Semisal gue tanya sama orang “Kriteria
sahabat lo, gimana sih?”. Dan dia jawab....“Kriteria sahabat gue... NGGAK
ADA!”.
“Loh... kok?”.
“Apa?”.
“Harus ada dong...”.
“Jadi mau yang gimana?”.
“Ya makanya gue
tanya”.
“Hadeh... ini anak,
bawel banget. Gini ya... gue tau maksud lo tanya beginian. lo pasti ada masalah
kan, sama temen lo...”.
Gue ngangguk pelan
sambil ngernyitin dahi. Dia nerusin lagi 'Pesan Moral' yang mau coba dia
sampaikan.
“Nah... tu, kan, bener.
Gini sob... pertama-tama, lo harus tau kalau semua orang didunia ini diciptakan
berbeda-beda. Beda sifat, beda ambisi, beda cita-cita, beda perasaan, dan satu
lagi... 'beda wajah'!. Setiap orang punya kesamaan-juga perbedaan. Kesamaan
itulah yang bikin kita cocok untuk bersama”.
Gue lagi-lagi
ngernyitin dahi ‘Nggak faham’...
“Temen juga gitu...
musuhan itu biasa lah... pertengkaran dalam perbedaan, menurut gue nggak
masalah... dan gue juga pernah ngalamin, ketika temen gue, gue senyumin, dia
ngelengos... gue sapa, dia cuek... gue ajak salaman... dia sembunyiin tangannya
didalam sarung...”.
“Hah...!” gue
kaget.
“Nggak kok... gue
bercanda... hahahaha...”
“Yah elu... diajak
serius juga...”. Kata gue sewot.
Dia cuma meringis... “Hehehe...
iya iya... Gini... emang udah sifat asal manusia yang pengen diperhati’in,
dimengerti, dan difahami. Gue juga gitu... selalu mencari perhatian dan
ambisius untuk mendapatkan sekedar sapaan. Percaya atau nggak, mengakui atau
nggak... gue nggak peduli. Nah dari itulah... seorang temen yang belum mengerti
arti temen sebenarnya akan bermusuhan.
Definisi bahwa “Teman
adalah mereka yang selalu mengerti dan memahami temannya” hanya ia tuntut untuk
temannya, bukan untuk dirinya. Ia selalu menuntut perhatian dari temannya tanpa
sedikitpun rela berkorban perasaan untuk temannya. Selalu menunggu sapaan dan
gengsi untuk memulainya. inilah teman yang gue maksud dengan teman yang nggak
tau diri. Tapi bagaimanapun juga... sebagai seseorang yang mengerti hal ini...
kita juga tidak boleh me-nafi-kan diri kita, dalam artian ‘kita terjebak dalam
ideologi kita sendiri”.
“Maksudnya sob...
gue belum paham”.
“Ya kita jangan jadi
teman yang kolot. Dengan berubahnya sifat teman kita, kemudian apakah kita juga
akan berubah?! nggak kan... kita akan tetap merangkulnya, mengulurkan tangan
dan menyambutnya dengan senyuman, walau se-menyebalkan apapun dia... dia adalah
tetap menjadi sahabat kita”.
“Oh... gitu ya sob... terus
apa yang harus gue lakuin?"
"Memulai untuk mengajak dia bicara. Kalau
memang lo mengaku mempunyai jiwa pertemanan tinggi... ya lo yang harus
memulainya....
Bahkan nih, sob... Imam
Syafi’i dalam Sy'ir gubahannya mengatakan “Aku bukanlah seorang yang jika
tidak diperlakukan baik oleh saudaranya lalu menampakan celaan atau mencaci
kehormatanya. Akan tetapi jika temanku menampakkan ketidak harmonisannya
kepadaku, maka justru aku akan berusaha mengembalikan kasih sayangnya dan
menyambungnya agar dia senang dan rela lagi. Berbuatlah semaumu kepadaku, aku
akan selalu tabah dan bertahan. Aku adalah seseorang yang lebih berhak untuk
memejamkan mataku dari kesalahan-kesalahanmu”
Seburuk apapun teman
lo, tetaplah ia merupakan teman. Makanya sob... sebelum terlambat, sebelum lo
nyesel nantinya... udah sono baikan gih..."
Gue
cuma bengong... merinding ngeliat dia bicara kayak gitu.

Komentar
Posting Komentar