntun sepeda ontelnya melewati jembatan perbatasan yang sempit. Aku duduk di goncengan belakang, berpegangan pada perutnya yang sudah sangat ramping ketika ia kembali mengayuh sepeda yang sepertinya sudah sama tuanya.
“Kita mau menjenguk Buyut le ....Mbah Kung menjawab dengan senyum merekah, memperlihatkan gigi ompongnya yang dimakan usia.
Setiap hari Kamis sore, Mbah memang selalu ada agenda rutin. Dengan sepeda ontel kesayangannya, ia berpamitan dan selalu menciumku terlebih dahulu. Hingga pada hari ini, Mbah tumben mengajakku pergi bersama.
“Hore ... Mamak mau ketemu Buyut,” teriakku girang. Mbah hanya tersenyum dengan polahku. Namaku sebenarnya Muhammad, namun karena lidah balita, orang-orang di sekitarku malah mengucapkannya dengan Mamak. Mungkin menirukan ucapanku yang masih latah.
“Tapi, kenapa Mamak tidak pernah ketemu Buyut, Mbah?” Tidak menjawab pertanyaanku, Mbah Kung malah senyum-senyum sendiri.
“Sebentar lagi kamu akan ketemu le ... Mbah juga sudah bawa oleh-oleh untuk mbah buyutmu.” Aku malah menjadi kebingungan karena dari tadi aku tidak melihat ada apa pun yang dibawa oleh Mbah.
“Oleh-oleh nopo, Mbah?” tanyaku penasaran.
Masih dengan senyumnya, Mbah seolah tidak memperdulikan rasa penasaranku. “Mbah sudah bawa selimut untuk mbah buyutmu. Ada juga makanan, buah-buahan, pokoknya banyak le ....
“Di mana oleh-olehnya, Mbah?” Aku malah semakin tambah penasaran karena mana mungkin Mbah membawa oleh-oleh seperti itu. Di rumah saja, seingatku makan buah-buahan hanya ketika hari raya, makan daging hanya ketika Idul Adha, mana mungkin Mbah bisa membawa oleh-oleh seperti itu untuk Buyut.
“Di saku Mbah ....” Aku tidak bertanya lagi karena sudah faham. Tentu saja oleh-olehnya tidak kelihatan karena diletakkan di saku Mbah.
~~~
Melewati sawah padi yang berada di samping desa, membuatku ingat waktu dulu Ibu dan Ayah mengajakku panen. Dengan membuat gubuk kecil, biasanya kami seharian mengahabiskan waktu di sana. Shalat di sana, istirahat di sana, makan bersama pun di sana. Ayah biasanya akan mengajak beberapa tetangga untuk membantu panen. Sedangkan aku hanya akan bermain dengan teman-temanku selagi ayah kami sibuk dengan mencabuti tanaman padi. Biasanya kami mengejar katak-katak kecil yang berkeliaran di kanan-kiri genangan air.
Namun masa itu telah lewat. Ayah memilih untuk merantau dan Ibu membuka toko di pasar. Di rumah biasanya hanya ada aku dan Mbah Kung karena Kakak masih sibuk dengan sekolah dan Mbah Buk[2] yang ikut paman ke kota.
Wak Ji .... monggo mampir riyen! Pak Karno dengan lantangnya memanggil Mbah Kung yang celingukan mencari sosok yang memanggilnya.
“Oh ... kamu to, No. Iyo iyo, monggo .... Dengan senyum polosnya Mbah Kung membalas sapaan Pak Karno.
Ampun keseso mawon to, Wak, dengan senyum, Bulek Sri kini ikut menyahuti. Mbah Kung mengalihkan perhatiannya kepada istri Pak Karno yang sedari tadi sibuk membantu suaminya menumbuk padi.
“Iya, ini lo ... saya mau mengajak Mamak untuk nyambangi Abah.”
“Oh, Nggeh mpun menawi ngoten. Atos-atos lo, Wak...” Pak Karno melambaikan tangannya yang masih menggenggam setumbuk padi.
“Do’akan saja ...!
~~~
Sudah lama aku tidak datang ke tempat ini. Paling-paling aku datang bersama seluruh keluarga saat menjelang puasa Ramadan ataupun sore saat menjelang hari raya. Tempat yang menurutku sangat angker. Jika melihat di tivi, katanya tempat ini banyak hantunya. Ada pocong, kuntilanak, gendruwo, dan banyak lagi makhluk halus yang selalu menakut-nakuti.
