Si Bulet Edisi 1;Ta'arufan


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam kenal. Nama gue Bulet alias Buletin Tempel. Buletin yang nempel dimanapun gue singgah. Gue bukan parasit. Tapi benalu dalam siklus simbiosis mutualisme. Gue lahir karena beberapa hal yang ngebuat gue ingin berevolusi. Dari hampa, menjadi tercipta.

Visi Gue
Cukup sederhana. Cuma muncul dihadapan kalian. Setelah itu, membuat kalian semangat. Kemudian membuat semua batu terjal seolah marmer licin yang nggak akan ngebuat kalian terpeleset. “emang bisa?!”. Ya... kalau itu, gue juga belum kepikiran sih, hehe... :P

Misi Gue
Cukup simpel. Membuat kalian ingin. “udah, gitu doang?!”. Yup, dari ingin menjadi cita-cita. Semangat membara untuk menorehkan sketsa yang sekian lama redup dalam lingkaran mati suri. Melukis ‘mantra’ yang bisa ngebuat kalian bangkit, setelah kematian.

Sebenarnya...
Itu semua cuma imajinasi. Angan-angan yang gue coba wujudkan. Lingkaran yang gue coba buat, walau berat. Nggak tau juga kenapa gue muncul dan kenapa juga gue nongol didepan kalian. Yang gue pengenin, Cuma kalian. Iya, kalian.
Kalian yang berarti buat gue. Kalian yang ada disini, yang ngebuat gue terus ada, buat kalian. Di’ain ya, biar gue bisa terus silaturrahim sama kalian. Dalam pembahasan yang nggak bakalan ngebuat kalian bosen. Bacaan yang bakal ngebuat kalian tergugah dan tau bahwa gue, bener-bener tulus pengen ngebuat kalian bahagia. J

Gue masih bingung sama lho...!”
Maklum aja men..., seseorang kenal setelah ia bersama. Kita baru bertemu dan pasti belum saling mengerti, apalagi memahami. Kita berbeda, tapi memiliki jiwa yang sama. Aku hanyalah selembar kertas dan kau adalah manusia. Aku bisa bicara dengan apa yang tergambar pada diriku, tapi kau bisa berbicara dengan apa yang ada di lidahmu.
Tapi aku bisa bicara juga kerena bantuanmu. Bisa dibilang, aku adalah kamu. Aku adalah gambaran dari sketsa jiwamu. Aku adalah luapan yang kau umbarkan dalam setiap goresan yang bisa menggambarkan hatimu. Kau bisa bicara tanpa aku, tapi tanpamu aku hanya akan menjadi kertas bisu.
Dan jika kau fahami, kawan, setiap goresan adalah bermakna. Setiap apa yang kau lukiskan adalah berharga. Jangan kau sia-siakan luapan hatimu dari apa yang kau dengar. Tapi datanglah padaku dan hapuslah warna putihku. Karena pena yang kau punya, bukanlah hiasan untuk sakumu.
lo lo lo... kok malah ngebuat puisi... dasar...!”
hehe... sorry men, kebawa suasana.... maaph yach.... piss.... :V

Woke...

Edisi selanjutnya kita bakal ngebahas isi dan subtansi keberadaan gue. Dengan bahasa ala ABG yang bukan bermaksud untuk mempengaruhi atau bahkan mengubah tradisi. Tapi hanya sekedar bungkus bahasa yang bisa ngebuat semua orang nggak bosan, suka, dan bahagia. Salam.

Komentar