Saat
saya berada di Pasuruan, mengemban tugas untuk wawancara Dzurriyah Habib Hasan
Baharun, Bangil, ada hal menarik yang insya Allah akan saya sampaikan kali ini.
Dalam kesempatan tersebut saya tidak bisa bertemu dengan dzurriyah karena
beberapa hal. Akhirnya, saya dipertemukan dengan Ust. Isma’il, santri sepuh
yang sangat mencintai gurunya, Habib Hasan. Banyak cerita yang telah beliau
sampaikan, dan telah saya tulis juga di Majalah Langitan edisi 58. Jika ingin
tahu sebagian besarnya, silahkan beli, J J J.
![]() |
| Kang Adi, Ust. Isma'il, Saya, dan Habib pengurus Dalwa |
Sebagian
kecil nasihat dari perjalanan kehidupan Habib Hasan yang sangat berkesan bagi
saya adalah sebuah cerita dimana Kiai di umpamakan dengan “Penggarap Sawah”,
Orang Tua yang diumpamakan sebagai pemilik sawah, dan anak sebagai sawahnya. Dalam
kesempatan tersebut, Ust. Isma’il bercerita bahwa sosok Habib Hasan adalah seseorang
yang sangat eman terhadap para santrinya.
“Beliau sangat eman terhadap
santri. Dulu, pernah juga ada salah satu wali santri yang ingin mengambil
anaknya, walau belum pada waktunya. Ia mencoba memberi pengertian pada saya dan
saya jawab seperti yang telah diajarkan Habib Hasan. Hingga ia sedikit marah
dan berkata “Pak ustadz, ini kan anak saya, kenapa kok repot saya
mengambilnya”. Saya berguman “Benar juga..., anaknya orang kok kita
putar-putar”. Akhirnya saya bawa ke Habib Hasan, dan dijawab oleh beliau,
Begini bu, kenapa kok saya
ikut marah, dulu kan saya tidak kenal ibu, apalagi anaknya. Dulu ibu yang
datang kesini, lalu ibu bilang pada saya untuk menitipkan anak ibu sampai
berhasil. Saya menerima itu tidak hanya sekedar mengajar, tapi saya buat antara
saya dan ibu seperti parohan ladang. Ibu membawa benihnya kesini, titip ke
saya. Saya yang punya sawah, dan ini petani-petaninya (sambil menunjuk saya)
yang kerja tiap hari. Bibit itu sudah saya semaikan, saya tanam, kalau kering
saya beri air, saya buang rumputnya, saya beri pupuk dan obat tiap hari. Ibu
tenang-tenang saja dirumah. Sekarang buah padi sudah keluar, tapi belum ada
isinya. Nggak taunya ibu mau ngambil, ya pasti marah petaninya.
Seharusnya tanya dulu, “Pak petani,
bagaimana sudah siap panen belum?”.“Oh, tunggu sebentar bu, belum matang”. Kan
yang dapat ibu, saya hanya dapat sebagian dari buah itu dan itu saya tunggu.
Begini saja, musyawarah dulu butuhnya apa, kalau memang benar-benar perlu bisa
izin”. Akhirnya ibu itu hanya meminta izin untuk anaknya.
Cerita
luar biasa bagi saya, seperti banyak sekali hikmah dari cerita ini. Santri saat
orang tuanya telah menitipkannya pada kiai, sudah seharusnya ia menta’ati semua
yang ddiperintahkan kiai. Jika tidak, maka ia telah durhaka pada kiai dan orang
tuanya dengan melanggar kepercayaan mereka.
Orang
tua, saat anaknya sudah ia titipkan seyogyanya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan.
Menyuruhnya pulang dengan paksa, apalagi jika sampai menyuruhnya boyong langsung.
Bukankan ia telah mengabaikan janji yang telah ia akadkan dulu, saat ia
menitipkan anaknya. Serahkan pada kiai, karena ia lebih tahu waktu kapan
anaknya sudah matang hingga bisa bermanfaat untuk orang lain.
Sebenarnya
masih banyak hikmah dan cerita suritauladan beliau yang ingin saya ceritakan.
Namun, bukan karena terbatasnya ruang. Hem... mungkin cukup untuk kali ini,
sampai jumpa dicerita selanjutnya di Islam Itu Indah: Berbicara tentang Islam,
Berbicara Tentang Cinta!

Komentar
Posting Komentar