Aku menggandeng tangan Mbah Kung yang sedari tadi cengingisan karena melihatku ketakutan. Entah karena kasihan atau karena tidak ingin membuatku takut terlalu lama, Mbah Kung akhirnya menggendongku.
“Jangan takut le ... mbah buyutmu ada di sini.”
“Mbah buyut di mana, Mbah?” tanyaku semakin penasaran. Aku mulai berfikir kalau jangan-jangan mbah buyutku adalah salah satu dari makhluk-makhluk menyeramkan yang sering diceritakan di tivi.
“Itu di sana,” jawab Mbah Kung sambil menunjuk sebuah tempat dengan tanah yang menonjol dan dua batu yang berada di kedua sisinya.
Aku hanya diam waktu Mbah bilang seperti itu. Ah ... jangan-jangan mbah buyutku adalah manusia super sehingga hidup di dalam bawah tanah. Jangan-jangan mbah buyutku itu seperti power ranger yang sering aku lihat di tivi-tivi.
Kami mendekati tempat tersebut dan duduk di sampingnya. Dengan senyum merekah Mbah Kung mengusap salah satu batu yang ada di sana. Kemudian membersihkan rumput-rumput yang sudah kering dan membiarkan rumput-rumput kecil yang masih hijau.
“Abah, kabar Abah bagaimana, ini Ahmad bawa oleh-oleh.” Celingukan aku melihat kiri-kanan, dengan siapa Mbah Kung berbicara.
Sebelum aku bertanya, Mbah Kung sudah memberiku sebuah buku kecil berwarna hijau yang sudah sangat lusuh.
“Ini hadiah untuk mbah buyutmu le ... kamu berikan ke mbah buyutmu.”
“Lalu mana selimutnya, Mbah, mana buah-buahan dan makanannya?” Mbah Kung lagi-lagi hanya tersenyum.
“Hem ... cucu Mbah memang pinter,” kata Mbah sambil mengusap kepalaku, lalu menciumku. “Sudah ... itu dibaca saja. Nanti mbah buyutmu juga dapat selimut.Mbah Kung masih saja senyam-senyum.
Tidak ingin terus bertanya, aku membuka judul buku tersebut “Ya ss... sin” dan mengatakannya dengan terbata-bata. Mbah Kung lalu membukakan salah satu halaman yang berisikan bacaan yang sudah aku kenal karena dari dulu, Mbah Kung sudah mengajarkannya.
“Mamak bisa baca ini kan ...?Mbah Kung mengajukan pertanyaan sambil menunjuk bacaan itu.
“Tentu bisa, Mbah ...?” dengan lantang dan semangat aku menjawab. Mbah hanya tersenyum melihat tingkahku.
“Nanti kita baca al-Fatihah dulu, Mamak masih hafal kan?” Aku mengangguk. “Setelah membaca Fatihah, Mamak baca ini ya ... yang banyak, nanti biar selimut, buah-buahan, dan makanan untuk Mbah Buyut juga lebih banyak.”
“Jadi kalau kita baca ini, nanti kita bisa dapat buah-buahan banyak, Mbah?” Mbah Kung malah tertawa mendengar pertanyaanku.
“Iya, tapi kali ini buah-buahannya untuk Buyut, untuk Mamak nanti saja.” Mbah Kung kembali mengelus rambutku. Kemudian dengan tenang memejamkan mata dan mulai berkomat-kamit. Ah, jangan-jangan Mbah Kung ini sedang membaca mantra. Pantas saja, sejak dulu aku membaca bacaan ini tetapi kok tidak mendapat buah-buahan. Ternyata aku tidak tahu mantranya. Nanti setelah maghrib aku akan meminta Mbah Kung untuk mengajarkan mantra itu.
Al-Fatihah...” Suara Mbah Kung tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Cepat-cepat aku mengucapkan hafalan itu agar buahnya nanti bisa cepat datang.
“Nah, sekarang, ini dibaca ya...!Mbah Kung kembali menunjukkan bacaan itu setelah aku selesai dengan hafalanku yang agak lama. Aku pun mulai membacanya dengan semangat.
