Dengan Siapa Kita Berteman?

Jika ada seseorang yang bertanya, bagaimanakah orang itu? Apakah baik jika aku berteman dengannya? maka kita tidak akan mengetahui ‘sejatinya’ dari mulutnya sendiri, tapi tanyalah temannya, karena teman mempengaruhi. Begitulah kiranya, sebuah maksud dari nadzom alaala yang kita pelajari sejak kecil.



Landasan Berfikir Sejak Kecil
Mungkin sudah sering kita dengar bahwa pola pikir seseorang dipengaruhi oleh orang tua, sekolah, dan lingkungan. Orang tua adalah hal yang pertama kali memberikan pola pikir, kemampuan, dan keinginan anak. Sebagai contoh, orang tua yang berlatar belakang agamis, pasti sejak kecil menyuruh anaknya untuk mondok disebuah Pesantren. Jika sejak kecil anak sudah dikenalkan dengan Pesantren, tentu saat ia tumbuh akan muncul benih keinginan untuk ke Pesantren. Begitupula sebaliknya.

Kita juga sering mendengar tentang anak yang mudah putus asa dalam meraih suatu hal. Dalam setiap kasus, sebagian besar hal itu dipengaruhi oleh orang tua dari anak tersebut. Semisal, dari kecil orang tua sudah menanamkan bahwa anak ini mampu, tentu anak tersebut akan berfikir dan berkemauan kuat untuk mampu. Begitu pula sebaliknya, orang tua yang lembek dan terlalu tidak tega saat anaknya berada dalam terjal kehidupan, bukan malah memberi semangat malah menyuruh anaknya untuk mundur atau bahkan sedari kecil sudah menanamkan pola pikir pada anaknya bahwa anaknya tidak mampu.

Menjadi Orang Tua adalah Amanah Luar Biasa

Penulis sendiri juga pernah diajak bicara oleh bapak-bapak yang bercerita tentang anaknya yang tidak mampu mempelajari dua kurikulum (Formal & Non Formal) di sebuah lembaga Pondok Pesantren. Ia bercerita dengan nada yang kurang mengenakkan tentang kegiatan dipesantren yang full day, mulai pagi hingga malam, sehingga waktu istirahat sangat terbatas. Anaknya mengeluh, dengan tidak melakukan tabayyun beliau memulangkan anaknya dan disekolahkan di sekolah formal saja.

Mendengar hal itu, penulis tersenyum, menimpali bahwa setiap manusia diberi bekal yang sama untuk menuntut ilmu, tinggal bagaimana seseorang menggunakannya. Sebenarnya, bisa saja anak bapak untuk menguasai dua kurikulum tersebut, asal dari kecil bapak sudah memberi tahu bahwa anak bapak mampu. Ketika anak bapak mengeluh, bukan malah menyemangati, bapak malah mengamini keluhannya, jadilah anak bapak beranggapan bahwa keluhannya adalah benar. Andai saja bapak mau bersabar sedikit saja untuk memaksanya, tentu anak bapak akan memutar otak dan berfikir bahwa ia bisa dan mampu. Bukankah sudah banyak contoh santri yang tinggal di pesantren tersebut dan ia mampu untuk bertahan. Jika anak orang lain mampu, mengapa anak bapak tidak?

Singkat cerita, penulis saat itu sedang menunggu bis Bojonegoro-Surabaya. Bisnya sudah datang. Penulispun berpamitan.

Sekolah Tempat Belajar
Yang kedua adalah sekolah. Walau menghabiskan sebagian kecil jam dalam sehari, waktu sekolah merupakan waktu yang cukup mempengaruhi pengetahuan. Dengan sekolah kita bisa mengetahui berbagai hal yang indah dan unik. Kita berfikir dan menemukan suatu hal. Disana, selain ilmu pengetahuan, juga dikenalkan dengan ilmu pendidikan dan akhlak. Namun, semua itu juga kembali dari niat setiap siswa sendiri, apakah ia sungguh-sungguh atau tidak, mengamalkan atau tidak.

Lingkungan, Tempat Karakter Berkembang
Lingkungan inilah yang paling banyak mempengaruhi kepribadian seseorang dalam bersikap. Sebagaimana pembahasan diawal, tentang 'sebaiknya dengan siapakah kita berteman?' Tentunya dengan orang-orang yang baik dan berakhlak mulia, karena teman mempengaruhi. Selain itu, dalam sebuah perkumpulan akan membentuk karakter diri kita. Berkumpul dengan orang-orang besar akan menimbulkan perasaan rendah hati, tawadlu', dan betapa rendahnya diri. Berkumpul dengan anak kecil akan menimbulkan sifat senang bergurau, bermain-main, dan lain-lain.

Lingkungan, Tempat Karakter Berkembang

 
Secara lengkap, Hujjatul Islam wabarokatul anam, Imam Al Ghozali dalam kitab Tanbiihul Ghoofiliin, telah menjelaskan tentang perincian teman duduk dan efek yang ditimbulkannya, sebagai berikut:

Siapa saja yang sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah Swt. akan memberinya 8 perkara:

1. من جلس مع الأغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها.
(Barang siapa yang duduk bersama orang-orang kaya, Allah akan menambahkan cinta kepada dunia & semangat untuk mendapatkan dunia).

2. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا بقسمة الله تعالى
(Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahkan perasaan syukur & ridho atas pemberian Allah).

3. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب
(Barang siapa yang duduk dengan para pemimpin/raja, Allah akan menambahkan perasaan sombong & kerasnya hati).

4. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوه
(Barang siapa yang duduk dengan perempuan, Allah akan menambahkan kebodohan & syahwat).

5. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح
(Barang siapa yang duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan lalai & gurau senda).

6.ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب والمعاصي والإقدام عليها،والتسويف في التوبة
(Barang siapa yang duduk dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahkan berani berbuat dosa & kemaksiatan serta mendorongkan diri untuk berbuat maksiat kemudian menunda-nunda akan taubat).

7.ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات
(Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang sholeh, Allah akan menambahkan perasaan cinta kepada amalan-amalan ketaatan).

8. ومن جلس مع العلماء زاده العلم والورع
(Barang siapa yang duduk dengan para ulama', Allah akan menambahkan ilmu & perasaan tidak cinta akan dunia).


Tentu, setelah membaca ini kita bisa memilah dengan siapa sebaiknya kita bergaul. Karena teman adalah orang yang mempengaruhi baik-buruk kita, tentu kita tidak ingin jika salah dalam berteman. Semoga Allah Swt. selalu melindungi dan memberi petunjuk pada setiap apa yang kita lakukan. Amiin.

Komentar