Bismillahirrahmanirrahim...
Dikatakan bahwa waktu adalah hal yang paling berharga. Ia tidak bisa dibeli atau digadai. Dalam hidup, kelak setiap detik waktu yang kita pergunakan akan ada pertanggungjawabannya dihadapan Allah Swt. Untuk itu, seyogyanya kita selalu memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin dengan selalu ingat untuk berdzikir kepada Allah Swt.
Pertanggungjawaban Pasca Kematian
Diriwayatkan dari Abu Darda’ Ra, Rasul ﷺ bersabda :
لَنْ تَزُولَ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ، وَعَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، وَفِيمَا أَنْفَقَهُ
“Tidak tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal: Umurnya; dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan dibelanjakan untuk apa saja” [HR Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir]
Hari berganti hari, pekanpun silih berganti, bulan selalu bergantian dan tahunpun selalu terlewati. Kadang kita merasa setahun bagaikan enam bulan dan satu bulan bagaikan lima belas hari. Sering kita lihat orang yang dulunya masih anak-anak sekarang sudah punya anak bahkan banyak anak dan kita tidak tersadar kalau sudah lanjut usia.
Kiamat yang Semakin Dekat
Waktu sekarang ini berjalan terasa semakin cepat. Sadarkah kita bahwa hal ini adalah tanda-tanda kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْكَذِبُ وَيَتَقَارَبَ الْأَسْوَاقُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ
“Kiamat tidak akan terjadi sampai fitnah semakin tampak, kedustaan semakin merebak, pasar-pasar semakin berdekatan dan zaman (waktu) semakin berdekatan (terasa cepat ).” [HR Ahmad]
Kita sekarang hidup dalam zaman dimana fitnah semakin semerbak. Kebohongan dan kebenaran yang telah bercampur. Pasar-pasar yang sekarang bisa ditemui dimanapun. Bahkan dengan memencet HP, kita sudah bisa memesan apa yang kita inginkan. Jika sudah tahu begini, bahwa kiamat dan ajal kita yang semakin mendekat, masihkah kita akan terus terlena?
Hidup dalam Penantian
Di lain sisi, Hidup yang kita jalani tiada lain adalah sebuah penantian. Menanti lulus kuliah, menanti menikah, menanti kelahiran anak, menanti pekerjaan, menanti gajian, menanti naik pangkat dan pada akhirnya menanti kematian. Allah swt berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang meninggal atau gugur . Dan di antara mereka ada (pula) yang menanti-nanti dan mereka tidak merobah (janjinya) [QS Al-Ahzab:23]
Maka masihkah kita menunda-nunda amal perbuatan baik kita? Sampai kapan kita mau taubat, menyudahi segala maksiat? Sampai kapan kita menunda bersedekah karena “eman” kepada harta yang pada hakikatnya adalah titipan? Lantas bagaimana kalau tiba-tiba kiamat itu datang? Atau paling tidak ajal kita datang? Akankah kita menjadi orang-orang munafik yang mengiba meminta agar diberi kesempatan dan berkata :
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
"Wahai Tuhan-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?" [QS Al-Munafiqun : 10]
Dan ketika ajal telah datang maka setiap manusia akan terbebani dengan LPJ (laporan Pertanggung Jawaban) akan empat hal: Umurnya; dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan dibelanjakan untuk apa saja, sebagaimana hadits utama di atas.
Kembali Memahami Tujuan Hidup
Marilah kita ingat kembali tujuan kita hidup di dunia yang fana ini. Allah SWT berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”.[ QS Adz-Dzariat : 56]
Dari tulisan ONE DAY ONE HADIST karya DR.H.Fathul Bari
Dikatakan bahwa waktu adalah hal yang paling berharga. Ia tidak bisa dibeli atau digadai. Dalam hidup, kelak setiap detik waktu yang kita pergunakan akan ada pertanggungjawabannya dihadapan Allah Swt. Untuk itu, seyogyanya kita selalu memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin dengan selalu ingat untuk berdzikir kepada Allah Swt.
Pertanggungjawaban Pasca Kematian
Diriwayatkan dari Abu Darda’ Ra, Rasul ﷺ bersabda :
لَنْ تَزُولَ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ، وَعَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، وَفِيمَا أَنْفَقَهُ
“Tidak tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal: Umurnya; dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan dibelanjakan untuk apa saja” [HR Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir]
Hari berganti hari, pekanpun silih berganti, bulan selalu bergantian dan tahunpun selalu terlewati. Kadang kita merasa setahun bagaikan enam bulan dan satu bulan bagaikan lima belas hari. Sering kita lihat orang yang dulunya masih anak-anak sekarang sudah punya anak bahkan banyak anak dan kita tidak tersadar kalau sudah lanjut usia.
Kiamat yang Semakin Dekat
Waktu sekarang ini berjalan terasa semakin cepat. Sadarkah kita bahwa hal ini adalah tanda-tanda kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْكَذِبُ وَيَتَقَارَبَ الْأَسْوَاقُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ
“Kiamat tidak akan terjadi sampai fitnah semakin tampak, kedustaan semakin merebak, pasar-pasar semakin berdekatan dan zaman (waktu) semakin berdekatan (terasa cepat ).” [HR Ahmad]
Kita sekarang hidup dalam zaman dimana fitnah semakin semerbak. Kebohongan dan kebenaran yang telah bercampur. Pasar-pasar yang sekarang bisa ditemui dimanapun. Bahkan dengan memencet HP, kita sudah bisa memesan apa yang kita inginkan. Jika sudah tahu begini, bahwa kiamat dan ajal kita yang semakin mendekat, masihkah kita akan terus terlena?
Hidup dalam Penantian
Di lain sisi, Hidup yang kita jalani tiada lain adalah sebuah penantian. Menanti lulus kuliah, menanti menikah, menanti kelahiran anak, menanti pekerjaan, menanti gajian, menanti naik pangkat dan pada akhirnya menanti kematian. Allah swt berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang meninggal atau gugur . Dan di antara mereka ada (pula) yang menanti-nanti dan mereka tidak merobah (janjinya) [QS Al-Ahzab:23]
Maka masihkah kita menunda-nunda amal perbuatan baik kita? Sampai kapan kita mau taubat, menyudahi segala maksiat? Sampai kapan kita menunda bersedekah karena “eman” kepada harta yang pada hakikatnya adalah titipan? Lantas bagaimana kalau tiba-tiba kiamat itu datang? Atau paling tidak ajal kita datang? Akankah kita menjadi orang-orang munafik yang mengiba meminta agar diberi kesempatan dan berkata :
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
"Wahai Tuhan-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?" [QS Al-Munafiqun : 10]
Dan ketika ajal telah datang maka setiap manusia akan terbebani dengan LPJ (laporan Pertanggung Jawaban) akan empat hal: Umurnya; dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan dibelanjakan untuk apa saja, sebagaimana hadits utama di atas.
Kembali Memahami Tujuan Hidup
Marilah kita ingat kembali tujuan kita hidup di dunia yang fana ini. Allah SWT berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”.[ QS Adz-Dzariat : 56]
Dari tulisan ONE DAY ONE HADIST karya DR.H.Fathul Bari

Komentar
Posting Komentar