Salam
kenal. Nama gue Bulet alias Buletin Tempel. Buletin yang nempel dimanapun gue
singgah. Gue bukan parasit. Tapi benalu dalam siklus simbiosis mutualisme. Gue
lahir karena beberapa hal yang ngebuat gue ingin berevolusi. Dari hampa,
menjadi tercipta.
Visi Gue
Cukup
sederhana. Cuma muncul dihadapan kalian. Setelah itu, membuat kalian semangat.
Kemudian membuat semua batu terjal seolah marmer licin yang nggak akan ngebuat
kalian terpeleset. “emang bisa?!”. Ya... kalau itu, gue juga belum
kepikiran sih, hehe... :P
Misi Gue
Cukup
simpel. Membuat kalian ingin. “udah, gitu doang?!”. Yup, dari ingin
menjadi cita-cita. Semangat membara untuk menorehkan sketsa yang sekian lama
redup dalam lingkaran mati suri. Melukis ‘mantra’ yang bisa ngebuat kalian
bangkit, setelah kematian.
Sebenarnya...
Itu semua
cuma imajinasi. Angan-angan yang gue coba wujudkan. Lingkaran yang gue coba
buat, walau berat. Nggak tau juga kenapa gue muncul dan kenapa juga gue nongol
didepan kalian. Yang gue pengenin, Cuma kalian. Iya, kalian.
Kalian
yang berarti buat gue. Kalian yang ada disini, yang ngebuat gue terus ada, buat
kalian. Di’ain ya, biar gue bisa terus silaturrahim sama kalian. Dalam
pembahasan yang nggak bakalan ngebuat kalian bosen. Bacaan yang bakal ngebuat
kalian tergugah dan tau bahwa gue, bener-bener tulus pengen ngebuat kalian
bahagia. J
“Gue
masih bingung sama lho...!”
Maklum
aja men..., seseorang kenal setelah ia bersama. Kita baru bertemu dan pasti
belum saling mengerti, apalagi memahami. Kita berbeda, tapi memiliki jiwa yang
sama. Aku hanyalah selembar kertas dan kau adalah manusia. Aku bisa bicara
dengan apa yang tergambar pada diriku, tapi kau bisa berbicara dengan apa yang
ada di lidahmu.
Tapi aku bisa
bicara juga kerena bantuanmu. Bisa dibilang, aku adalah kamu. Aku adalah
gambaran dari sketsa jiwamu. Aku adalah luapan yang kau umbarkan dalam setiap
goresan yang bisa menggambarkan hatimu. Kau bisa bicara tanpa aku, tapi tanpamu
aku hanya akan menjadi kertas bisu.
Dan jika
kau fahami, kawan, setiap goresan adalah bermakna. Setiap apa yang kau lukiskan
adalah berharga. Jangan kau sia-siakan luapan hatimu dari apa yang kau dengar.
Tapi datanglah padaku dan hapuslah warna putihku. Karena pena yang kau punya,
bukanlah hiasan untuk sakumu.
“lo lo
lo... kok malah ngebuat puisi... dasar...!”
hehe...
sorry men, kebawa suasana.... maaph yach.... piss.... :V
Woke...
Edisi
selanjutnya kita bakal ngebahas isi dan subtansi keberadaan gue. Dengan bahasa
ala ABG yang bukan bermaksud untuk mempengaruhi atau bahkan mengubah tradisi.
Tapi hanya sekedar bungkus bahasa yang bisa ngebuat semua orang nggak bosan,
suka, dan bahagia. Salam.

Komentar
Posting Komentar