Si Bulet edisi 2; Dunia Itu Seperti Kita Membeli Tomat

Sebenernya banyak banget yang gue ingin ungkapin di edisi dua ini. Banyak banget pilihan yang ingin gue luapkan. Tapi akhirnya, setelah gue mikir banyak sambil tanya sana-sini sama temen-temen, ada satu hal yang paling berkesan. Ini dia...
Waktu ngaji sore dengan suasana yang agak sedikit mendung, (bukan romantis lo ya...) alhamdulillah gue bisa ngaji setelah 2 minggu mengalami sakit. Luar biasa rasanya. Rindu saat-saat seperti ini.

Cie cie cie... sok sok-an lu. Gaya lu pakek rindu...
“Rese’ lu, emang bener gue rindu juga wek.... :P ”

Waktu itu, Yai menerangkan bahwa sebenarnya, hasil yang kita dapet di dunia ini Cuma bonus aja. Seperti kita membeli tomat dan si penjual memberikan bonus kepada kita beberapa kilo, tapi tentu aja yang udah busuk. Nah, dunia itu seperti bonusannya. Kita mendapatkan tomat yang bagus (yang kita beli secara resmi) di akhirat, sedangkan yang laen (bonusan/komboan), kita dapatkan didunia.
Iya, begitu kiranya keterangan dari Yai dalam sekilas uswah beliau. Begitu sejuk dan menyadarkan setiap hati yang rusak untuk membenahkan diri. Bagi mereka yang acuh, mungkin kalimat ini sudah biasa atau bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang udah nggak relevan untuk diucapkan. Tapi bagi gue, kalimat ini bener-bener bermakna.
Dari situ gue sadar, bahwa ada beberapa hal yang mengharuskan kita untuk dekat sama Yai. 2 minggu berlalu tanpa ada secercah hikmah dari beliau, hati gue rasanya gersang. Banyak hal-hal yang seharusnya gue lakuin dengan ikhlas, malah berbalik untuk dunia. Banyak hal yang sebenernya jika gue lakuin karena akhirat dan berbuah pahala, malah nggak ada niat apapun. Gue sadar bahwa mulai dari sekarang, gue harus bisa menata niat lagi.
Habis itu gue sadar, bahwa nggak selamanya kita bisa kumpul sama Yai. Ada saatnya kita harus pergi dan membuat lingkaran sendiri. Kesempatan untuk menuai hikmah pun nggak akan bisa terulang dua kali. 2 minggu gue jalanin tanpa beliau pun, serasa lama, berat, dan nggak kuat rasanya kalau gini terus. Dan setelah ngaji, gue bertekad bahwa ‘gue nggak boleh ngelewatin kesempatan terbatas ini lagi’.

Se se serius lo sob....
“Yup...


Gue sadar bahwa banyak sekali di dunia ini yang kelihatannya biasa aja, tapi ketika hal itu pergi, seolah hal itu nggak ada dua. Seperti temen-temen dipesantren.

Komentar