Bismillahi ar-rahmani ar-rahim. Qul huwa Allahu ahad. Allahu al-shamad. Lam yalid wa lam yuulad. Wa lam yakun lahu kufuwan ahad.
Kubaca bacaan itu berulang kali. Mbah Kung malah membaca bacaan lain. Ada juga bacaan seperti ketika setelah shalat yang sering dilakukan sambil geleng-geleng kepala. Tapi kali ini Mbah Kung tidak menggelengkan kepalanya. Bahkan semakin lama suaranya semakin parau, serak, bercampur isak. Aku memutuskan untuk terus membaca dengan harapan buah-buahan yang kuperoleh untuk Mbah Buyut semakin banyak.
~~~
 Le ... ayo bangun, kita pulang.” Lamat-lamat aku mendengar suara Mbah Kung yang memanggilku entah dari mana. Ah, ternyata aku tertidur. Dengan masih menahan kantuk aku bangun dari tidur dengan posisi memeluk gundukan tanah itu.
“Mana buahnya, Mbah?” Entah mengapa yang pertama kali muncul dalam fikiranku adalah buah yang dijanjikan setelah aku membaca bacaan tadi.
“Hahaha ... setelah bangun tidur kamu masih saja ingat dengan buah. Buah-buahan yang kamu dapat tadi sudah dikasihkan ke Mbah Buyut.”
“Yah ... Mamak kok nggak dikasih, Mbah ...,” kataku dengan nada memelas. Melihatku, Mbah Kung jadi tidak tega. Dengan tatapan kasih sayang, ia mengelus rambutku dan menghela nafas panjang.
“Mamak ... Mamak tau gundukan tanah ini apa?” Aku menggeleng.
“Ini adalah tempat tinggal Mbah Buyut.”
“Kenapa Mbah Buyut tinggal di sini, Mbah?”
“Karena sudah waktunya.” Dahi kecilku mengernyit, tanda bahwa aku tidak faham dengan apa yang diucapkan Mbah Kung. “Besok, Mbah Kung kalau sudah waktunya juga akan tinggal di tempat yang sekarang ditempati Mbah Buyut.”
“Waktu apa, Mbah?”
“Waktu bagi Mbah untuk bertemu buyutmu.”
“Lalu, apa Mamak boleh ikut, Mbah?” Mbah tersenyum. Entah mengapa wajahnya menjadi sendu. Seperti menahan tangis, memikul beban yang tak tampak nyata.
“Mamak masih lama untuk ikut Mbah. Mamak masih punya cita-cita, masih banyak yang belum Mamak ketahui.”
“Lalu, kenapa Mbah pergi ke Mbah Buyut? Kalau Mbah pergi ke Mbah Buyut, apa Mamak bisa ketemu Mbah lagi? O ya, apa Mbah Buyut tadi datang menemui, Mbah?” Bertumpuk pertanyaan aku ajukan ke Mbah Kung yang sekarang tampak mengalirkan air mata.
“Mbah buyut tadi merasa senang karena dikirimi buah-buahan sama cucunya yang pinter,” kata Mbah Kung sambil menyeka air matanya.
Mbah Kung jangan menangis!” Tangan mungilku terdorong untuk mengusap air mata yang berada di pipi Mbah Kung.
“Iya, le... Mbah Kung tidak menangis, kok,” kata Mbah Kung dengan senyum yang dipaksakan.
Mbah Kung jangan tinggalin Mamak! Kalau Mbah Kung ninggalin Mamak, nanti siapa yang nemenin Mamak di rumah?” Kata-kata itu mengalir deras dari mulut mungilku. Sederas air mata Mbak Kung yang kini tangisnya tidak bisa disembunyikan lagi.
Memahami bahwa aku sudah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Mbah Kung, tangisnya pun semakin menjadi. Sengguk demi sengguk Mbah Kung mencoba menahan tangis itu agar tidak pecah.
“Iya, le … Mbah Kung janji tidak akan meninggalkan Mamak.” Air mata Mbah Kung bercucuran mengalir ke pipinya yang keriput. Membentuk bintik-bintik seperti embun yang terkena sinar matahari.
“Lalu, kenapa Mbah Kung pergi menemui Mbah Buyut?” Mendengar pertanyaanku, Mbah Kung terdiam dengan isaknya yang semakin lama semakin parau. Aku hanya diam melihatnya mengusap air mata yang semakin deras.
