Si Bulet edisi 4; Teman Itu Bagaimana Kita Mengerti

Semisal gue tanya sama orang “Kriteria sahabat lo, gimana sih?”. Dan dia jawab....“Kriteria sahabat gue... NGGAK ADA!”.
Loh... kok?”.
“Apa?”.
Harus ada dong...”.
“Jadi mau yang gimana?”.
Ya makanya gue tanya”.
“Hadeh... ini anak, bawel banget. Gini ya... gue tau maksud lo tanya beginian. lo pasti ada masalah kan, sama temen lo...”.
Gue ngangguk pelan sambil ngernyitin dahi. Dia nerusin lagi 'Pesan Moral' yang mau coba dia sampaikan.
“Nah... tu, kan, bener. Gini sob... pertama-tama, lo harus tau kalau semua orang didunia ini diciptakan berbeda-beda. Beda sifat, beda ambisi, beda cita-cita, beda perasaan, dan satu lagi... 'beda wajah'!. Setiap orang punya kesamaan-juga perbedaan. Kesamaan itulah yang bikin kita cocok untuk bersama”.
Gue lagi-lagi ngernyitin dahi ‘Nggak faham’...
“Temen juga gitu... musuhan itu biasa lah... pertengkaran dalam perbedaan, menurut gue nggak masalah... dan gue juga pernah ngalamin, ketika temen gue, gue senyumin, dia ngelengos... gue sapa, dia cuek... gue ajak salaman... dia sembunyiin tangannya didalam sarung...”.
Hah...!” gue kaget.
“Nggak kok... gue bercanda... hahahaha...”
Yah elu... diajak serius juga...”. Kata gue sewot.
Dia cuma meringis... “Hehehe... iya iya... Gini... emang udah sifat asal manusia yang pengen diperhati’in, dimengerti, dan difahami. Gue juga gitu... selalu mencari perhatian dan ambisius untuk mendapatkan sekedar sapaan. Percaya atau nggak, mengakui atau nggak... gue nggak peduli. Nah dari itulah... seorang temen yang belum mengerti arti temen sebenarnya akan bermusuhan.
Definisi bahwa “Teman adalah mereka yang selalu mengerti dan memahami temannya” hanya ia tuntut untuk temannya, bukan untuk dirinya. Ia selalu menuntut perhatian dari temannya tanpa sedikitpun rela berkorban perasaan untuk temannya. Selalu menunggu sapaan dan gengsi untuk memulainya. inilah teman yang gue maksud dengan teman yang nggak tau diri. Tapi bagaimanapun juga... sebagai seseorang yang mengerti hal ini... kita juga tidak boleh me-nafi-kan diri kita, dalam artian ‘kita terjebak dalam ideologi kita sendiri”.
Maksudnya sob... gue belum paham”.
“Ya kita jangan jadi teman yang kolot. Dengan berubahnya sifat teman kita, kemudian apakah kita juga akan berubah?! nggak kan... kita akan tetap merangkulnya, mengulurkan tangan dan menyambutnya dengan senyuman, walau se-menyebalkan apapun dia... dia adalah tetap menjadi sahabat kita”.
“Oh... gitu ya sob... terus apa yang harus gue lakuin?"
"Memulai untuk mengajak dia bicara. Kalau memang lo mengaku mempunyai jiwa pertemanan tinggi... ya lo yang harus memulainya....
Bahkan nih, sob... Imam Syafi’i dalam Sy'ir gubahannya mengatakan “Aku bukanlah seorang yang jika tidak diperlakukan baik oleh saudaranya lalu menampakan celaan atau mencaci kehormatanya. Akan tetapi jika temanku menampakkan ketidak harmonisannya kepadaku, maka justru aku akan berusaha mengembalikan kasih sayangnya dan menyambungnya agar dia senang dan rela lagi. Berbuatlah semaumu kepadaku, aku akan selalu tabah dan bertahan. Aku adalah seseorang yang lebih berhak untuk memejamkan mataku dari kesalahan-kesalahanmu
Seburuk apapun teman lo, tetaplah ia merupakan teman. Makanya sob... sebelum terlambat, sebelum lo nyesel nantinya... udah sono baikan gih..."

Gue cuma bengong... merinding ngeliat dia bicara kayak gitu.

Komentar