Mbah Kung belum juga menjawab pertanyaanku. Dalam beberapa saat, suasana di tempat tinggal buyutku semakin lama semakin sepi. Hanya isak Mbah Buyut dan angin yang berhembus pelan menyapu pohon semboja yang sepertinya juga ikut sedih melihat Mbah Kung yang dari tadi mengusap air mata dengan tangan keriputnya. Sementara matahari, semakin lama ia semakin tenggelam hingga sorotnya kini hanya terlihat menempel di ufuk yang merah menghitam.
Le … saat Mbah Buyut masih hidup, Mbah juga seperti kamu.” Mbah mulai mengatakan hal yang tidak aku mengerti. “Mbah Buyut sebelum tinggal di sini juga sering menemani Mbah.” Seketika bicara Mbah terhenti. Diikuti oleh tangis yang masih menyelimuti rona matanya.
Mbah Buyutmu dulu sering mengajak Mbah ke sini untuk menjenguk Ayah, Ibu, dan keluarganya. Dulu, Mbah telah melakukan kesalahan karena tidak pernah mengajak ayahmu ke sini. Hingga ayahmu tidak terbiasa untuk bergi menyambangi Buyut.” Mendengar ucapan Mbah, aku hanya melihatnya dengan polos.
“Nanti, pada saatnya Mbah juga akan tinggal di sini. Allah pada saatnya juga akan memanggil Mbah. Pada saatnya, Allah juga akan memanggil ayah kamu, ibu kamu, dan kakak kamu untuk tinggal di sini bersama Mbah Buyut,” kata Mbah yang kini sedang menatapku.
“Lalu, kalau semuanya pergi, nanti Mamak sama siapa, Mbah?”
“Tentu saja dengan anak-anak Mamak. Pada saatnya, Mamak nanti juga akan menjadi orang tua seperti Mbah,” sahut Mbah Buyut.
“Jadi, nanti Mamak juga bisa nyusul Mbah?”
“Tentu saja. Makanya, nanti kalau seandainya Mbah sudah menyusul buyutmu, jangan lupa mengirimi Mbah selimut dan buah-buahan ya … biar mbah nanti di rumah buyutmu bisa senang mendapat kiriman buah-buahan dari cucunya yang ganteng.” Aku tersenyum dan mengangguk. Mbah sepertinya sudah sedikit tenang. Sambil menciumku ia kemudian menggendong dan membawaku pergi dari tempat tinggal buyutku itu.
~~~
Angin bertiup pelan. Mentari bersinar merona, terbias oleh awan-awan putih halus yang berada di ufuk barat. Aku baca surat Yasin dengan khidmat di depan pusara Mbah Kung yang dulu membawaku ke tempat ini. Jika dulu Mbah Kung Membawakan selimut untuk Mbah Buyut, maka aku sekarang membawakannya untuk Ayah, Ibu, Kakak, Mbah Kung, Mbah Buk, serta Mbah Buyut. Semua keluargaku pun aku bawakan selimut untuk mereka.
Di sampingku, duduk sosok mungil lucu yang dengan terbata-bata membaca surat al-Ikhlas yang aku ajarkan setiap habis maghrib. Aku sengaja mengajaknya kemari untuk mengajarkan hal-hal yang dulu Mbah Kung pernah mengajarkannya padaku.
Iya, sosok mungil itu adalah cucuku yang baru berusia empat tahun. Ia adalah putra pertama dari anak bungsuku yang kini masih mengajar di pesantren dekat Masjid. Sosok yang aku didik agar nanti ketika aku sudah tinggal di tempat Mbah Kung sekarang tidur, ia sudi untuk sekedar menjengukku, dan membawakan selimut untukku.
Le… sudah sore. Ayo kita pulang.”
“Iya Mbah…” Dengan lincah cucuku langsung meraih kedua tanganku, meminta gendong. Aku segera meraihnya dan mencium pipinya yang masih mungil. Dengan segera, kami pun beranjak meninggalkan tempat itu. Tempat besok aku akan bertemu dengan Mbah Kung.



[1] Kakek dalam istilah orang Jawa.
[2] Nenek dalam istilah orang Jawa.

Komentar